Karebet

Prolog
Dalam perjalanan ke Demak Bintoro, Karebet atau Jaka Tingkir itu naik rakit bambu, mengikuti aliran air Bengawan Solo. Di tikungan sungai yang bernama Kedung Srengenge, rakit Karebet diserang oleh sekelompok buaya yang berjumlah 40 ekor.

Raja buaya memerintahkan kepada anak buahnya untuk menghancurkan rakit dan membunuh Karebet. Misi utama mereka adalah menggagalkan Karebet sampai ke Kerajaan Demak Bintoro. Dasar Karebet mempunyai ilmu kanuragan tinggi dan kesaktian yang tidak bisa diremehkan, puluhan buaya ia taklukkan. Raja buaya semakin ganas menyerang Karebet. lanjutkan baca

Sabai nan Aluih

Gadis berambut sebahu itu telah menyempurnakan keindahan pagi yang sedang gerimis dengan syair-syair indah yang keluar dari mulutnya. Jemarinya lincah memainkan benang dalam mesin tenun dipangkuannya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana :
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

~ sapardi djoko damono ~ lanjutkan baca

Calon Arang Ibu Sejati

Di desa Girah, wilayah Kerajaan Daha hiduplah seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang sangat cantik, Retna Manggali nama gadis itu. Meskipun sangat cantik, banyak pria di kerajaan tersebut yang takut meminangnya, karena ulah ibunya yang senang menenung orang. Maklum saja, Calon Arang ini seorang dukun yang sakti mandraguna di jamannya.

Hal itulah yang menyebabkan kemarahan Calon Arang, mengapa tidak ada satu pria pun yang sudi melamar anaknya. Maka dia membacakan mantra tulah, sehingga muncul malapetaka dahsyat yang melanda desa Girah dan sekitarnya, pada akhirnya melanda seluruh wilayah Kerajaan Daha. Tulah itu menyebabkan banyak penduduk pagi hari sakit sore hari menjadi mayat.

Raja Airlangga, penguasa Daha marah besar dan berusaha melawan janda dari Girah itu. Jagad dewabatara, kekuatan Raja Airlangga tidak mampu menandingi kesaktian Calon Arang. Sang raja bingung dan pusing tujuh keliling. Akhirnya, Raja Airlangga memerintahkan Empu Baradah, penasihat spiritualnya untuk melawan Calon Arang. lanjutkan baca