Inilah Ransum Sehari-hari

Ketika berada di Madinah jamaah haji mendapatkan jatah makan dari pemerintah RI dua kali sehari, makan siang dan makan malam berupa paket nasi plus lauk dan sayur. Jatah nasi tersebut akan dikirimkan ke maktab masing-masing, dan beberapa kali terjadi keterlambatan pengiriman.

Di kemasan paket nasi tertulis : makan siang mulai pukul 11.00 – 14.00, sebaiknya dikonsumsi sebelum pukul 15.30 dan makan malam mulai pukul 19.00 – 22.00, sebaiknya dikonsumsi sebelum pukul 23.30.

Banyak di antara jamaah, termasuk saya yang pergi ke masjid mulai pukul 11.00 dan nanti pulang selepas isya, jika makan siang terlambat dikirim maka paket nasi tersebut tidak dimakan oleh para jamaah karena sudah kedaluarsa.

Meskipun lauk dan sayurnya itu-itu saja, saya menikmatinya. Bila nasi datang sebelum jam 11, nasi tersebut akan saya bawa ke masjid Nabawi, nanti saya nikmati setelah dzuhur, setelah mendapatkan tempat yang nyaman untuk menyantap makan siang.

Cara membawa ke (dalam) masjid Nabawi saya bungkus plastik dan saya masukkan ke tas selempang. Tempat favorit untuk menikmati makan siang tersebut ada di Taiba Commercial Center lantai bawah atawa di taman dekat pintu masuk jamaah wanita. Aneka minuman dan lauk tambahan bisa dibeli di warung-warung di sana.

Pokoknya, nikmati saja.

Nongkrong di Taiba Commercial Center

Di kiri dan kanan menuju pintu masuk utama Masjid Nabawi berdiri bangunan bertingkat berupa hotel dan pusat pertokoan. Dibandingkan dengan Kota Mekkah, Madinah merupakan kota yang jauh lebih bersih dan tertata rapi. Sehingga pulang – pergi ke masjid lewat di jalanan terasa nyaman.

Salah satu bangunan tempat saya nongkrong untuk makan siang sambil menunggu saat asar adalah basement 1 Taiba Commercial Center (TCC). Bangunan ini seperti mall gitu deh, lantai 5 ke atas dipakai sebagai hotel. Tempat ini saya “temukan” di hari kedua (hari pertama menikmati makan siang, saya masih duduk lesehan di luar pagar masjid), cukup representatif dan bila butuh teh atau kopi ada beberapa counter yang berjualan minuman.

Jika bosan duduk, bisa “tawaf” di pertokoan. Asal bawa bekal, barang-barang bisa terbeli karena lumayan murah. Sajadah dan kurma kualitas bagus untuk oleh-oleh saya beli juga di TCC ini. Di basement 2, terdapat supermarket yang menjual beraneka macam kebutuhan sehari-hari, termasuk kurma dan coklat dari Lebanon. Di Mekkah atau Madinah, makanan “halal” untuk dicoba meskipun tidak membeli. Mumpung “halal” kurma Nabi yang seharga 210 riyal/kg pun pernah saya cicipi he..he…

Selepas makan saya biasa bercengkrama dengan orang-orang yang duduk di sebelah saya atau depan saya, kadang saya dimintai tolong untuk memotret mereka. Termasuk nanti dengan seorang TKW yang malang.

Kalau kebetulan pengin makanan lain seperti donut dan KFC tinggal ke lantai atas, atau jika pengin bakso atau makan Indonesia lain, saya tinggal menyeberang ke gedung sebelah.

Masjid Nabawi yang Agung

Saya memulai Arba’in pada shalat dzuhur dan nanti akan berakhir pada shalat subuh di hari ke-8. Jarak dari maktab 20 menit jalan kaki.

Ketika masuk halaman masjid, hati sudah bergetar apalagi masuk ke dalamnya. Subhanallah, masjid yang sangat indah dan agung. Saat itu masjid relatif masih sepi, saya leluasa berkeliling melihat-lihat suasana masjid. Tiang-tiang masjid yang kokoh dengan ornamen-ornamen keemasan tertimpa lampu, tempat shalat lelaki dan wanita terpisah, rak-rak tempat Al-Qur’an tersebar di mana-mana, drum-drum plastik air zamzam tertata rapi di tepian ruang masjid. Seperti halnya Masjidil Haram, Masjid Nabawi mempunyai pintu yang sangat banyak.

Hari pertama, saya belum berani mengambil foto Masjid Nabawi.

Setengah jam menjelang azan, jamaah mulai berdatangan dan tidak lama kemudian masjid penuh, belum nanti yang shalat di halaman masjid sama penuhnya juga. 

Selama delapan hari shalat di sana, saya berpindah-pindah tempat untuk menambah pengalaman. Shalat di Masjid Nabawi saya rasakan lebih khusyuk dibanding di Masjidil Haram. Oh ya, ada satu hal lagi yang menarik di masjid ini yaitu kubah masjid bisa dibuka-tutup. Selesai dzuhur saya suka menunggu kubah tersebut terbuka, dan pelan-pelan saya akan menyaksikan awan putih berarak di langit biru dari “lubang” atap masjid.

Di sekitar masjid juga banyak sekali burung merpati, bahkan saya lihat ada beberapa merpati yang bertengger di lampu-lampu di dalam masjid.

Di dalam maupun di lingkungan luar masjid saya banyak melakukan interaksi dengan jamaah dari negara lain dan ada beberapa pengalaman saya alami di tempat ini.

Nanti. insya Allah akan saya ceritakan kepada Anda.