Sepasang rusa dilanda asmara

Ujung Kulon Baluran, pada suatu siang. Sepasang rusa sedang dilanda asmara. Mereka merumput di padang savana nan hijau meluas sejauh pandangan mata. Konon, kalau sedang jatuh cinta semacam itu dunia laksana milik berdua.

Sesungguhnya yang sedang menikmati indahnya savana tak hanya sepasang rusa tersebut. Ada sepasang kupu-kupu yang berkejaran di antara kelopak bunga. Sejenak menyerap nektar bunga yang sedang rasanya, lalu terbang lagi dan hinggap di bunga yang lain yang tak kalah indahnya. Jemari lentik kaki-kaki mereka telah menyatukan putik dan benangsari.

Nun di atas rusa jantan, terlihat sepasang beruk tengah asik saling mencari kutu. Beruk jantan tidur-tiduran di pangkuan kekasihnya sementara jemarinya asik mencari kutu di sekitar perut kekasihnya itu. Beruk betina sanat serius menekuri kepala kekasihnya yang ternyata menjadi sarang para kutu.

Seekor burung parkit terbang dengan terburu-buru, ia memberi tanda bahaya bagi alam di sekitarnya. Dan betul saja, ada seorang pemburu memasuki area savana yang tenteram itu. Semua dalam kewaspadaan tinggi, kecuali sepasang rusa yang tengah dilanda asmara.

Rusa jantan terlambat menyadari kedatangan pemburu. Satu kesempatan yang ia punyai yakni melindungi kekasihnya dari terjangan peluru dari bedil pemburu.

Dorr!!!

Sebutir peluru menembus dada rusa jantan dan ia tersungkur. Rusa betina terkejut. Ia ragu antara harus berlari meninggalkan kekasihnya atau merawat kekasihnya yang mengerang kesakitan.

“Cepat lari masuk hutan kekasihku! Selamatkan dirimu dan buah cinta kasih kita. Sebentar lagi pemburu bakal meledakkan satu peluru lagi ke arahmu!”

Rusa betina menuruti permintaan kekasihnya itu. Ia berlari menyelamatkan diri dan buah hati yang kini berada di dalam kandungannya. Bahkan ia tak sempat melihat jasad kekasihnya diangkat oleh pemburu ke dalam mobilnya.

Ia terus berlari sambil berurai air mata. Tak terasa ia telah masuk ke dalam hutan. Ia tersesat. Ia berusaha keluar hutan untuk bergabung dengan kawanan rusa lainnya, tetapi tak mudah baginya menemukan jalan pintas untuk sampai di pinggir hutan.

Nghrrr…! Eraman dua harimau mengejutkan dirinya yang demikian cepat telah mencegat di hadapannya. Aku tak mau mati sia-sia. Aku harus berlari secepat kaki melompat.

Dua harimau itu merasakan gelagat rusa betina yang akan melarikan diri. Dengan sigap, rusa betina melompati dua harimau itu dan kemudian lari secepat yang ia mampu. Harimau tak kalat gesit, mereka juga mengejar dari arah kiri dan kanan. Beberapa kali tubuh rusa betina hampir tercakar oleh kuku harimau yang runcing dan tajam itu.

Sampailah ia di tepi jurang dengan tubuh keletihan. Dua harimau makin liar dan siap merobek-robek tubuhnya. Tak ada jalan lain baginya.

Rusa betina memutuskan untuk terjun masuk jurang yang sangat dalam.