Novel Andrea Hirata: Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas

Untuk segera menuntaskan membaca novel terbaru Andrea Hirata: Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas, saya harus mengorbankan waktu online. Seperti membaca novel-novel Andrea Hirata sebelumnya, hanya dalam beberapa dudukan khatam sudah melahap buku setebal 524 halaman itu.

Tetapi sepanjang prosesi pembacaan novel ada saja intermezo dari anak-anak : mereka tidak sabar ingin segera membacanya juga. Maaf anak-anak, untuk kali ini saya tidak mau mengalah.

“Pap cepetan dong bacanya, sudah nggak sabar nih.”

“Iye… ini juga sudah kilat kok. Nanti segera kalian baca. Oke?”

“Ada hubungannya dengan Laskar Pelangi nggak? Ada Ikalnya nggak? Ada bu Mus nggak?”

“Ampun deh. Pap harus menjawab yang mana dulu nih. Ya sudah, kalian boleh baca. Pap tak mandi dulu!”

Selesai mandi saya minta buku yang mereka baca tadi. Mereka protes, tapi kami sudah bersepakat sebelumnya. Saya selesai mandi, berarti mereka harus menghentikan membaca novelnya.

“Aku di buku ini siapa sih Pap? Soalnya aku baru baca dua bab.. “

“Aku itu si Ikal, dia yang bercerita.”

“Dari awal membaca saja aku sudah terharu membaca kisah keluarga si Enong.”

“Kisah selanjutnya bisa jadi membuat kalian terharu, bahkan menangis!”

“Wah… seru dong kaya’ Laskar Pelangi.”

“Begitulah”

“Tapi Pap, penasaran nih. Ceritakan sedikit tentang si Enong dong. Dikiiit… aja.”

“Iya deh, sedikit saja. Ntar kalau ceritanya banyak-banyak malah ketika kalian membaca bukunya kurang seru. Kisah Enong ini sungguh mengharukan. Ayah Enong yang seorang pendulang timah dengan penghasilan yang tidak tentu memberikan kejutan kepada Enong dengan membelikan kamus bahasa Inggris. Enong yang di sekolah suka sekali dengan pelajaran bahasa Inggris senang bukan main dengan kejutan ayahnya. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Enong mendapat kabar kalau ayahnya meninggal tertimbun tanah saat mendulang timah…”

“Terus… terus…”

“Enong putus sekolah. Ia terpaksa harus bekerja menggantikan tugas ayahnya. Saat itu ia menjadi perempuan satu-satunya di dunia yang menjadi pendulang timah. Tetapi Enong bertekad untuk belajar bahasa Inggris dengan ikut kursus di Tanjong Pandan. Enong tahu, umurnya akan menjadi tantangan paling besar karena dia harus bersaing dengan anak-anak muda. Sudah ah… nanti kalian baca sendiri.”

“Lagi dong Pap…. Oh iya, kalau Ikal sendiri bagaimana?”

Kembali saya letakkan kaca mata plus saya untuk meladeni pertanyaan mereka. “Ikal marah sama bapaknya!”

“Loh..loh… kenapa?”

“Karena dilarang jatuh cinta kepada A Ling.”

“Hwa… ada A Lingnya juga? Terus?”

“Terus apanya?”

“Itu… Ikal sama A Ling pacarannya bagaimana?”

“Di sini Andrea piawai berceloteh. Untung sudah ada film Laskar Pelangi, sehingga kita bisa bayangkan bagaimana wujud Ikal dan A Ling. Oh ya, ketika Ikal dan teman-teman Laskar Pelanginya berdebat mengenai apa itu perayaan ualng tahun kisahnya membuat Pap tertawa. Lucu, sih. Kemudian saat A Ling ulang tahun, Ikal kasih hadiah layang-layang kepada A Ling. Kisah tragis selanjutnya nanti A Ling pergi entah ke mana. Bagian ini pernah diceritakan di buku Laskar Pelangi bukan?”

“Yang Pap ceritakan tadi pada novel pertama, Padang Bulan. Lalu, kalau Cinta di Dalam Gelas bagaimana?”

“Aduh… aduh…. Gini aja deh. Kita buat kesepakatan baru. Malam ini kalian boleh membaca novel ini, besok pagi sampai Pap selesai baca kalian sementara gigit jari. Oke?”

“Yup… tapi sedikit boleh dong dibocorin kisah di buku keduanya?”

“Dasar kalian ini perayu maut. Di buku kedua bercerita banyak tentang Maryamah. Akan mengobati rasa penasaran kalian saat membaca novel Maryamah Karpov dulu itu, siapa sebenarnya Maryamah. Ikal harus membantu Maryamah memenangkan pertandingan catur saat 17 Agustusan. Wis ya… jangan tanya-tanya lagi!”

Kemudian saya lihat mereka mencari posisi wenak untuk membaca buku Dwilogi Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas terbitan Bentang Pustaka bulan Juni 2010 itu.

(Visited 4 times, 1 visits today)