Rapat-rapatan di hotel

Undangan rapat koordinasi yang dikirimkan oleh Kementerian “Pernganuan” itu saya timang-timang, sambil menatap kalender yang saya tempel di dinding depan meja kerja saya. Rencananya, rapat koordinasi itu dilaksanakan di sebuah hotel berbintang. Undangan semacam ini seringkali saya terima terutama di saat-saat akhir tahun seperti ini.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita kalau Presiden Jokowi mengeluarkan instruksi mengenai larangan bagi pegawai negeri sipil menyelenggarakan rapat di hotel dengan tujuan untuk menghemat anggaran belanja negara yang mengalami defisit. Instruksi ini – kalau ndak salah, berlaku efektif per 1 Desember 2014. Artinya, hingga akhir bulan November masih diperkenankan melakukan rapat-rapatan di hotel. read more

Mendesak Tuhan

Lelaki bertubuh gempal itu tiba-tiba ingat kepada Tuhannya, lalu ia berdoa:

Wahai Tuhan, aku mendesak-Mu untuk menciptakan sebuah keajaiban: aku menjadi presiden! Engkau tentu mengetahui, berbagai upaya telah aku tempuh. Habis sudah harta-bendaku, kering sudah keringatku, remuk-redam tulang belulangku, hanya untuk satu tujuan menjadi pemimpin di negeri yang sangat aku cintai ini. Kini hanya tinggal satu cara saja yakni merayu-Mu bolehlah jika Engkau sudi meluangkan waktu-Mu untuk mengubah takdir: semua orang lupa dan tiba-tiba ingat kalau aku ini presiden mereka. Tentu hal ini sangat mudah bagi-Mu, bukan?

Wahai Tuhan, tidakkah Engkau mengamati sepak terjangku dua tahun belakangan ini. Saban hari aku muncul di televisi mengiklankan diri. Aku sesumbar mirip tokoh panutanku: Amerika kita setrika, Inggris kita linggis. Hampir tak ada waktu luang bagiku untuk memanjakan diri. Aku berkeliling ke pelosok negeri terbang bagaikan garuda. Mengepakkan sayap di angkasa, sementara bayang-bayangku di bawah sana memberikan kesejukan untuk bernaung dari terpaan terik matari.

Wahai Tuhan, apakah masih kurang upayaku di mata-Mu untuk mengubah garis nasibku? Aku sangat mencintai negeriku ini. Aku ingin merengkuh kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat yang kelak aku pimpin. Niatku tidak berlebihan, bukan? read more

E, dhayohe teka

Setahun tinggal di Jogja, kosakata bahasa Jawanya Kika sudah bertambah banyak dan bahkan ia sudah berani mempraktekkan dalam percakapan sehari-hari meskipun bercampur dengan bahasa Indonesia. Ketika di rumah, ia belajar mengenal bahasa Jawa dari percakapan ayah-ibunya atau mendengar lagu-lagu Jawa yang saya putar atau mengintip lewat majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat yang saban seminggu sekali dikirim ke rumah.

Suatu ketika, ia bertanya apa makna tembang ilir-ilir. Saya kesulitan menjelaskan kepadanya secara opo anane kata perkata kata, tetapi langsung satu kalimat dan itu pun hanya tafsirannya saja. Kemudian pada kesempatan itu saya menceritakan kalau anak-anak Jawa sejak dulu mempunyai nyanyian kebangsaaan yang disebut tembang dolanan, di mana ilir-ilir masuk di dalamnya. read more