Anggrek untuk Mendut

Sungguh tidak enak menjadi seorang pingitan. Semenjak Tumenggung Wiroguna mengobrak-abrik tempat tinggal Adipati Pragola – tersebab pembangkangan terhadap titah Sultan Agung, kemudian Tumenggung Wiroguno menemukannya berada dalam sekapan Adipati Pragola, kini Mendut seperti burung terkunci dalam sangkar emas.

Nasib Mendut naas betul, terbebas dari Adipati Pragola kemudian terperangkap dalam pingitan Tumenggung Wiroguno. Cuma satu permintaan Tumenggung Wiroguno kepada Mendut: menjadi salah satu selirnya.

Mendut emoh, meskipun berkali-kali telah diiming-imingi dengan gelimang harta. Ia tak silau oleh banda yang ditawarkan oleh si tua bangka Wiroguno. Tak sekedar dipingit, Mendut mendapatkan aneka pelajaran tata-krama kehidupan keraton oleh para abdi dalem Wirogunan.

Hati Mendut kokoh laksana karang, tak mempan oleh rayuan Tumenggung Wiroguno. Mendut memilih menjadi manusia yang bebas merdeka. Lagi pula, ia sudah mempunyai seorang kekasih yang sangat dicintainya, Pranacitra. Dengan menguatkan tekadnya ia ingin menemui Tumenggung Wiroguno untuk pembebasannya.

Syahdan, Mendut berjalan berjingkat mencari abdi dalem yang selama ini melayaninya. Ia ingin ditemani menghadap Tumenggung Wiroguno. Ketika ia akan menyeberangi taman, matanya tertuju pada pintu regol Wirogunan. Seketika hatinya panas membara terbakar sebuah cemburu.

Ia melihat Pranacitra – kekasih yang siang malam ia rindukan, sedang memberikan setangkai anggrek untuk abdi dalem yang sedang dicarinya itu.

“O, pantas saja Kakang Pranacitra tak menghiraukanku lagi, ternyata ia telah punya tambatan hati yang baru. Aku tak mengira, kesetiaanku selama ini telah dikhianatinya. Terbukti sudah mimpiku tempo hari, Kakang Pranacitra memberikan setangkai bunga kepada seorang gadis,” rutuk Mendut dalam hati.

Mendut kembali ke kamarnya. Ia tak hirau lagi untuk menghadap Tumenggung Wiroguno. Bukankah lebih baik jika aku jadi selir Wiroguno, sebagai balas dendam sakit hatiku kepada Kakang Pranacitra?

Abdi dalem – ia bernama Kinasih, perawakannya tinggi tidak pendek tidak, gemuk tidak kurus tidak, tetapi mempunyai kecantikan tak kalah dibandingkan Mendut – mengetuk pintu kamar Mendut.

“Siapa?”

“Saya Kinasih, denayu.”

Pintu dibuka oleh Mendut.

“Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan cinta kasih! Aku tak mengira kalau kamu tega menyakiti hatiku!”

Kinasih bengong. Bunga anggrek dalam genggaman Kinasih direbut oleh Mendut, kemudian dilempar ke lantai. Tak puas, Mendut menginjak-injak anggrek tersebut.

“Wahai Kinasih, bilang kepada Pranacitramu itu, ┬ábukan begini cara menyakiti hatiku!”

Tanpa diduga oleh Kinasih, jemari Mendut menjambak rambut Kinasih lalu ditariknya. Kinasih memberontak untuk menghindari rasa sakit. Mendut seperti kesetanan, wajah ayu Kinasih menjadi sasaran cubitan tangan Mendut.

Kinasih tak mungkin melawan denayu Mendut yang sebentar lagi menjadi tuan puterinya. Ia memilih menghindar dan berlari keluar kamar Mendut untuk mencari selamat.

Mendut terpuruk. Belum puas ia membayar kesumat cemburunya. Ia terduduk di lantai bersender pintu yang setengah terbuka. Ia mengatur nafas. Rasanya aku lebih baik diperistri oleh Tumenggung Wiroguno. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju istana Wirogunan samping kiri, tempat tinggal Tumenggung Wiroguno.

Bunga anggrek telah tercerai-berai mengotori lantai kamar Mendut, di antara tangkai anggrek yang patah terselip lipatan kertas putih yang tidak diperhatikan oleh Mendut.

Kinasih menyelinap masuk kamar Mendut untuk membersihkan lantai. Ia pungut lipatan kertas dan membacanya:

Mendut kekasihku, hampir dua purnama aku mencarimu sejak engkau diculik oleh Adipati Pragola. Hingga aku menemukanmu sedang diterungku di istana Wirogunan. Siang-malam aku mencoba menembus penjagaan regol Wirogunan yang demikian ketat. Mudah-mudahan setangkai anggrek ini sampai di tanganmu, sebagai bukti kesetiaanku. Kakang Pranacitra sedikit cemas, tetapi jauh lebih banyak merinduimu.

Salah cemburu fatal akibatnya.