Sedah dan Prabarini

Sudah lebih dari enam bulan aku mengerjakan proyek yang diberikan Prabu Jayabaya kepadaku. Entah mengapa ketika memasuki pupuh yang menceritakan kisah asmara Narasoma-Pujawati tak satupun kata bisa aku torehkan dalam lembaran rontal.

Setelah melalui beberapa pertimbangan, aku memberanikan diri menghadap Prabu Jayabaya untuk mengutarakan isi fikiran yang mampat di otakku. Tak biasanya aku segrogi ini memasuki halaman istana Kadiri.

“Sudah sampai di mana kepenulisanmu, Mpu?” Prabu Jayabaya bertanya kepadaku tentang wiracarita Mahabharata yang sedang aku tulis. Ia memberi proyek kepadaku untuk menerjemahkan naskah Mahabharata yang berasal dari Negeri Hindustan ke dalam bahasa Kawi.

“Seharusnya sudah masuk ke bab Narasoma dan Pujawati, Gusti Prabu. Untuk itulah aku menghadap kepadamu untuk minta izin menulis bab tersebut di istana ini,” ucapku kepada Raja Kadiri. “Tentu saja dengan didampingi oleh permaisurimu, Prabarini.” read more

Cemburu rejeki orang

Jika ada orang yang mencemburui rejeki orang lain, sesungguhnya ia sedang melakukan pekerjaan yang sia-sia bahkan telah melukai hatinya sendiri. Pada suatu siang, Jaka Sulaya datang ke meja Mas Suryat untuk mengobati luka di hatinya, gara-gara mencemburui rejeki Cak Kamingsun, yang menurut pengamatannya kok selalu dlidir mendatangi Cak Kamingsun.

“Rejeki itu tidak bisa ditiru, tiap orang sudah punya jatah dan cetakannya, alias sudah ada takarannya,” demikian kata bijak yang keluar dari mulut Mas Suryat mengutip dari para waskita.

“Saya nggak mudeng rembugan sampeyan, Mas!” sergah Jaka Sulaya, sengol. read more

Dongeng Keong Mas

Di media sosialnya, Raden Inu Kertapati menuliskan status: Kita sementara hanya diminta untuk jaga jarak, tapi kenapa engkau pergi meninggalkanku? Sudah seminggu, Inu Kertapati tidak bisa menghubungi kekasih hatinya, Dewi Galuh Candrakirana. Itulah latar belakang mengapa ia menuliskan status seperti itu.

Arkian, Candrakirana sedang menikmati indah dan segarnya pagi di taman keputren Kraton Kediri. Sudah menjadi kebiasaannya, ia merawat tanaman dan bunga-bungaan kesayangannya. Disiramnya tanah yang kering dan dibersihkannya dari daun-daun yang telah menguning.

Di salah satu tanaman yang sedang dirawatnya itu ia melihat seekor keong yang bertengger di dahan. Tanpa merasa jijik, Candrakirana mengambil keong tersebut dan melemparkannya ke aliran sungai yang melintas di taman keraton. Ia tak mau keong itu merusak tanaman kesayangannya. read more