Sukses kariernya

Setiap kali saya bertemu dengannya – belum tentu setahun sekali, ia selalu berubah. Arahnya maju dan naik, bukan mundur atau malah terpuruk. Siapa sangka, ia yang dulu pernah menjadi anak buah saya kini menjadi seorang direktur pada sebuah perusahaan kelas dunia di bidang IT yang berasal dari AS. Saya ingat betul, dua puluh tahun lalu ketika ia pertama kali kami rekruit jadi karyawan tidak terlihat adanya aura di wajahnya untuk menjadi orang besar. Ia cenderung berpenampilan santai – ia suka bercelana jins belel, tetapi kalau sedang berdiskusi ia sering memberikan ide yang brilian.

Haji Bejo peduli masjid

Semenjak pulang dari Tanah Suci, para tetangganya kini memanggilnya dengan sebutan Haji Bejo. Jika ada yang bertanya hendak ke mana, maka orang tersebut akan menjawab mau belanja ke toko Haji Bejo. Dulu, mereka menyebutnya toko Pak Bejo. Peci putih juga tak lepas dari kepala Pak Bejo. Identitas haji dapat dikenali dari peci putih yang dikenakannya itu. Jika diamati, peci model seperti itu hanya dapat dibeli di sekitaran Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, seharga kisaran 3 riyal atau paling mahal 5 riyal. Jadi betul-betul peci asli Tanah Suci.

Warung Ustadz Arman

Kami memanggilnya ustadz Arman. Ia menjadi marbot di masjid kami sejak sekitar enam atau tujuh tahun lalu. Karena masjid kami berada di tanah yang diperuntukkan bagi fasos/fasum, maka oleh pihak pengurus masjid berinisiatif membikinkan kamar baginya yang bersebelahan dengan aula majelis taklim. Selain menjaga kebersihan masjid, ia juga bertugas mengumandangkan adzan dan menjadi imam cadangan jika ustadz yang bertugas sebagai imam berhalangan. Awalnya kami memanggilnya Arman saja, namun sejak ia mengajar mengaji anak-anak kompleks perumahan di sore hari, kami memanggilnya dengan ustadz, mengikuti anak-anak kami.