Bersahabat dengan saraf kejepit

Sambungan dari artikel: Penyempitan diskus L 4/5 suspect HNP

Karena rasa penasaran saya untuk mengetahui penyebab pegal-pegal yang tidak karuan rasanya itu, semua proses pemeriksaan dari dokter saraf saya turuti. Saya melakukan tes EMG (Elektromiografi) yakni teknik yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi saraf dan otot dengan cara merekam aktivitas listrik yang dihasilkan oleh otot skeletal. Tes ini digunakan untuk mendiagnosis kelainan otot dan saraf.

Setelah dilihat hasilnya saya mesti jalani pemeriksaan MRI. Hadueh. Saya mesti mem-budget-kan dulu untuk bisa MRI, karena biayanya lumayan mahal.

Seumur-umur baru pertama kali saya melakukan pemeriksaan MRI. Prosedurnya mirip-mirip kalau akan dilakukan tindakan operasi besar, mesti menandatangani surat pernyataan (antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan). Setelah membaca hasil MRI,  dokter merujuk saya ke dokter spesialis bedah orthopedi (tulang belakang). Hadueh lagi.

Kali ini saran tersebut belum saya turuti, sebab saya belum mengenggam nyali untuk operasi. Hati saya masih gamang untuk tindakan operasi. Untuk sementara saya akan bersahabat dulu dengan saraf kejepit. read more

Pecinta Allah yang sejati

Pengajian bakda isya malam Rebo Kliwonan secara rutin diisi oleh Kyai Budi, seorang alim yang umurnya unda-undi dengan usiaku. Kedalaman ilmunya jeru banget. Ilmu yang disampaikan mudah dicerna, apalagi bagi manusia semacam diriku yang punya tingkat kemudengan di bawah rata-rata. Makanya, aku tak pernah absen hadir di pengajiannya.

“Ketika Allah menciptakan umat manusia, semuanya mengatakan mencintai-Nya. Maka Dia kemudian menciptakan kesenangan-kesenangan duniawi, dan sembilan per sepuluh dari mereka segera meninggalkan-Nya, sehingga yang tersisa hanya sepersepuluhnya,” ucap Kyai Budi tanpa jeda.

Aku mulai mencerna kalimat tersebut. Berapa orang yang tersisa ya? Belum kelar menghitung, terdengar kalimat Kyai Budi selanjutnya.

“Kemudian Allah menciptakan kemegahan dan kenikmatan surga, dan sembilan persepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu meninggalkan-Nya,” lanjut Kyai Budi setengah tersenyum. read more

Rindu benci Drupadi kepada Karna

Pagi itu, suasana di alun-alun Kerajaan Pancala sudah mulai riuh rendah. Umbul-umbul dan aneka bunga menghiasi setiap sudut lapangan. Rakyat pun mulai berdatangan untuk menyaksikan hajat besar yang dibuat oleh Raja Pancala. Hari itu Drupada – Raja Pancala tengah mencari menantu. Ia sedang mencari suami untuk anak perempuannya nan jelita, Drupadi.

Sengaja ia menyebarkan undangan ke negeri-negeri tetangga, dan hanya seorang ksatria tangguh yang ia cari sebagai calon menantu. Ksatria yang kelak dapat melindungi Drupadi. Ada belasan ksatria yang mendaftarkan diri mengikuti sayembara yang diadakan oleh Raja Pancala. Sayembara? Iya.

Dalam hati kecilnya, Drupadi tidak suka dengan cara yang dilakukan ayahnya dalam mencari menantu. Sungguh ia tak rela, sebagai obyek yang disayembarakan. Namun ia tak punya pilihan selain manut kepada keinginan ayahnya.

Sayembaranya sederhana saja. Ada sebuah busur dan anak panah super besar dan berat diletakkan pada sebuah panggung. Ksatria yang bisa mengangkat busur kemudian melepaskan anak panah tepat di tengah sasaran yang ditentukan, ksatria tersebut yang akan ditetapkan sebagai pemenangnya. read more