Batu Ratapan Angin

Pada zaman dahulu, di P. Jawa bagian tengah terdapat sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja muda bernama Pangeran Tejomantri. Ia mempunyai seorang permaisuri yang sangat disayanginya yakni Puteri Maruti. Perkawinan mereka sangat harmonis sehingga menjadi teladan rakyatnya.

Arkian, di sebelah tenggara kerajaan, ada telaga yang airnya berwarna-warni, sangat memesona siapa pun yang memandangnya. Uniknya, telaga tersebut terletak di ketinggian pegunungan sehingga untuk mencapai ke sana harus dilakukan dengan berkuda. Pangeran Tejomantri dan Puteri Maruti senang sekali berkunjung ke sana. lanjutkan baca

23 tahun membangun simbol cinta abadi

Kekaisaran Mughal berduka. Permaisuri Arjumand Banu Begum mangkat setelah melahirkan anak ke-14 mereka. Kaisar Mughal Shah Jahan begitu sayang dan cinta kepada permaisuri yang berasal dari Persia itu. Arjumand yang juga dikenal dengan nama Mumtaz ul Zamani meninggal dalam usia 39 tahun.

Pada suatu malam, kira-kira setahun sebelum mangkatnya Arjumand, Shah Jahan mendatangi pembaringan permaisurinya. Kaisar yang kekayaannya tiada terkira itu sangat menyayangi Arjumand.

“Dinda Mumtaz, mintalah sesuatu kepadaku dan aku akan mengabulkan permintaanmu itu.”

“Kanda, saya ingin dibuatkan sebuah makam yang tak pernah disaksikan dunia sebelumnya untuk mengenangnya.” lanjutkan baca

Menjadi duta nego #4

Ada rasa kagum yang luar biasa ketika saya dan rombongan memasuki area Istana Gu Gong, tempat tinggal Kaisar Cheng Tsu. Kekaguman saya bercampur kegumunan setelah menyaksikan betapa megah dan indahnya Istana Gu Gong.

Saya dijadwalkan bertemu Kaisar Cheng Tsu, esok harinya. Saya dan rombongan dijamu dengan sewajarnya sebagaimana penerimaan tamu kenegaraan. Setara, meskipun Majapahit mempunyai kesalahan fatal terhadap pemerintahan Kaisar Cheng Tsu.

“Saya utusan Prabu Wikramawardhana raja Majapahit menghaturkan salam sejahtera bagi Kaisar dan seluruh rakyat Tiongkok.”

Saya membuka percakapan. Kaisar Cheng Tsu mengangguk pelan. Kembali saya berkata dengan sangat hati-hati.

“Kami sangat menyesalkan insiden penyerangan terhadap awak kapal Laksamana Cheng Ho, sebab kami mengira armada kapal Laksamana Cheng Ho akan membantu pihak pemberontak yang tengah kami tumpas. Maaf, rupanya kami keliru. Kedatangan Laksamana Cheng Ho ke bumi Nusantara bukan membawa misi peperangan tetapi misi kebudayaan dan perdagangan.” lanjutkan baca