Bergerak menuju ibu #10

Mas Arul, aku sudah mau pulang ke Tanah Air nih. Janjimu di CGK yang akan menemuiku di Ummul Quro tanggal 27 Des, sepertinya meleset. Tak apa, mungkin kita memang belum berjodoh untuk berjumpa.

Karena pada subuh kemarin tak ada yang mendampingi ibu masuk masjid dan selama shalat, saya menggunakan strategi Darren McCord (Van Damme) dalam film Sudden Death (1995). Dalam film diceritakan, ia sedang mengajak kedua anaknya menyaksikan pertandingan hoki Chicago Blackhawks League. Ternyata di stadion tersebut sedang dikuasai teroris. lanjutkan baca

Bergerak menuju ibu #9

Kegiatan utama di Masjidil Haram berhubungan dengan bergerak, dimulai tawaf atau mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, lalu dilanjutkan dengan prosesi sa’i yakni bergerak dari Shafa ke Narwah hingga hitungan ketujuh. Dari fikiran, hati dan lisan terus¬† bergerak menyebut ke-Mahasucian-Nya, segala puji bagi-Nya, ke-Mahatunggal-Nya, dan ke-Mahabesaran-Nya.

Tak pernah saya lepas-syukur atas kesempatan menggandeng tangan ibu dalam perjalanan hotel – masjid pp. Iseng-iseng subuh tadi saya hitung langkah kaki saya saat dari hotel menuju masjid (King Fadh Gate Masjidil Haram): 1500 s/d 1600 langkah. Inilah jarak dan waktu terpanjang saya menggandeng tangan ibu. Tentu saja angka tersebut tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasih ibu saat menggendong, menimang, mengajari jalan bahkan menggandeng tangan anak-anaknya tetap berada di jalan yang benar. lanjutkan baca

Bergerak menuju ibu #8

Aku membuat makanan untuk Kanjeng Nabi dan ayahku ketika mereka hendak bertolak ke Madinah untuk berhijrah. Aku berkata kepada ayahku kalau tidak membawa sesuatu untuk mengikat makanan kecuali selendang pinggangku ini. Kemudian ayahku berkata, “Belahlah selendangmu menjadi dua” Aku pun mengikuti perkataannya, maka sejak itu aku dijuluki dzaatun nithaaqain atau perempuan pemilik dua selendang.

Setiap berkunjung ke sekitaran Jabal Tsur, saya selalu teringat kisah heroik  seorang perempuan sahabat Nabi yang masuk Islam generasi pertama. Ia adalah Asma putri Abu Bakar. Dalam keadaan hamil tua, ia diberi amanah mengirim makanan ke Gua Tsur tempat Kanjeng Nabi dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir dalam perjalanan hijrah ke Madinah. lanjutkan baca