Saya masih mendengarkan RRI

Tahun 1980, di ruang sekolah SDN 1 Karanganyar paling ujung. Pak Suparmo berdiri di depan kelas 6 sedang mengajar mata pelajaran IPS. Anak-anak menyimak penuturan Pak Parmo.

“Anak-anak, siapa yang pernah ke Jenawi?” tanyanya kepada murid-murid. Jenawi adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang berada di lereng Gunung Lawu.

“Saya pernah, Pak. Kebetulan Pakde saya rumahnya di sana,” jawab seorang murid laki-laki.

Pak Parmo tersenyum, lalu berujar, “Tahukah kalian, kalau di Desa Balong Jenawi sana pernah terjadi peristiwa bersejarah pada saat agresi militer Belanda tahun 1948-1949? Saat itu, Radio Republik Indonesia yang berada di Desa Balong merupakan perangkat radio yang dilarikan dari Solo adalah satu-satunya RRI di Indonesia yang masih bertahan dan beroperasi. Melalui RRI yang berada di desa Balong itu, kedaulatan negara masih diakui oleh dunia internasional.” read more

Sihir Laskar Pelangi


: mengenang Veris “Mahar” Yamarno

Sejak film Laskar Pelangi diputar pertama kali di layar lebar, baru Minggu 12/10/08 kemarin mendapatkan kesempatan nonton. Mudik lebaran ke Solo kemarin, bolak-balik ke Grand 21 tidak dapat tiket. Saat main ke Djogja, demikian juga. Di Ambarukma Mall, juga full. Di Metmal 21 Bekasi dan di Lippo 21 Cikarang, sama saja, antri karcis mengular, itupun untuk nonton bukan di jam saat antri itu. Akhirnya, berkesempatan nonton di Ciwalk XXI, Bandung, meski mendapatkan kursi deretan kedua dari depan layar. read more

Papringan belakang rumah

Membaca artikel Nostalgia Papringan-nya mBak Prih, mau ndak mau kenangan di masa kecil dulu muncul di benak ini. Saya ingin ikut bernostalgia pada sebuah papringan yang berada di belakang rumah.

Rumpun bambu yang saya maksud itu bukan merupakan properti keluarga saya, tetapi milik Pakde Wiryo. Papringan jadi pertanda pembatas tanah, tumbuh di pinggir kalen/sungai kecil. Di bawah papringan tersebut menjadi tempat favorit anak-anak untuk beraktivitas dolanan: benthik, kelereng, sarsur kulonan, pasaran, dan sebagainya. Tempatnya sangat sejuk.

Saya ingat, di salah satu sudut ada kuburan kecil, tempat bersemayamnya janin mBokde Wiryo yang lahir miskram. Setiap malam jumat selalu ada kembang setaman yang ditaburkan di atasnya. Kami yang bermain di sana pada waktu siang hari  tak ada rasa takut, tetapi kalau hari sudah malam tak satupun dari kami berani sendirian melewati papringan tersebut.

Waktu kecil kami sangat akrab dengan papringan itu. read more