Balada sandal jepit

Demi alasan kenyamanan dalam perjalanan panjang Karawang – Jogja, saya mengenakan sandal jepit. Hal ini biasa saya lakukan jika sedang melakukan perjalanan (darat) yang memakan waktu berjam-jam.

Sandal jepit saya berwarna hitam, modelnya juga anti mainstream meskipun harganya seperti harga sandal jepit yang lain. Perjalanan ke Jogja kali ini saya tempuh melalui jalur selatan via Tol Cipali.

Pemberhentian pertama di sekitaran Pejagan, untuk melakukan isoma. Sengaja mampir di warung sate kambing (muda), saya ingin menikmati sop kambing untuk menghangatkan badan. read more

Bangun dari tidur panjang

Gino dan Tarman – dua cantrik┬áPadeblogan, tengah thingak-thinguk di depan pintu kamar Kyaine. Hari ini, Jumat Pahing, tepat sebulan Kyaine bertapa dan sebelumnya sudah berpesan kepada keduanya untuk membangunkan dari bertapanya.

“Ini sudah jam-nya belum, No?” tanya Tarman sambil membezuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Wis. Ayo kita ketuk pintu ini!” tukas Gino sambil beringsut mendekati pintu.

Lalu ia mengetuk pintu yang terbuat dari kayu sengon laut itu.

“Kyaine, mohon izin kami mau masuk,” kata Gino yang kemudian mendorong pintu ke arah dalam. Pintu memang tidak terkunci. read more

Pungli sehidup-semati

(1)

Pakde No sedang mengantri di KUA. Ia ingin mengurus pernikahan anak perempuannya bulan depan. Berkas yang ia bawa rasanya sudah lengkap, termasuk berkas data calon menantunya.

(2)

O, iya. Sebelum ke KUA, Pakde No mesti urus surat pengantar/keterangan dari RT/RW sampai ke Kantor Desa dan Kecamatan. Semua itu untuk melegalisasi bahwa anak perempuannya benar penduduk di sana.

(3)

Untuk tempat hajat pernikahan anaknya, Pakde No tak mampu menyewa gedung pertemuan. Maka, ia memilih buka hajat di rumah saja, dengan menutup jalan di depan rumahnya. Namun, untuk menutup jalan ia perlu izin kepada instansi yang berwenang. read more