Arbain

“Alhamdulillah mas, aku sudah sampai di Mekkah, lagi siap-siap umrah nih. Arbain kemarin 100% terlaksana. Selalu mohon doanya ya?”

Pesan pendek tersebut masuk di inbox Nyai C-5 saya semalam, yang dikirim seorang teman yang tahun ini berangkat ibadah haji. Ia ikut Kloter awal dari Jakarta, yang berarti ke Madinah dulu selama delapan atawa sembilan hari baru kemudian menuju ke Mekkah. Cerita tentang ibadah haji tidak pernah membosankan, bahkan sering memicu keinginan untuk bisa hadir di Tanah Haram untuk melaksanakan haji atawa umrah.

Jamaah haji Indonesia selalu dijadwalkan untuk bisa melakukan amalan sunah shalat arbain. Apa itu arbain? lanjutkan baca

Inilah Perjalanan Umrah Kemarin itu

Rombongan umrah kemarin ada 36 orang, 24 orang di antaranya dari Dinas Kesehatan Kab. Tegal. Sesuai jadual yang telah ditentukan oleh pihak Travel kami, rombongan bertemu di Bandara Soekarno-Hatta. Kami berangkat hari Minggu, 20 Juni 2010 menggunakan Saudi Arabian Airlines pada pukul 13.00 WIB dan sampai di Jeddah pada pukul 20.30 waktu KSA (-4 jam dari WIB atau pukul 00.30 WIB). Pesawat sempat transit di Riyadh selama satu jam. Setelah proses imigrasi dan claim bagasi, kami check in hotel di Jeddah, yang lokasinya sepelemparan sandal dengan Mesjid Qishas (sebuah mesjid tempat melaksanakan hukuman qishas). lanjutkan baca

Pak Karim

Lima bulan sebelumnya. Empat puluh tiga berkas proposal renovasi masjid menumpuk di meja kerja saya, untuk mendapatkan rekomendasi supaya bisa diedarkan ke para calon donatur. Disposisi saya: sementara tolak, prioritas desa sekitar! Ya, lokasi masjid yang akan renovasi tersebut bukan di wilayah desa di mana kantor saya berada.

~oOo~

Di Mina, malam kedua. Di dalam tenda kami tidur berdempet-dempetan. Teman tidur sebelah kanan saya namanya Pak Karim (bukan nama sebenarnya). Menjelang mata terpejam kami saling berkenalan dan ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya sampai pada pembicaraan mengenai pekerjaan kami. Pak Karim menceritakan bahwa dia penjual tahu sumedang di salah satu Rest Area tol Jakarta – Cikampek. Saya amati wajahnya, kenapa saya tidak ingat wajah ini padahal saya beberapa kali membeli tahu plus lontong di warungnya ketika berangkat ke kantor saya. lanjutkan baca