India #6: Mahakurawa

Judul: Mahakurawa | Parwa I: Cakra Manggilingan (502 hal) | Parwa II: Kaliyuga (651 hal) • Penulis: Anand Neelakantan • Penerbit: Javanica (2019)

Ada ratusan atau bahkan mungkin ribuan versi kisah Mahabharata, dan versi yang paling saya suka adalah Mahakurawa, kisah Mahabharata dari sudut pandang Kurawa. Saya meyakini, sejahat-jahatnya orang, ia masih memiliki sisi baik sebab hati nurani yang ada di setiap orang akan menuntunnya untuk berperilaku atau bersikap baik. Kurawa yang dalam kisah-kisah pewayangan Nusantara mendapatkan cap sebagai pihak yang hitam, dan Pandawa sebagai pihak yang putih. Sebaik-baiknya Pandawa, mereka juga memiliki sifat-sifat buruk.

Pandawa sengaja menggunakan panggilan “Dur” untuk sebagian sepupunya yang masuk klan Kurawa, seperti Suyudana menjadi Duryudana, Susasana menjadi Dursasana atau Susilawati menjadi Dursilawati. “Dur” berarti orang yang tak mampu mengendalikan kekuasaan atau kekuatan. Sabaliknya, Suyudana adalah seorang pangeran yang begitu jujur, pemberani, punya kemauan diri, dan sanggup memperjuangkan apa yang diyakininya. Ia juga tak pernah percaya kalau para Pandawa merupakan keturunan dewata. read more

Katak berenang di air hangat

Dalam hitungan belasan bulan, Mas Suryat memasuki masa purna tugas alias pensiun. Rencana yang sudah setengah matang, ia akan menikmati masa pensiun dengan membuka toko kelontong di dekat sebuah masjid ngiras pantes sekalian bantu-bantu pekerjaan marbot masjid tersebut.

Pada suatu hari, melalui akun yang ia pasang di jaringan profesional terbesar di dunia di internet itu, ia mendapatkan sebuah tawaran yang menggiurkan, yang bisa membuyarkan keinginan luhurnya menikmati masa pensiun seperti yang diuraikan di atas itu.

Segera saja ia curhatkan ke sahabat kentalnya, Mas Kandam, yang sudah tiga tahun lalu pensiun dan sekarang menjadi salah satu eksekutif di sebuah perusahaan multinasional. read more

India #5: Trilogi Siwa Sang Nilakantha

Judul: Kesatria Wangsa Surya • Penulis: Amish Tripathi • Penerbit: Javanica (Cetakan II: Desember 2016) • Tebal: 427 hal

Siwa memandang cakrawala jingga. Gumpalan awan yang melayang di atas Danau Manasarowara baru saja berpencar, memandang panorama matahari terbenam yang mencengangkan. Pemberi kehidupan yang gilang gemilang itu menutup harinya sekali lagi. Menginjak usia kedua puluh satu, lelaki itu tak terlalu sering melihat matahari terbit. Berbeda dengan matahari terbenam yang sering ia saksikan, dan ia berusaha tidak melewatkannya. Pada hari-hari biasanya, ia menyaksikan pemandangan matahari dan danau raksasa berlatar belakang Pegunungan Himalaya nan megah, membentang sejauh mata memandang. Tapi tidak hari itu.

Tubuhnya yang gempal namun lentur bertengger di atas batu cadas yang menjorok ke danau. Luka-luka bekas pertempuran di kulitnya berkilau-kilau diterpa cahaya yang memantul dari permukaan danau. Ia terkenang masa kanak-kanaknya yang riang. Ia menguasai seni melempar batu yang memantul-mantul di permukaan danau. Di sukunya, dialah yang terbaik dalam seni itu: tujuh belas kali pantulan sekali lempar. read more