India #5: Trilogi Siwa Sang Nilakantha

Judul: Kesatria Wangsa Surya • Penulis: Amish Tripathi • Penerbit: Javanica (Cetakan II: Desember 2016) • Tebal: 427 hal

Siwa memandang cakrawala jingga. Gumpalan awan yang melayang di atas Danau Manasarowara baru saja berpencar, memandang panorama matahari terbenam yang mencengangkan. Pemberi kehidupan yang gilang gemilang itu menutup harinya sekali lagi. Menginjak usia kedua puluh satu, lelaki itu tak terlalu sering melihat matahari terbit. Berbeda dengan matahari terbenam yang sering ia saksikan, dan ia berusaha tidak melewatkannya. Pada hari-hari biasanya, ia menyaksikan pemandangan matahari dan danau raksasa berlatar belakang Pegunungan Himalaya nan megah, membentang sejauh mata memandang. Tapi tidak hari itu.

Tubuhnya yang gempal namun lentur bertengger di atas batu cadas yang menjorok ke danau. Luka-luka bekas pertempuran di kulitnya berkilau-kilau diterpa cahaya yang memantul dari permukaan danau. Ia terkenang masa kanak-kanaknya yang riang. Ia menguasai seni melempar batu yang memantul-mantul di permukaan danau. Di sukunya, dialah yang terbaik dalam seni itu: tujuh belas kali pantulan sekali lempar. read more

India #1: Rahwana memilih menjadi Dasamuka

Judul: Rahwana Kisah Rahasia • Penulis: Anand Neelakantan • Penerbit: Javanica (Cetakan II: April 2019) • Tebal: 632 hal

Di novel ini, Rahwana menceritakan kisah kehidupannya menjelang nyawa keluar dari raganya. Hubungan Rahwana dan Sinta dalam novel ini akan berbeda dengan kisah Ramayana yang umum sering kita dengar atau baca. Dalam versi ini, Rahwana sama sekali tidak memiliki nafsu pada Sinta yang tak lain adalah putrinya sendiri.

Bisa jadi, selama ribuan tahun Rahwana ‘difitnah’ betapa jahatnya ia. Kematiannya dirayakan di mana-mana dengan sukacita. Sebetulnya, ia ‘menculik’ Sinta dari Rama demi kebahagiaan putrinya itu.

Rahwana juga digambarkan sebagai ujud raksasa bermuka sepuluh atau Dasamuka dan berlengan dua puluh. Benarkah demikian?

Orang tua mengajarkan kepada kita tentang pentingnya kemampuan untuk mengendalikan diri, mengikis beberapa sifat di dalam diri, dan hanya satu yang boleh tersisa dan dijaga yakni akal budi. Mahabali yang agung menasihati Rahwana untuk mengikis sembilan sifat dalam dirinya: amarah, kebanggaan, kecemburuan, kegembiraan, kesedihan, rasa takut, sifat mementingkan diri sendiri, hasrat dan ambisi. Akal budi adalah satu-satunya yang patut dijaga dan dipertahankan. read more

Kebahagiaan itu datang melalui tujuh sebab

Pertama, kebahagiaan datang lantaran kesaktian atau keampuhan sehingga ditakuti orang lain. Kesaktian dan kekuatan ini bisa diperoleh dengan cara mengurangi makan sehingga hati menjadi tenteram. Pantangan yang harus dihindari adalah merugikan dan mengganggu orang lain.

Kedua, kebahagiaan itu datang karena kepandaian, yakni agar diakui oleh orang lain. Untuk mendapatkan kepandaian ini bisa dimulai dengan cara mengabdi, dapat dicapai dengan cara telaten dan bersungguh-sungguh. Pantangan yang harus dihindari adalah malas dan tak bersemangat.

Ketiga, kebahagiaan datang melalui sarana kekayaan, agar orang-orang mendekatinya. Ini bisa diraih dengan cara bekerja, dan akan tercapai jika dilakukan dengan sabar, pasrah, hemat, teliti dan hati-hati. Pantangan yang harus dihindari adalah rakus dan tamak. read more