Masih ada hujan di akhir Mei

Bulan ini mestinya sudah memasuki musim kemarau, tetapi hujan sesekali masih turun ke bumi. Musim penghujan sering membuat susah gelandangan semacam Bambang Ekalaya. Remaja yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu, hidup menggelandang di jalanan kota, mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah.

Kota Hastinapura bukan tempat yang ramah bagi orang-orang kasta rendah seperti dirinya. Tak jarang, polisi pamong praja mengusir gelandangan dan pengemis untuk keluar kota dan tak jarang memaksa mereka kembali ke hutan. Ekalaya sendiri mendirikan gubug sederhana di tengah hutan, tinggal bersama-sama kaum marjinal yang keberadaannya tidak dikehendaki oleh orang-orang kaya.

Pada suatu hari yang terik, ia berjalan di sekitar alun-alun Hastinapura. Ia menyaksikan Guru Drona sedang mengajarkan ilmu memanah kepada murid-muridnya, yakni para pangeran Hastinapura. Dari kejauhan, Ekalaya melihat gerakan-gerakan yang diajarkan oleh sang Mahaguru. Keahlian memanah Drona telah menarik minat Ekalaya, dan ia berniat untuk berguru kepadanya. Sebagai seorang yang mempunyai derajat rendahan akankah diterima Drona sebagai muridnya? Ekalaya bimbang sejenak. Tetapi karena tekad yang kuat ingin menguasai ilmu memanah, apapun resikonya ia akan tetap menghadap sang Mahaguru.

***

Setiap kali Drona sedang melatih murid-muridnya di alun-alun Hastinapura, Ekalaya hadir di tempat persembunyiannya. Ia mengendap-endap memasuki alun-alun, menunggu Mahaguru selesai memberikan pelajarannya. Ia membulatkan tekadnya untuk menghadap Mahaguru – yang diam-diam ia idolakan itu, untuk memohon menjadi muridnya.

“Beribu maaf Mahaguru, nama saya Ekalaya. Lengkapnya Bambang Ekalaya,” katanya takzim di hadapan Drona.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Drona ketus.

“Belajar memanah, Mahaguru,” jawab Ekalaya sambil menunduk.

Drona mengamati wajah Ekalaya. Ada keseriusan di rautnya.

“Ambil panah dan busur itu. Bidiklah buah mangga yang menggelantung paling tinggi!” perintah Drona sambil menunjuk pohon mangga yang tumbuh di tepi alun-alun.

Ekalaya mengambil busur dan anak panah di dekat kaki Drona, lalu ambil ancang-ancang membidik sasaran yang ditentukan. Mahaguru Drona mengamati gerak-gerik remaja yang kurus kering itu.

Plas!! Anak panah melesat dan mengenai sasaran. Mahaguru Drona terkesima, tak mengira akan kemampuan Ekalaya yang menurut penilaiannya melebihi kepandaian Arjuna, murid kinasihnya.

“Anak muda, sayang seklai aku tak bisa menerimamu sebagai murid. Kau bukan golongan bangsawan, yang bisa belajar di Hastinapura ini. Cukup jelas?!” ujar Drona meninggalkan Ekalaya yang berdiri mematung.

Dari mata batinnya, Drona tahu kalau Ekalaya akan menjadi ksatria pilih tanding. Namun, karena ia sudah kadung janji kepada raja Hastinapura tidak akan menerima murid selain dari Pandawa dan Kurawa.

Ekalaya masih berdiri mengikuti langkah-langkah Mahaguru yang memasuki keretanya. Entah, barangkali langit tengah berduka atas penolakan Drona menerimanya sebagai murid, hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. Tidak, aku tidak boleh putus asa. Aku akan belajar memanah secara ototidak, di depan Mahaguru Drona.

Hari berikutnya, Ekalaya mencari alang-alang kering dan mencampurnya dengan tanah lempung. Jemarinya lentur membentuk sebuah patung yang mirip dengan sosok Mahaguru Drona.

Aku akan belajar memanah di sini, di depan Mahaguru Drona. Ekalaya  tersenyum pada patung Drona, hasil karya tangannya.

Begitulah, setiap hari ia belajar memanah di depan patung Drona. Sebelum dan setelah selesai berlatih ia selalu memberikan hormat kepada Drona imajinernya. Saat berlatih ia merasa seperti diawasi dan dibimbing oleh Drona. Ia terus berlatih dan tanpa terasa sudah dua belas bulan dilaluinya. Dari awal musim kemarau menuju awal kemarau tahun berikutnya.

Kini saatnya aku menghadap Mahaguru di Hastinapura, untuk menunjukkan kepadanya kemajuan kemampuanku dalam ilmu memanah.

Akankah semudah itu ia akan bertemu Drona? Alam baru saja memberi tanda kepada Ekalaya, masih ada hujan di akhir Mei.

(Visited 7 times, 1 visits today)