Kala dan Janma Sukerta

Entah kenapa, sore itu Bathara Guru mengajak Dewi Uma berjalan-jalan. Bukan jalan-jalan di taman kahyangan, tempat bersemayamnya mereka selama ini, suami istri itu menaiki sapi kesayangan Bathara Guru yang bernama Lembu Andini mengitari jagat raya sembari menyaksikan sekar langit di senja hari.

Pada sebuah gugusan awan nan indah, Bathara Guru menghentikan Lembu Andini. Ia turun dari pungggung Andini berwarna putih dan meminta kepada Dewi Uma tetap berada di atas punggung sapi kesayangan para dewa itu. Dengan latar belakang semburat warna merah matahari, Bathara Guru memandangi kecantikan istrinya. Keelokan paras yang sempurna milik bidadari, tentu saja.

Semakin lama memandangi istrinya, timbul birahi Bathara Guru. Ia mengajak bersenggama istrinya saat itu juga, namun Dewi Uma menolak dengan alasan ora ilok, mosok ngonoan kok di tempat umum. Ntar malu dilihat makhluk lain yang kebetulan lewat. lanjutkan baca

Demi cintaku padamu

Pabelan dan Sekar Kedaton tengah bergumul di atas peraduan. Sultan kalap, harga dirinya telah diinjak-injak oleh seorang playboy. Sekar Kedaton lambang kesucian keputren Pajang telah ternoda. Dengan tangan gemetar, Sultan mencabut keris saktinya.

Pabelan tewas seketika. Keris sakti itu telah menancap di dadanya.

Dikutip dari bagian akhir Cinta Playboy Berakhir Tragis

“Demi cintaku padamu, Kakang Pabelan, aku rela menyusulmu!” Sekar Kedaton mencabut keris yang dari dada Pabelan dan secepat kilat ia hunjamkan ke jantungnya. Sekar Kedaton melakukan suduk salira, bunuh diri. Tindakan nekat itu mau tak mau membuat Sultan Hadiwijaya sangat terkejut.

Dengan kemarahan yang tiada terkira, Sultan memerintahkan prajurit untuk membuang mayat Pabelan ke Kali Laweyan. Kemudian ia merumat jasad anak perempuannya untuk segera dikubur di pemakaman keraton. lanjutkan baca

Bremono Kembar

Senja sudah menabrak malam. Kademangan Randusari sunyi sebab tak ada lagi anak-anak yang bermain di halaman rumahnya. Saat senjakala seperti itu pamali berada di luar rumah. Konon, Bathara Kala sedang berjalan-jalan mengincar bocah untuk dijadikan santap malam. Anak-anak patuh terhadap peraturan tidak tertulis seperti itu demi alasan keselamatan.

Di sudut dusun tinggalah sepasang suami-istri yang bernama Ki Bremono dan Nyi Bremani. Sebagai pengantin baru, kesunyian seperti itu sungguh suasana yang ditunggu-tunggu. Namun, malam itu Ki Bremono kudu menunda hasratnya, sebab ada permintaan ganjil dari istrinya.

“Kang Bremono, aku minta madu super yang harus kamu petik langsung dari sarang lebah di dalam hutan. Malam ini juga aku mau meninumnya. Demi jabang bayi kita,” rajuk Nyi Bremani. lanjutkan baca