Berbuat baik, jangan nanggung

Dua minggu yang lalu, saya mengantar Lila untuk cetak foto. Karena tukang cetaknya sedang makan siang, kami menunggu di dalam mobil. Tak sampai lima belas menit, tukang cetak datang dan langsung menyapa Lila – waktu ia berada di dalam kios, kalau ban mobil kempes. Lila keluar kios dan memberitahu saya mengenai kondisi ban.

Dan benar saja. Ban depan-kanan kempes pes. Saya lihat secera cermat ada baut yang menancap di sana. Sudah lima tahun usia mBak Pican – nama mobil bercat putih milik kami itu – belum pernah sekalipun ke-ban-an. Baru kali ini, sehingga saya agak kagok saat membuka tempat ban serep.

Pertama, saya ambil dongkraknya dulu. Dongkrak kecil standar bawaan mobil yang cukup ribet jika digunakan. Nah, pada saat saya meletakkan dongkrak di dekat ban yang bocor, datang seorang bapak membawa kotak dongkrak dan menawarkan supaya saya menggunakan dongkrak tersebut. read more

Taif

Desember tahun lalu, saya berkesempatan berada di Taif – kota yang berhawa dingin berjarak sekitar 1,5 jam dari Mekkah. Taif diberkahi sebagai kota yang subur dengan hasil pertanian terutama buah-buahan yang melimpah, selain aneka bunga. Untuk menuju Taif, kita akan melalui jalan berkelok dan menanjak, ciri khas jaringan jalan menuju puncak gunung.

Jika di kota Madinah terdapat Jabal/Gunung Uhud yang kelak dapat kita temui di surga, di Taif akan kita temukan pohon Zaqqum – yang di neraka nanti akan menjadi makanan bagi para penghuni neraka (QS 56: 51-56).

Selain dikenal dengan keindahan dan kesejukan alamnya, Taif juga menyimpan sejarah perkembangan penyebaran agama Islam dan sejarah kehidupan Kanjeng Nabi. Di Taif inilah Kanjeng Nabi pertama kali mendapat tantangan, cemoohan, pengusiran bahkan sempat dilempari batu oleh kabilah Tsaqif, kabilah terbesar di kota Taif. Mutawif/pemandu kami menceritakan itu semua ketika dalam perjalanan Mekkah-Taif. read more

Ike Mese: perang akibat gagalnya diplomasi

Kapal-kapal kami baru saja meninggalkan Pelabuhan Tuban untuk menuju ke negara kami nun jauh di sana, Kekaisaran Mongol. O iya, perkenalkan nama saya Meng Khi, asisten pribadi Jenderal Ike Mese salah satu dari tiga pemimpin ekspedisi Mongol ke Tanah Jawa.

Saya sendiri pernah datang ke Tanah Jawa, sekitar 3 tahun yang lalu. Saya mendapatkan titah khusus dari Kaisar Kubilai Рia terkenal dengan sebutan Kubilai Khan, untuk datang ke Tanah Jawa menyampaikan pesan Kubilai Khan untuk raja Jawa. Kejayaan Kerajaan Singasari yang dipimpin oleh Kertanegara terdengar sampai ke telinga Kubilai Khan, sehingga ia ingin menaklukan Singasari ke bawah duli Khan Agung kami tersebut.

Tapi apa daya, pesan yang saya sampaikan mendapatkan penolakan dari Kertanegara. Lihatlah wajah saya. Hidung saya tidak utuh, telinga kiri buntung. Semua itu ulah dari Kertanegara, ketika saya sampaikan pesan Kubilai Khan supaya tunduk dan takluk kepada Kekaisaran Mongol dengan cara memberikan upeti rutin saban tahunnya. Ia marah dan mengiris hidung dan telinga saya. read more