Menjadi duta nego #3

Lelaki sepuh berbalut jubah serba putih itu tersenyum pada saya, dan kami saling berpelukan. Dua sahabat lama berjumpa lagi.1 Gajah Mada yang selama ini seperti hilang ditelan bumi paska peristiwa Perang Bubat, kini muncul di kapal yang saya tumpangi menuju Tiongkok.

“Ke mana saja kau selama ini, kakang Mada?”

“Aku tidak ke mana-mana. Aku sengaja mundur dari hingar-bingar perpolitikan Majapahit. Biarlah anak-anak muda yang kini menggerakkan Majapahit.”

“Tapi, kenapa kakang Mada muncul di kapal ini? Hendak ke mana?”

“Aku ingin pergi ziarah ke Mongol negeri leluhurku sebelum raga ringkihku ini menyatu dengan bumi.” lanjutkan baca

Menjadi duta nego #2

Arkian, dalam urutanĀ esok-lusa-tulat-tubin atau hari ke empat setelah pertemuan dengan Prabu Wikramawardhana saya pun berangkat ke Tiongkok untuk menjadi duta negoisasi mewakili Majapahit. Kapal yang saya tumpangi berangkat dari Tuban. Kapal semakin menjauhi pantai, saya masih di buritan menyaksikan Majapahit dari arah senja.

Tubuh lelaki tua seperti saya ini sudah tidak tahan terkena angin laut. Maka, saya pun segera masuk ke kabin saya. Kepergian saya ke Tiongkok tidak sendiri, melainkan ditemani oleh dua cantrik yang setia: Kono dan Kene, dan beberapa prajurit pengusung kotak emas yang beratnya hampir empat kuintal tersebut.

“Wedang jahenya diunjuk, Kyaine?!” Kono menawarkan secangkir wedang jahe yang masih panas.

Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. lanjutkan baca

Menjadi duta nego #1

Barangkali sudah hampir lima menit saya menghadap Prabu Wikramawardhana, namun belum juga saya ditanyai olehnya, gerangan apa yang akan disampaikan oleh Raja Majapahit, anak lelaki Hayam Wuruk yang lahir dari rahim Sri Sudewi itu. Sedari tadi saya hanya mampu menatap garis-garis ubin, sesekali melirik jari manis kaki Raja Majapahit yang mempunyai luka yang belum kering benar. Seekor lalat hinggap di sana dan saya ingin mengusir lalat itu, tetapi saya tak ada keberanian.

Sepertinya Prabu Wikramawardhana sedang mempunyai persoalan berat. Sesekali saya mendengar tarikan nafas yang dipaksakan lalu dengan dibuangkan dengan serta-merta. Ya, Majapahit hampir bangkrut. APBN-nya morat-marit akibat Perang Paregreg, sebuah perang saudara yang melumatkan sendi-sendi kehidupan Majapahit. lanjutkan baca