Sudah 45+

Hujan belum juga reda. Januari, kata orang, singkatan dari hujan sehari-hari. Hari menjelang sore, baru saja Mas Suryat keluar dari mushola kantornya, di kursi ujung lobby ia menemukan sosok kawannya sedang datang bertamu. Kawan lama, yang sudah dikenalnya hampir tiga belas tahun.

Mereka berjabat tangan erat, saling peluk. Mas Suryat mencium bau kecut keringat kawannya itu, lalu mempersilakan duduk kembali. Ia amati sepintas lelaki yang duduk tidak percaya diri itu. Terlihat agak kucel. Tas ransel lusuh ditaruh di depan kakinya.

“Sudah makan belum?” ini pertanyaan utama Mas Suryat jika bertemu dengan orang yang dikenalnya.

Lelaki di depan mas Suryat menggeleng. Jujur betul orang ini. Mas Suryat mengajak kawannya itu pergi ke lantai bawah menuju kantin.

Wis, makan yang kenyang dulu. Baru kita ngobrol!” ujar mas Suryat, kemudian ngeloyor menuju lemari minum untuk mengambil teh botol.

“Aku butuh pekerjaan, Mas. Hampir dua tahun ini aku nganggur. Ada lowongan nggak?” kawannya itu membuka percakapan.

Kemudian ia keluarkan map biru yang sudah sobek di kedua ujungnya. Lalu disodorkan ke mas Suryat dan membukanya. Mas Suryat membaca CV sepintas saja, sebab ia tak mau buru-buru bicara tentang pekerjaan.

“Bagi seorang karyawan biasa, usia di atas 45 tahun apa yang bisa dilakukan selain bertahan? Toh sebentar lagi kita akan pensiun. Nikmati saja pekerjaan yang ada. Orang seperti kita ini, yang tak punya kompetensi luar biasa akan kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. Ngapain perusahaan merekrut orang seumuran kita jika di luaran sana banyak anak muda berpotensi memajukan perusahaan?” pancing mas Suryat.

“Waktu itu aku emosi, Mas. Buru-buru mengajukan surat mengundurkan diri. Lha bagaimana, aku yang sudah bekerja lama di perusahaan itu karierku mentok saja. Ya, aku disalip oleh karyawan yang hadir belakangan. Saban hari aku stres sendiri, hingga nggak nyaman bekerja. Ya udah aku keluar, sementara waktu itu aku belum mendapatkan pekerjaan baru. Betul kata mas Suryat, orang seumuran kita susah mencari kerja,” paparnya.

Lalu, ia bercerita tentang kondisi ekonomi keluarganya. Dibandingkan ketika masih punya gaji dulu dengan sekarang. Meskipun gajinya nggak begitu besar, tapi ada yang diharapkan setiap bulannya. Maka, saban hari ia keluar rumah untuk menebar CV. Dan itu tak mudah.

Pertemuan mereka berakhir tanpa komitmen apa-apa. Mas Suryat juga karyawan biasa, hanya bisa membantu memberikan informasi jika sewaktu-waktu ada iklan lowongan kerja.

Dan biasanya, ada embel-embel kalimat: umur karyawan yang dibutuhkan max 30 tahun.

(Visited 1 times, 1 visits today)