Cinta Ratu Tourmaline dan Penyair Jalanan

Semenjak Pangeran Jade mangkat di usia muda, tahta Kerajaan Timur Jauh digantikan oleh istrinya yang jelita bernama Ratu Tourmaline. Saking cintanya kepada Pangeran Jade yang telah tiada itu, Ratu Tourmaline selalu bertindak seolah-olah suaminya itu masih ada di sampingnya.

Misalnya ketika menikmati jamuan makan, ia minta protokol istana untuk menyediakan kursi dan piring kosong yang diperuntukkan bagi suaminya. Tak hanya itu dalam pertemuan-pertemuan kenegaraan pun selalu ada kursi kosong di sampingnya. Perilaku lain yang dianggap aneh oleh para kerabat istana yakni Ratu Tourmaline menutup wajahnya dengan cadar.

Cadar yang dikenakan Ratu Tourmaline untuk menutupi kecantikannya. Ia tak ingin ada lelaki lain yang menikmati kecantikannya yang menakjubkan itu dan hanya untuk Pangeran Jade belaka.

Syahdan, terjadi konspirasi jahat oleh musuh di dalam istana untuk menjatuhkan Ratu Tourmaline dari tahtanya dengan cara yang halus dengan meminjam tangan orang lain. Maka, dicarilah seorang penyair jalanan untuk melaksanakan rencana tersebut.

***

Pada suatu pagi ketika Ratu Tourmaline bangun dari tidurnya, ia menemukan sepucuk surat dan setangkai mawar merah di depan pintu kamarnya. Perlahan ia baca tulisan tangan di lipatan kertas putih:

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Ratu Tourmaline bertanya kepada para pengawal siapa yang mengirim setangkai mawar merah tersebut? Tak ada yang tahu. Dan anehnya, Ratu Tourmaline tidak marah malah ia menyimpan kalimat indah itu di dalam hatinya.

Esok, lusa, tulat, tubin, Penyair Jalanan mengirimkan syair indah secara rahasia. Ratu Tourmaline sangat menyukai syair-syairnya dan bahkan diam-diam ia mulai mencintai si pengirim syair.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Memang pada akhirnya Penyair Jalanan menghadap Ratu Tourmaline. Bukankah menjadi hal yang kurang ajar seorang rakyat jelata merayu-rayu Sang Ratu yang menjadi junjungan seluruh negeri, dan harus dihukum sesuai undang-undang kerajaan? Cinta telah menganulir peraturan tersebut, sebab Ratu Tourmaline telah jatuh cinta kepada Penyair Jalanan.

***

Cinta memang tak mengenal status sosial seseorang. Penyair Jalanan yang awalnya mendapatkan tugas untuk membunuh Ratu Tourmaline menjadi lupa, sebab ia sendiri juga mencintai Sang Ratu.

“Pekan depan kita rencanakan minggat dari istana, kekasihku!” Demikian pesan Ratu Tourmaline yang disampaikan kepada Penyair Jalanan.

Seminggu kemudian Penyair Jalanan menjemput Ratu Tourmaline untuk melaksanakan minggat bersama. Penyair Jalanan tidak tahu kalau dalam waktu sepekan itu Ratu Tourmaline mempertimbangkan masak-masak rencana minggat dari istana. Ratu Tourmaline merasa telah mengambil keputusan yang salah, ia lebih mementingkan tugas sebagai ratu di Kerajaan Timur Jauh.

“Aku kecewa padamu, Ratu. Seorang Ratu mestinya tidak boleh berbohong!” Penyair Jalanan menghunus pedang lalu menghunjamkan ke dada Ratu Tourmaline.

“Wahai penyairku, terima kasih engkau telah membunuhku. Jika aku tidak berbohong, pasti engkau tidak mau membunuhku. Sungguh, aku juga mencintaimu.”

Mendengar perkataan Ratu Tourmaline di tengah ajalnya, Penyair Jalanan mencabut pedang dari dada Sang Ratu lalu ia bunuh diri dengan pedangnya itu dan mati bersama dengan perempuan yang sangat dicintainya itu.

Cinta telah membawa mereka ke alam baka.

Note:
Syair di atas dikutip dari sajak-sajak karya Sapardi Djoko Damono