Ibu adalah surga

(1)

Malam itu aku demikian gelisah. Minyak lampu teplok yang tergantung di bilik kamarku telah habis terserap oleh sumbunya, redup sinarnya. Sebentar lagi gulita. Jantungku terasa makin cepat genjotannya, ketika fikiran membayangkan betapa ngerinya penyiksaan esok hari. Ya, aku akan dibantai atawa tepatnya dipenggal!

Azan subuh terdengar sayup-sayup ditingkahi dengan kokok ayam jago yang bersahut-sahutan dari penjuru kampung. Aku baru saja terlelap, tetapi sepasang tangan kekar telah menarik selimut dan menyeretku keluar kamar.

“Cepat siapkan drumnya… isi dengan air!” perintah si tangan kekar kepada orang di sebelahnya. Aba-aba selanjutnya ditujukan kepadaku.

“Ayo, lepas semua pakaianmu dan masuk ke dalam drum ini,” gertaknya.

Ketakutanku malah menambah dinginnya pagi itu. Aku menuruti perintahnya, masuk ke drum yang tingginya hampir sama dengan tinggi badanku. Gigi-gigiku gemeretak sebagai respon mulai membekunya syaraf-syaraf di sekujur tubuh. read more

Tiket masuk surga milikku sudah sobek

Umrah ke umrah itu menghapuskan dosa yang terdapat di antara keduanya, sedangkan haji mabrur tidak ada ganjarannya selain surga.
~Nabi Muhammad~

Ahlan wa sahlan, selamat datang kembali ke Tanah Air untuk para jamaah haji setelah puluhan hari berada di Tanah Haram. Teriring doaku yang tulus untuk kalian semua, semoga menjadi haji mabrur dan mabrurah. Seperti kata Kanjeng Nabi, haji mabrur ganjarannya surga. Hmm, selamat kalian telah mendapatkan tiket masuk surga, sebuah tempat yang sangat diidamkan oleh umat manusia. read more

Tentang tetangga

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tetangganya”
~Nabi Muhammad~

Saya tak hendak ngrasani pribadi tetangga kiri-kanan, karena perbuatan itu masuk kategori saru, ora ilok. Menjadi tetangga yang baik adalah menjadi kewajiban kita dalam hidup bermasyarakat. Nekjika Anda sekarang tinggal di kota (besar) dan masa kecil Anda dulu tinggal di pedesaan, tentu saja hidup bertetangga sudah beda harmoninya. Tapi kepedulian tetangga masih kita rasakan hingga sekarang, karena bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial.

(1)

Ketika ada seorang yang kesripahan (anggota keluarga meninggal dunia), dan keluarga lainnya sibuk meraung-raung menangisi kepergian orang yang dikasihi, serta merta para tetangga akan datang. Ada saja yang dikerjakan mereka secara spontan. Ada yang menghubungi pak mantri atawa dokter untuk memastikan kalau seseorang itu sudah marhum. Ada yang segera mengambil tenda/terpal atawa apapun namanya plus kursi, lalu mereka tata di depan rumah si marhum. Ada yang menghubungi pengurus RT, mewartakan sebuah kabar duka misalnya lewat pelantang suara di masjid. Ada yang segera membeli perlengkapan penguburan, mengurus tempat pemakaman dan aktivitas lain yang tak mungkin dikerjakan oleh keluarga yang kesripahan tadi.

(2)

Ketika mendengar kabar ada sebuah keluarga yang salah satu anggotanya sakit, para tetangga setidaknya akan menengok ke rumahnya, lalu kalau si sakit perlu dibawa ke rumah sakit ia segera menawarkan mengantar ke RS dengan mobilnya. Ketika si sakit dirawat di rumah sakit, para tetangga akan saling membuat janji kapan bisa membezoek bersama-sama. Mereka ke rumah sakit tidak dengan tangan kosong, bahkan bagi yang sedang sempit rejekinya rela berhutang demi membawakan oleh-oleh bagi si sakit. read more