Lalu ke Bromo dan Malang lagi

Setelah istirahat beberapa jam dari perjalanan ke Bumi Kartini, kami berangkat ke Malang. Kali ini Kyai Garuda Seta menginap di Stasiun Solo-Balapan, perjalanan ke Malang kami tempuh dengan menggunakan kereta api. Syahdan, dengan ambrolnya Jembatan Comal saya perkirakan perjalanan balik ke Karawang nanti berasa berat, maka saya memutuskan perjalanan ke Malang menggunakan kereta api saja agar stamina saya sebagai driver tetap prima. Dua hari menjelang mudik, saya berburu tiket kereta api dan alhamdulillah mendapatkan tiket Solo-Malang PP dengan kereta Gajayana Edisi Lebaran.

Sabtu dini hari kami sudah stand by di stasiun. Ternyata Gajayana Edisi Lebaran tiba di Solo-Balapan molor dua jam! Tiba di Malang hampir jam 2 siang.

Pak Hari yang menjemput kami bercerita kalau sudah menunggu sejak pagi – maklum, takut mengecewakan tamu katanya. Kami diantar menuju hotel di bilangan Jl. Letjend. Sutoyo tempat kami menginap 2 malam, untuk bersih-bersih sebelum menuju destinasi berikutnya. lanjutkan baca

Berdendang bersama Koes Plus


betapa lama tlah kau tinggalkan
betapa lama kau ku rindukan
o la la…o la la

tanda mata darimu untukku
akan selalu mengingatkanmu
o la la…o la la

lama sudah kita tak bertemu
ataukah mungkin kau telah jemu
jangan kau berpura-pura padaku
kau menyedihkan hatiku oo

Di mana Menak Jinggo?

Tetirah singkat ke Banyuwangi tempo hari, betul-betul saya manfaatkan untuk mengendus jejak Menak Jinggo (ada yang menyebutnya Minak Jinggo) yang pernah bertahta di Kerajaan Blambangan itu. Kisah Menak Jinggo yang saya pahami sejak kecil adalah berdasarkan cerita-cerita versi ketoprak, di mana Menak Jinggo digambarkan sebagai lelaki jahat bersuara bindeng punya senjata andalan Gada Wesi Kuning. Ia juga mempunyai abdi kinasih yang bernama Dayun. Meskipun buruk rupa, Menak Jinggo mempunyai dua istri yang cantik, namanya Wahito dan Puyengan.

Menak Jinggo merupakan musuh Majapahit yang saat itu diperintah oleh Ratu Kencanawungu, seorang raja perempuan. Karena kesaktian Menak Jinggo, Majapahit kewalahan melawannya. Akhirnya, Ratu Kencanawungu membikin sayembara siapa yang bisa mengalahkan Menak Jinggo, akan dijadikan suaminya. Adalah Damarwulan yang dapat menaklukkan Menak Jinggo dengan cara mencuri Gada Wesi Kuning yang dibantu oleh Wahito dan Puyengan. Saya pernah mendongengkan kisah ini di Damarwulan Bejo. lanjutkan baca