Sebelas Patriot

Pengalaman menonton sepak bola di negeri orang memberiku penghayatan yang lebih dalam serta arti mencintai PSSI dan makna mencintai Tanah Air. Berada di antara masyarakat yang asing, nun jauh dari kampung sendiri, menyadarkanku bahwa Indonesia, bangsaku, bagaimanapun keadaannya, adalah tanah mutiara di mana aku telah dilahirkan, Indonesia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan lagi apa pun menodai cinta itu, tidak juga karena ulah para koruptor yang merajalela, biarlah kalau tidur mereka didatangi kuntilanak sumpah pocong.

Esoknya aku mengirimkan kaus Luis Figo itu untuk Ayah dan kaus Barcelona FC untuk Pelatih Toharun. Aku juga mengirimkan surat untuk Ayah yang aku tahu akan dibacakan Ibu untuknya dilampiri fotoku di depan Estadio Santiago Bernanaéu. Hatiku terendam karena merindukan Ayah. Kubayangkan apakah Ayah mengikuti pertandingan PSSI? Apakah kaki kirinya bergerak-gerak melihat pertandingan itu? Betapa aku rindu pada patriotku itu. Kuceritakan pada Ayah berlembar-lembar kertas soal pertandingan Real Madrid vs Valencia dan meski dari nomor bangku kelas ekonomi yang amat jauh dari pemain, aku telah melihat langsung Luis Figo menggocek bola. Di bagian akhir surat kutulis:

Ayahanda,
Dari jauh kumelihat, tak lepas kumemandang,
sebelas patriot, rapatkan barisan.
Peluit berkumandang, bendera berkibar-kibar,
dadaku bergetar.
Sebelas patriot, garang menyerang, gagah
bertahan.

Ayahanda,
Aku datang untukmu
dan katakan pada PSSI, aku akan datang untuknya!
Ayah, engkau pernah dibungkam ketika
meneriakkan Indonesia,
Ini aku, anakmu, berteriak sekuat tenaga,
Indonesia! Indonesia!
Indonesia aku datang!
PSSI, engkau menang!

Ayahanda,
Aku ingin menjadi patriot PSSI
Jantungku berdetak untuk PSSI

Anakmu,
Ikal.

~oOo~

Itulah kutipan bagian terakhir dari novel Andrea Hirata terbaru yang berjudul Sebelas Patriot, sebuah novel yang menggetarkan dan sangat inspiratif tentang cinta seorang anak, pengorbanan seorang Ayah, makna menjadi orang Indonesia dan kegigihan menggapai mimpi-mimpi. Tokoh utama novel ini adalah AKU yang tak lain adalah Ikal teman kecil Trapani si pemalu dan Mahar si begajul. Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Bentang (Juni, 2011) setebal 109 halaman.