Kacamata baca saya

Arkian, kira-kira enam belas bulan yang lalu pada sebuah perjalanan KW-JOG via jalur selatan, saya merasa rambu-rambu lalu-lintas penunjuk arah sulit terbaca pada jarak jauh. Terlihat buram. Awalnya saya mengira kalau kaca mobilnya yang kurang bersih, ternyata setelah saya alihkan pandangan melalui jendela terbuka, masih buram saja.

Dalam berkendara malam hari, sinar lampu kendaraan yang simpangan dengan saya sangat menyilaukan mata, sehingga saya mesti memelankan laju kendaraan untuk menghindari kecelakaan.

Kembali dari JOG, saya periksa mata dan diketahui kalau kedua mata saya katarak yakni kondisi yang membuat lensa mata terlihat keruh atau berkabut. Padahal normalnya, lensa mata terlihat jernih dan tembus pandang (transparan). Kondisi katarak mata sebelah kanan saya lebih parah dan dokter menyarankan untuk dilakukan operasi. Kemudian saya mencari info lebih lanjut tentang katarak dan bagaimana operasi katarak dilakukan, bahkan dengan gamblang dapat dilihat di yutub. Bismillah, saya mantap untuk melakukan operasi katarak mata kanan dulu.

Saya mengambil jadwal operasi di hari Kamis. Hari itu ada 10-an orang yang melakukan operasi. Saya dapat giliran yang pertama. Tak sampai lima belas menit, operasi kelar. Jumatnya, jadwal kontrol dokter pertama. Dan pada hari Senin saya sudah beraktifitas normal di kantor.

Selama pemulihan saya mematuhi semua pantangan: tidak mengangkat beban berat, jangan rukuk/sujud dulu (shalat dengan duduk), tidak mengucek mata, hindari debu/asap dan meneteskan obat mata sesuai petunjuk dokter. Kira-kira berlangsung selama dua minggu.

Saya pun mulai terbiasa dengan lensa mata (implan) baru.

***

Salah satu benda yang tidak bisa terpisahkan dari saya adalah kacamata baca. Kalau tidak salah ingat, ketergantungan saya kepada kacamata baca sudah berlangsung lima tahunan ini. Ke mana pun saya pergi kacamata ini mesti saya bawa. Maka, untuk menghindari saya lupa membawa kacamata saya menyiapkan banyak kacamata: di tas, di kantor, di mobil dan di rumah. Setidaknya saya mempunyai empat kacamata baca yang harganya tidak terlalu mahal. Kisaran 150 – 200 ribu.

Saya tidak mempunyai pengalaman mempunyai mata minus, sehingga saya tidak pernah menggunakan kacamata minus.  Dikutip dari sebuah artikel kesehatan mata disebutkan bahwa seiring bertambahnya usia, mata akan mengalami penurunan kemampuan untuk melihat dalam jarak pandang dekat. Kondisi yang dikenal dengan sebutan mata tua atau presbiopia ini disebabkan oleh berkurangnya kelenturan lensa mata. Biasanya, penurunan kemampuan melihat mulai terjadi pada usia 40 tahun.

***

Pada saat operasi katarak dulu saya memilih implan lensa mata jenis lensa monofokal, yaitu lensa implan yang paling umum dan tradisional. Lensa ini hanya memiliki satu fokus – jarak dekat, menengah, maupun jauh tergantung keinginan pasien. Saya mengambil fokus jarak jauh. Untuk fokus jarak dekat, seperti saat membaca saya akan menggunakan kacamata baca.

Mata kanan saya fixed +3, tidak akan berkurang atau bertambah.