Mata air awet muda

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #6

Tiba-tiba saja saya teringat kepada sahabat lama ketika kami berdinas di salah satu perusahaan HPH di wilayah Kalimantan Tengah pada kurun waktu 1993 yang lalu. Ia menjadi sahabat sejati di perantauan tengah hutan, ketika senang ataupun sedih. Ia yang lebih senior bekerja di bidang HPH sering memberikan penghiburan kepada saya bagaimana mengobati rasa suntuk ketika ada keinginan keluar dari wilayah hutan.

Terakhir kali saya bertemu dengannya sekitar tahun 1996 di rumahnya yang terletak di sedikit di bawah puncak Gunung Lawu. Dengan berbekal ingatan letak tempat tinggalnya dan dibantu oleh Peta Gugel, H+3 kemarin saya mengunjunginya kembali.

Ketika saya sampai di sekitar desa sahabat saya itu, saya keder. Pangling dengan situasi wilayah tersebut. Apalagi saat itu wilayah puncak Lawu hujan turun sangat deras. Pelan tapi pasti saya pacu Kyai Garuda Seta menelusuri jalan cor-beton yang tidak seberapa lebar itu, untuk mencari rumah yang letaknya di pojokan simpang tiga Desa Balong Jenawi Karanganyar. read more

Lolongan pria (yang mulai) tua

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #5

Kulihat wajahku letih dan tua, tapi aku berusaha tertawa. Anggap hidup hanya sandiwara, yang kan berakhir segera – Lolong [Ebiet G. Ade]

Balai Desa sudah penuh sesak. Malam itu ada acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh Pemuda Desa. Saat itu tahun 1981, saya masih kelas 1 SMA di mana panitia seksi sibuk kebanyakan pemuda di usia SMA. Saya sendiri didapuk untuk laden snack yang telah dibungkus plastik (sepertinya waktu itu belum model kardus).

***

Pensi malam itu sungguh semarak. Pemuda yang mempunyai bakat dan ingin tampil, jauh-jauh hari sudah berlatih agar saat di panggul tidak banyak kesalahan yang dibuat. Salah satu penampil yang saya ingat sampai sekarang namanya mas Kenthut, sosoknya jangkung dan pandai bermain gitar. read more

Buku-buku ibuku

Serial Cerita Pemilik Bulan Juli #4

Saya menyadari kalau ibu suka membaca sejak saya sekolah di tingkat SD dulu. Ia suka berpesan supaya saya atau adik-adik saya pinjam buku di perpustakaan sekolah dan ibu akan ikut membaca buku yang kami pinjam tersebut.

Kebiasaan suka membacanya berlangsung hingga sekarang. Ia tak memilih jenis bacaan, apa pun ia baca. Saat ini ia mengoleksi beberapa buku tebal di lemarinya, yang semuanya telah rampung ia baca. Kami – anak-anak ibu – yang memasok buku bacaan kepadanya.

Ia sendiri tak berpendidikan tinggi, hanya sampai level SMP saja. Ia dulu sekolah di SKP, Sekolah Kepandaian Putri. Tak hanya sekedar membaca, namun ia memahami isi buku tersebut. Satu hal yang membikin saya terkejut ketika ia menceritakan buku-buku Ali Audah seri Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya pada suatu kesempatan. Rupanya khusus untuk buku Nabi Muhammad ia bahkan membaca ulang. read more