Saya masih mendengarkan RRI

Tahun 1980, di ruang sekolah SDN 1 Karanganyar paling ujung. Pak Suparmo berdiri di depan kelas 6 sedang mengajar mata pelajaran IPS. Anak-anak menyimak penuturan Pak Parmo.

“Anak-anak, siapa yang pernah ke Jenawi?” tanyanya kepada murid-murid. Jenawi adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar yang berada di lereng Gunung Lawu.

“Saya pernah, Pak. Kebetulan Pakde saya rumahnya di sana,” jawab seorang murid laki-laki.

Pak Parmo tersenyum, lalu berujar, “Tahukah kalian, kalau di Desa Balong Jenawi sana pernah terjadi peristiwa bersejarah pada saat agresi militer Belanda tahun 1948-1949? Saat itu, Radio Republik Indonesia yang berada di Desa Balong merupakan perangkat radio yang dilarikan dari Solo adalah satu-satunya RRI di Indonesia yang masih bertahan dan beroperasi. Melalui RRI yang berada di desa Balong itu, kedaulatan negara masih diakui oleh dunia internasional.”

Salah satu murid Pak Parmo yang menyimak penjelasannya adalah saya. Waktu itu, nama RRI sangat familiar di telinga saya dan juga masyarakat kebanyakan sebab tiada hari tanpa mendengarkan siaran RRI. Dan tentu saja, RRI yang saya dengarkan adalah RRI Surakarta.

Waktu itu belum model siaran FM, siaran radio menggunakan gelombang MW dan SW.

Meskipun waktu itu sudah banyak stasiun radio swasta, RRI tetap distel oleh Bapak saya terutama pada saat warta berita (nanti semua radio swasta me-relay siaran RRI) atau pada malam-malam tertentu RRI menyiarkan ketoprak atau wayang kulit semalam suntuk Bapak akan setia berada di dekat radio.

Acara lain yang disiarkan RRI yang masih saya ingat adalah AMKM (Anda Meminta Kami Memutar), Berita Keluarga (informasi mengenai berita duka), serial sandiwara radio tentang KB yang berjudul Butir-butir Pasir di Laut atau acara Forum Negara Pancasila yang diasuh oleh Tedjo Sumarto, SH. Lagu Rayuan Pulau Kelapa menjelang warta berita masih lestari hingga kini.

Dari siaran RRI kita juga mengetahui harga kebutuhan pokok dan sayur-mayur di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Ciwidey, Pasar Angso Duo Jambi, Pasar Induk Kramatjati atau Pasar Sweta Mataram. Bagi penggemar olah raga dan kebetulan tak punya televisi, bisa mendengarkan laporan pandangan mata pertandingan sepak bola atau bulu tangkis. Program-program pemerintahan Pak Harto dengan efektif disosialisasikan melalui corong RRI ini.

Apakah sekarang saya masih mendengarkan RRI? Jawabannya masih. Saya mendengarkan Pro 3 RRI 88.8 FM saat berangkat/pulang kantor. Acara yang saya sukai adalah Suara Perbatasan, yang disiarkan setiap hari pukul 18.00 WIB. Melalui acara tersebut saya dapat mengetahui kehidupan dan seluk beluk masyarakat perbatasan wilayah Nusantara. Tak salah jika RRI mempunyai motto RRI mengawal NKRI.

Dirgahayu 70 tahun RRI. Sekali di udara tetap di udara.

 

(Visited 1 times, 1 visits today)