Samiaji dan sepuluh pemuda

Penguasa tertinggi Indraprasta, Prabu Samiaji alias Puntadewa alias Darmakusuma alias Gunatalikrama a.k.a Yudhistira sedang gundah gulana. Negeri yang dipimpinnya itu tengah dilanda wabah korupsi akut dan konyolnya para pelakunya masih tergolong usia sangat muda. Ia adalah seorang raja yang terkenal jujur, tak tegaan, lemah lembut, sehingga sebagian kalangan menilai kalau ia seorang raja yang peragu dan tidak tegas.

Koruptor-koruptor muda usia itu sebagian besar politikus salah mangsa/musim, cenderung karbitan. Ilmu politik dikuasai kulitnya saja, sehingga etika berpolitiknya asal-asalan saja atawa dalam arti sederhana mumpung berkuasa. Lalu, sisanya adalah orang-orang muda yang duduk di institusi yang berhubungan dengan duit, semacam di Biro Penarikan Upeti Kerajaan Indraprasta.

Sungguh, anak muda usia yang duduk di lingkaran kekuasan itu dulunya aktifis kampus. Suaranya lantang memprotes kebijakan negeri yang menyengsarakan rakyat kebanyakan. Sebagai mahasiswa yang idealis, mereka tak tertarik dengan iming-iming materi yang diberikan oleh pejabat negeri. Justru ketika mereka lulus dari kampus, hatinya mulai bimbang saat puluhan lamaran kerja yang dibuat tak satupun nyantol di perusahaan swasta. Pengurus partai mendekati mereka. Daripada jadi pengangguran, mereka terima tawaran orang partai.

Ada juga yang dari awalnya bercita-cita mengubah sistem pemerintahan dengan masuk melalui partai. Namun apa yang terjadi, bukannya mereka mampu mengubah sistem, justru mereka yang mudah dipengaruhi oleh sistem. Kondisi mental yang belum kokoh, sangat mudah bagi para senior mereka mengubah dan membalikkan sifat idealis menjadi oportunis. Ampun!

Dalam perenungannya, Prabu Samiaji ingat sebuah kalimat menggelegar yang keluar dari mulut pemimpin negeri seberang “berikan aku sepuluh pemuda, akan aku bangun dan besarkan negeri ini!” Puntadewa itu tersenyum pesimis, apakah masih ada pemuda-pemuda Indraprasta yang mampu dan mau ia ajak membangun negeri Indraprasta?

~oOo~

Ia segera mengumpulkan Pandawa lengkap. Ia lontarkan idenya. Semua adiknya menyetujui usulan itu. Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa akan menjadi tim penyeleksi utama. Maka, pengumuman segera disebar ke seantero negeri. Banyak sekali pemuda yang menerima tawaran raja mereka. Benar saja, dari ribuan pemuda diseleksi dengan sangat ketat, Bima cs mendapatkan sepuluh pemuda tangguh. Dan kesepuluh pemuda tersebut dihadapkan kepada Prabu Yudhistira.

“Wahai kesepuluh ksatria, selamat datang di Indraprasta. Mari bersama kita bangun dan majukan negeri tercinta ini. Tapi mohon maaf, aku masih harus menguji integritas kalian. Ini ujian terakhir, kalau kalian lolos, maka kalian akan masuk dalam tim Indraprasta!”

Bima cs tak tahu ujian macam apa yang akan dibuat oleh kakaknya itu. Sementara, kesepuluh pemuda diam namun tetap memasang telinga dengan takzim.

Prabu Darmakusuma sesungguhnya masih pesimis, masihkah ada pemuda yang jujur di negeri yang dipimpinnya itu?

“Kalian masing-masing aku berikan tiga biji kacang tanah. Tanamlah. Aku memberikan waktu dua minggu dan hasilnya bawalah ke hadapanku!”

~oOo~

Dua minggu kemudian mereka menghadap Prabu Darmakusuma dengan membawa hasil penanaman biji kacang tanah. Dari apa yang dibawa oleh para pemuda tersebut, Prabu Darmakusuma sudah tahu mana yang jujur mana yang berbuat licik: tujuh pemuda membawa biji kacang sebagaimana ujudnya dulu, tidak ada kecambah apalagi tumbuh menjadi tanaman kacang. Satu pemuda membawa dua tanaman dan satu biji kacang tidak tumbuh. Dua pemuda sisanya masing-masing membawa tiga batang tumbuhan kacang yang tumbuh subur.

Prabu Yudhistira menghela nafas lalu berkata, “Sejatinya, tiga biji kacang tanah yang aku berikan kepada kalian dua minggu lalu adalah biji kacang yang tak mungkin tumbuh, karena biji-biji tersebut sebelumnya telah aku rebus dulu. Bima, menurutmu siapa dari pemuda-pemuda ini yang lulus ujian?”

“Tentu saja, ketujuh pemuda ini Mas, karena biji kacang mereka tidak tumbuh sebagaimana yang kita lihat!”

 ~oOo~

Ketiga pemuda yang tak jujur keluar dari hadapan sang prabu. Dalam perjalanan pulang mereka saling bercengkerama, menceritakan pengalaman masing-masing ketika menumbuhkan biji kacang.

Asem tenan, jebulnya kita dijebak oleh Prabu Yudhistira.”

“He.. he.. aku juga nggak ngira kalau biji kacang sudah direbus. Maka biji-biji aku ganti dengan biji kacang yang lain, ketika biji kacang tersebut nggak tumbuh-tumbuh. Lha, kamu itu aneh kenapa hanya dua saja yang kamu ganti, tidak seperti kami yang mengganti ketiganya?”

“Maksudku untuk strategi saja, kalau mau bohong ya jangan amat-amat lah.. dua dari tiga ha…ha….!”

Ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

~oOo~

Ki Dalang

Bagaimana dengan ketujuh pemuda lainnya? Tentu saja hanya Ki Dalang yang tahu kenapa mereka bisa lulus ujian kejujuran yang dilakukan oleh Prabu Samiaji. Ini rahasianya (tapi jangan bisa ke siapa-siapa ya?):

Ada tiga pemuda yang tidak sadar kalau mereka sedang diuji kejujurannya. Mereka mencoba menanam biji-biji tersebut namun nggak mau tumbuh. Lalu mereka mengganti dengan biji kacang yang lain. Gagal juga. Mengganti lagi dengan biji yang lain, namun hingga batas waktu biji kacang mereka tidak tumbuh juga. Ya, sudah. Mereka pasrah apapun yang akan terjadi. Ternyata mereka beruntung, karena lulus ujian.

Tiga pemuda lainnya sadar kalau mereka sedang diuji kejujurannya. Mereka juga tahu, kalau bibit kacang yang diberikan kepada mereka biji kacang yang telah direbus. Selama dua minggu mereka tak melakukan apa-apa, toh kalaupun ditanam tak tumbuh juga.

Satu pemuda sisanya, sesungguhnya sangat tekun berusaha menumbuhkan ketiga biji kacang. Sebelum menanam ia pelajari dulu cara menanam biji kacang, baik dari buku maupun internet. Bahkan ia mempelajari juga manfaat dan dampak kacang tanah dari artikel ilmiah milik pakar perkacangan, siapa tahu nanti ditanya oleh Prabu Samiaji. Dengan sangat sabar, ia amati perkembangan ketiga biji kacang yang tergeletak di media tanam. Kok nggak tumbuh-tumbuh hingga hari keempat belas? Ia pasrah, toh ia sudah berusaha secara maksimal.