Papringan belakang rumah

Membaca artikel Nostalgia Papringan-nya mBak Prih, mau ndak mau kenangan di masa kecil dulu muncul di benak ini. Saya ingin ikut bernostalgia pada sebuah papringan yang berada di belakang rumah.

Rumpun bambu yang saya maksud itu bukan merupakan properti keluarga saya, tetapi milik Pakde Wiryo. Papringan jadi pertanda pembatas tanah, tumbuh di pinggir kalen/sungai kecil. Di bawah papringan tersebut menjadi tempat favorit anak-anak untuk beraktivitas dolanan: benthik, kelereng, sarsur kulonan, pasaran, dan sebagainya. Tempatnya sangat sejuk.

Saya ingat, di salah satu sudut ada kuburan kecil, tempat bersemayamnya janin mBokde Wiryo yang lahir miskram. Setiap malam jumat selalu ada kembang setaman yang ditaburkan di atasnya. Kami yang bermain di sana pada waktu siang hari  tak ada rasa takut, tetapi kalau hari sudah malam tak satupun dari kami berani sendirian melewati papringan tersebut.

Waktu kecil kami sangat akrab dengan papringan itu. read more

FC IPA 3, Siapa Berani Lawan?

Saya tidak ingat, kenapa kami dahulu ketika klas 1 dan 2 SMA suka banget main bola. Siapa juga yang mendisain kaos olah raga abu-abu bergambar burung hantu yang sedang memikirkan sebuah hitungan: 1 + 1/3 kalau disusun ke bawah menjadi seperti 1 + 1 = 3. Kemudian di bawah gambar burung hantu tertulis 1 IPA 3. Pada saat kelas 2 dan klas 3, menggunakan kaos olah raga warna kuning – hijau. Dengan kaos-kaos itulah kami suka main bola.

Lapangan yang kami gunakan untuk main bola ada di sebelah barat rumah saya, sekarang sudah diberi nama Stadion 45, dulu lapangan ini terbuka hanya dibatasi tanggul, orang-orang menyebut Lapangan Umum. Kalau pas olah raga di sini, rumah saya sering dipakai sebagai tempat untuk ganti baju atau sekedar minum air putih setelah olah raga. Selain lapangan umum, kami juga menggunakan lapangan Tegalasri (di belakang kantor DPRD). read more

Tanpamu apa jadinya aku

Bocah laki-laki itu malu-malu memasuki ruang kelas. Sekolah Taman Kanak-kanak Siwi Peni, namanya. Bangunannya sederhana, dari gedek – anyaman bambu. O, bukan bangunan sekolahan yang berdiri sendiri namun salah satu ruang di rumah Eyang Sinder yang dijadikan ruang kelas. Bu Kadaryati – anak perempuan Eyang Sinder, yang menjadi guru TK Siwi Peni tersebut.

Jarak rumah bocah laki-laki itu ke TK Siwi Peni hanya sepelemparan sendal belaka. Sebetulnya keberadaan TK Siwi Peni tak asing baginya, sebab saban hari ia bermain di sana meskipun belum menjadi murid TK tersebut. Namun, hari itu sebagai hari pertamanya masuk sekolah. Makanya malu-malu.

Bu Kadaryati – ia disapa dengan sebutan Bu Yati saja, memanggil bocah laki-laki itu segera memasuki kelas dan duduk di kursinya. Ada sekitar lima belas atawa paling banyak dua puluh anak menjadi murid TK Siwi Peni. Semuanya berasal dari kampung yang sama. Mereka tak berseragam dan hanya satu-dua anak yang bersepatu, sedang lainnya bertelanjang kaki termasuk bocah laki-laki itu. read more