Bambang Ekalaya meguru

Ekalaya adalah cah ndeso, namun ia mempunyai keinginan untuk belajar pada Mahaguru Drona meskipun tempat tinggalnya jauh dari Hastinapura. Secara otodidak ia belajar berbagai macam kitab yang diperolehnya di pasar loak. Kitab-kitab yang mengajarkan ilmu filsafat telah ia pelajari semua. Ia pun belajar olah kanuragan termasuk menggunakan berbagai macam senjata. Namun, ada satu senjata yang paling ia sukai yaitu panah.

Mahaguru Drona adalah profesor ilmu perpanahan pada Hastinapura University. Nah, keahlian memanah Drona telah menarik minat Ekalaya untuk berguru kepadanya. Sebagai seorang yang mempunyai derajat rendahan akankah diterima Drona sebagai muridnya? Ekalaya bimbang sejenak. Tetapi karena tekad yang kuat ingin menguasai ilmu memanah, apapun resikonya ia akan tetap menghadap sang Mahaguru.

~oOo~

Siang itu Drona sedang melatih murid-muridnya di alun-alun Hastinapura, termasuk Arjuna murid kesayangannya. Dari sekian banyak murid, hanya Arjuna-lah yang cepat menguasai ilmu yang diberikan oleh Drona.

Ekalaya mengendap-endap memasuki alun-alun, menunggu Mahaguru Drona selesai memberikan kuliah. Ia bulatkan tekadnya untuk menghadap Mahaguru Drona yang diam-diam ia idolakan itu.

“Beribu maaf Mahaguru, nama saya Ekalaya. Lengkapnya Bambang Ekalaya,” katanya takzim di hadapan Drona.

“Mau apa kamu ke sini?” tanya Drona ketus. Continue reading

Posted in PerMAYAngan |

Kiat Esemka

Kalkulator di tangan Mas Suryat masih menyala. Ia tersenyum setelah membaca angka yang tertera di display-nya.

Jiah…. kok senyam-senyam sendiri ana apa to Mas?” sapa Maskowi.

“Ini apa… lagi ngitang-ngitung celengan. Saya mau beli mobil Kiat Esemka nih!” sahut Mas Suryat.

Wah… elok tenan. Lha terus mobilmu sing lawas diapakan, Yat?” tanya Lik Bibit.

Haiyo tak dol. Tak jual. Makanya saya ngitang-ngitung bajet nih. Mobil lawas dijual plus tabungan, ya lumayanlah ntar dapat mobil Kiat Esemka yang gres!” tukas Mas Suryat.

Halahhh… paling-paling sampeyan mau cari sensasi. Wong mobil buatan anak-anak SMK aja kok dipakai. Apa ya penak. Mending tetap pakai mobil lawasmu to Yat. Mbalah joss… buatan Jepang, to,” kata Lik Bibit ketus.

Tuh kan… Lik Bibit bisanya cuma maido tok. Ora ilok Lik. Penak orane, nyaman tidaknya, tergantung kebanggaan kita. Mestinya panjenengan sebagai sesepuh RT mbok mendukung adanya karya anak negeri. Dan Mas Suryat mau beli mobil itu kan satu bentuk dukungan untuk menggunakan produk dalam negeri,” papar Maskowi agak sengol. Continue reading

Posted in Selopen |

Seandainya semua pejabat publik bisa menulis

Saat sekolah dulu banyak teman di kelas yang mengeluh jika pada pelajaran Bahasa Indonesia masuk materi mengarang. Dijamin, dalam waktu tiga puluh menit yang diberikan oleh guru untuk menuangkan karangan di buku tulis, separoh waktu habis untuk memikirkan materi apa yang akan dituliskan. Fenomena ini, sepertinya berlaku mulai jenjang SD hingga perguruan tinggi.

Pun dengan soal ulangan yang harus dijawab dengan cara esai. Konyolnya, para guru main coret (dengan tinta merah) dan memberikan angka nol untuk jawaban yang salah. Hal ini bisa dimaklumi kalau jawaban yang diperlukan hanya satu kalimat. Tetapi, jawaban uraian yang memerlukan penjabaran agak detil mestinya apa yang ditulis sebagai pendapat/jawaban sedikit dihargai. Kalau pun jawaban salah atawa melenceng, guru setidaknya memberikan sedikit catatan di lembar jawaban. Continue reading

Posted in Selopen |

Mendamba suami setampan Nabi Yusuf

Siapapun tak ada yang berani menyangkal kalau perempuan berkerudung ungu itu cantiknya sundhul langit. Ayune puol. Banyak pemuda yang mencoba mendekatinya, bahkan tak sedikit yang berani melamar untuk dijadikan istrinya. Tapi apa daya, semua lamaran ditolaknya. Ia berprinsip: ingin punya suami yang setampan Nabi Yusuf.

Hampir semua pemuda di kotanya pernah mendekatinya, namun tak seorang pun dapat tertambat di hatinya. Perempuan cantik itu memutuskan pergi ke kota sebelah untuk mencari pemuda setampan Nabi Yusuf yang akan dijadikan sebagai suaminya.

Nihil. Continue reading

Posted in Sanepan |

Nanggap wayang

Setelah melunasi hutang-hutangku aku masih punya sedikit persediaan uang. Keinginanku berikutnya adalah nanggap wayang.  Tapi dengan uang yang sedikit ini mana ada dalang kondang yang sudi aku tanggap? Aku memutar otak, mungkin ada dalang yang tak pernah pentas mau aku bayar dengan sisa tabungannku.

Ah ya… aku ingat ada dalang yang bernama Ki Suryat nDoboscarito. Jangan-jangan ia malah mau pentas tanpa dibayar, apalagi bagi orang yang menunggu ajal sepertiku ini. Continue reading

Posted in PerMAYAngan |