Dia Naik Haji dengan Ilmunya

Dalam artikel-artikel sebelumnya saya sering menceritakan Ustadz Asnoor. Dia ini teman satu rombongan ketika ibadah haji tahun lalu. Usianya tiga atau empat tahun di atas saya. Di Tanah Haram sana, saya banyak menggali ilmu agama darinya.

Saya dan dia semakin akrab ketika di Arafah, semalaman kami berdiskusi sampai mata terpejam. Malam itu dia menceritakan pengalamannya sampai bisa berada di Tanah Haram.

Dia bekerja di sebuah perusahaan BUMN yang cukup sehat di negeri ini. Setiap tahun BUMN ini mampu memberangkatkan 3 orang karyawannya ke Tanah Haram. Sejak tiga tahun lalu, Ustadz Asnoor mengikuti proses seleksi dan baru di tahun ini mendapatkan peringkat pertama, berkat izin Gusti Allah dia lulus mengikuti program naik haji. lanjutkan baca

Menyapa Rasulullah SAW

Ada keistimewaan lain di dalam Masjid Nabawi yaitu makam Rasulullah SAW dan kedua sahabat beliau, Abu Bakar ra dan Umar ra. Dan tentu saja Ar-Raudhah asy-Syarif, yaitu ruangan yang terletak antara rumah Nabi SAW (kamar Aisyah) dan mimbar masjid. Dinamakan Raudhah karena terdapat dalam Hadist riwayat al-Bukhari : “Ruangan yang terdapat antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga”. Di tempat ini selalu ramai dengan jamaah, meskipun di bagian masjid yang lain masih sepi. Semua orang ingin shalat di tempat ini. Dua kali saya berkunjung ke tempat ini.

Di depan makam Rasulullah, saya menyapanya dengan sopan dan lirih sesuai tuntunan yang saya pelajari : “Semoga salam sejahtera, rahmat Allah dan berkah-Nya terlimpah kepadamu wahai Nabi (Muhammad)”. lanjutkan baca

Selendang Wangi Kesturi

Di dalam Masjid Nabawi. Kakek di sebelah saya penampilannya sangat bersahaja, (maaf) agak kumal. Saya lihat dari raut mukanya, sepertinya dia berasal dari Bangladesh. Ketika saya masuk masjid, dia sudah ada lebih dulu, duduk sambil memutar tasbih dengan tangan kirinya. Ketika selendangnya merosot, baru terlihat oleh saya kalau tangan kakek ini tinggal yang kiri saja. Sepertinya kakek ini tahu kalau saya perhatikan, mata kami saling menatap, dan entah siapa yang memulai kami saling tersenyum. Saya persilakan dia agar agak sedikit menggeser mendekati duduk saya, karena ada jamaah lain yang berdiri di sebelah kanannya akan melaksanakan shalat sunah. Kami sibuk dengan dzikir masing-masing. lanjutkan baca