Retno Dumilah pun manut

Kemonceran Kadipaten Purabaya yang diperintah oleh seorang perempuan yang bernama Retno Dumilah itu membuat Senopati penguasa Mataram ingin menaklukkan Purabaya dalam serangan besar-besaran. Siapa sangka, prajurit Mataram yang terkenal gagah berani itu kalah perang melawan prajurit Purabaya. Tak tanggung-tanggung, Adipati Retno Dumilah sendiri yang menjadi panglima perangnya.

Prajurit Mataram kocar-kacir dan akhirnya mundur teratur kembali ke Mataram. Senapati jengkel betul dengan situasi semacam itu. Ia merasa dipermalukan oleh seorang perempuan. Maka, Senapati mengatur siasat. lanjutkan baca

Gejolak cemburu Pranacitra

ketika ku bertanya
mengapa engkau kirimkan air mata
kepada gurun-gurunku yang terik

ketika ku bertanya
sisi mana yang hendak akan kau jangkau
pelabuhan mana yang hendak kau sandar

sedang rembulan di tanganmu
belum jua membelah malam tuk dibaringkan
pada bantal yang slalu basah
karna air mata tak cukup mengucap cinta

Pranacitra hafal luar kepala lirik lagu “Cemburu” yang biasa dinyanyikan oleh Nino (RAN) feat Raisa di atas itu. Semenjak insiden Anggrek untuk Mendut tempo hari, ia tak pernah bertemu lagi dengan kekasih hatinya itu. Ia rindu bercampur cemburu, cuma kali ini lebih banyak cemburunya. lanjutkan baca

Menakar cinta Jonggrang

Kompleks Candi Prambanan di rembang petang. Saya mencari sudut yang pas untuk mengabadikan candi yang elok tersebut dengan latar belakang langit semburat warna merah matahari kala senja. Cukup waktu bagi saya untuk sekedar ngider di sana, sebab malam harinya saya ingin menyaksikan pentas Sendratari Ramayana.

“Kamu-kah yang bernama Kyaine Guskar, Kisanak?”

Saya menoleh ke arah suara perempuan yang menyapa saya dengan lembut. Saya agak terkejut melihat penampakannya. Perempuan dengan dandanan puteri keraton.

“Jangan kaget, aku Roro Jonggrang.”

“O, maaf. Apakah aku melanggar pamali hingga kamu datang menemuiku?”

Belum sempat Jonggrang menjawab pertanyaan saya, kembali saya berkata, tepatnya bertanya kepadanya.

“Bagaimana kamu tahu namaku?”

Ia tersenyum manis sekali, kemudian ia mempersilakan saya duduk di hadapannya. Saya duduk di bebatuan di samping Candi Brahma. lanjutkan baca