Fakir miskol

Januari minggu ketiga seperti ini, bagi Mas Pries adalah musim paceklik meskipun di luar sana januari bisa diartikan sebagai hujan sehari-hari. Paceklik bukan karena gagal panen, tetapi uang di kantong semakin tipis saja. Bahkan sangat tipis.

Syahdan, Desember tahun lalu perusahaan tempatnya bekerja tidak membagi bonus seperti biasanya. Jangankan bonus, gaji keempat belas tak ada juga. Ia sebetulnya sudah merencanakan akan merenovasi dapur rumahnya dengan bonus yang bakal diterimanya. Tabungan yang tak seberapa besar ia bongkar untuk sekedar nyicil membeli pasir dan semen.

Di tengah pekerjaan konstruksi renovasi dapur ia kehabisan modal, tabungan ludes sementara bonus tak keluar juga. Proyek renovasi dapur berhenti di tengah jalan. lanjutkan baca

Klambine mung kuwi wae

Perhatikan potongan foto saya di atas. Ada yang sama di antara ketiganya, yakni saya selalu mengenakan kaos yang sama padahal momennya berbeda. Ketiga momen tersebut terpaut hitungan bulan, dan ternyata saya suka mengenakan kaos yang itu-itu saja. lanjutkan baca

79 | Sapardi

Nama bapak saya hanya satu kata: Sapardi. Setelah ia menikahi ibu saya, oleh mbahkung (bapaknya ibu saya) ditambahi nama tua Padmowiyoto. Namanya selalu salah dieja oleh guru saya sejak SD dengan Supardi. Nama yang salah ini tertera di buku rapor SD saya, bahkan di Ijazah SD. Untuk menghindari kesulitan di kemudian hari, saya lapor kepada wali kelas 6 supaya ejaan nama bapak saya direvisi.

Waktu itu saya belum punya akta kelahiran, sehingga sebagai bukti kalau nama bapak saya itu Sapardi, bukan Supardi saya menunjukkan KTP bapak saya. Wali kelas 6 kemudian mengganti dengan ijazah yang baru. Ketika di SMP dan SMA, kesalahan terulang kembali. Nama bapak ditulis Supardi. Untungnya, kesalahan hanya ada di buku rapor tidak terulang di ijazah. lanjutkan baca