Pecinta Allah yang sejati

Pengajian bakda isya malam Rebo Kliwonan secara rutin diisi oleh Kyai Budi, seorang alim yang umurnya unda-undi dengan usiaku. Kedalaman ilmunya jeru banget. Ilmu yang disampaikan mudah dicerna, apalagi bagi manusia semacam diriku yang punya tingkat kemudengan di bawah rata-rata. Makanya, aku tak pernah absen hadir di pengajiannya.

“Ketika Allah menciptakan umat manusia, semuanya mengatakan mencintai-Nya. Maka Dia kemudian menciptakan kesenangan-kesenangan duniawi, dan sembilan per sepuluh dari mereka segera meninggalkan-Nya, sehingga yang tersisa hanya sepersepuluhnya,” ucap Kyai Budi tanpa jeda.

Aku mulai mencerna kalimat tersebut. Berapa orang yang tersisa ya? Belum kelar menghitung, terdengar kalimat Kyai Budi selanjutnya.

“Kemudian Allah menciptakan kemegahan dan kenikmatan surga, dan sembilan persepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu meninggalkan-Nya,” lanjut Kyai Budi setengah tersenyum. read more

Rindu benci Drupadi kepada Karna

Pagi itu, suasana di alun-alun Kerajaan Pancala sudah mulai riuh rendah. Umbul-umbul dan aneka bunga menghiasi setiap sudut lapangan. Rakyat pun mulai berdatangan untuk menyaksikan hajat besar yang dibuat oleh Raja Pancala. Hari itu Drupada – Raja Pancala tengah mencari menantu. Ia sedang mencari suami untuk anak perempuannya nan jelita, Drupadi.

Sengaja ia menyebarkan undangan ke negeri-negeri tetangga, dan hanya seorang ksatria tangguh yang ia cari sebagai calon menantu. Ksatria yang kelak dapat melindungi Drupadi. Ada belasan ksatria yang mendaftarkan diri mengikuti sayembara yang diadakan oleh Raja Pancala. Sayembara? Iya.

Dalam hati kecilnya, Drupadi tidak suka dengan cara yang dilakukan ayahnya dalam mencari menantu. Sungguh ia tak rela, sebagai obyek yang disayembarakan. Namun ia tak punya pilihan selain manut kepada keinginan ayahnya.

Sayembaranya sederhana saja. Ada sebuah busur dan anak panah super besar dan berat diletakkan pada sebuah panggung. Ksatria yang bisa mengangkat busur kemudian melepaskan anak panah tepat di tengah sasaran yang ditentukan, ksatria tersebut yang akan ditetapkan sebagai pemenangnya. read more

76 | Ketika ibu tanpa bapak

Hari ini hari ulang tahun ibu. Kurang dari sebulan lalu, bapak berangkat duluan menghadap-Nya. Meskipun selalu tanpa perayaan apapun, ulang tahunnya kali ini tanpa ada bapak yang menyertainya. Mereka hidup bersama lebih dari 50 tahun, 53 tahun 7 bulan tepatnya.

***

Usia bapak 84 tahun, masih aktif beraktifitas seperti beres-beres rumah, nongkrong di pos ronda, ke masjid atau ambil uang pensiun setiap bulan ke kantor pos. Pada jumat manis, bapak pergi jumatan. Terus makan siang. Sekitar jam 14.30 naik sepeda ke apotik membelikan obat untuk ibu.

Air hangat sudah ibu sediakan untuk mandi sore bapak. Di dapur ibu sibuk memasak untuk makan malam. Ibu selesai memasak dan mencari bapak, karena kamar mandi tiada bersuara lagi. Di kamar tidak ada, di luar rumah pun tidak ada.

Ibu membuka pintu kamar mandi dan mendapati bapak terduduk lemas di lantai kamar mandi. Seorang dokter yang tinggal tak jauh dari rumah memastikan kalau bapak telah pergi sekitar 15 menitan sebelumnya. read more