Masih Belajar Membuat Koran


Soeara Padeblogan  

sing sapa tokan-takon wae ora bakal nemu teken  


 Uluk Salam

Sudah menjadi adat kebiasaan manusia di belahan dunia manapun. Akhir tahun akan dimanfaatkan sebagai moment untuk mengacadiri, mereview atawa menilai keberhasilan-kegagalan perjalanan selama setahun ini.
Kejujuran diri dan objektivitas harus menjadi tolok ukur utama dalam mereview perjalanan tersebut, agar di tahun depan menjadi lebih baik, lebih sempurna atawa menyempurnakan yang sudah baik.
Landasan mendasar tetap saja keikhlasan dan rasa syukur. Dengan keduanya, hidup akan lebih bermakna.
 
Mengapa Kyaine?
Sejauh ini saya masih belum menemukan literatur mengenai kapan dimulainya penggunaan istilah Kyai. Dalam budaya Jawa sebutan Kyai pada zaman dahulu tidak hanya menyangkut orang, terutama sebagai sebutan untuk orang-orang yang ditakuti, disegani atau yang memiliki kemampuan ghaib yang tinggi yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya, tetapi juga untuk mengawali sebutan benda yang dianggap bertuah atau mempunyai kekuatan ghaib.
Gus Mus mengungkapkan, istilah “kyai” telah digunakan salah kaprah karena sebenarnya kyai adalah sebuah istilah khas budaya Jawa yang mempunyai makna orang terhormat di tengah masyarakat yang selalu melihat umat dengan mata kasih sayang. Ia menjelaskan, dalam budaya Jawa sebutan kyai pada zaman dahulu tidak hanya menyangkut orang, tetapi juga benda yang dianggap terhormat seperti Kyai Nogososro, sebutan untuk sebuah keris, Kyai Plered sebutan sebuah tombak, dan Kyai Slamet, seekor kerbau yang dikeramatkan. “Jadi sebutan itu memang khas dalam budaya Jawa,” katanya.
 
~oÔo~
 
 Zaman Kerajaan Majapahit dulu ada keris pusaka yang sangat terkenal yang bernama Kyai Sangkelat. Konon ketika Kerajaan Majapahit mulai surut, hiduplah seorang Mpu keris yang sakti mandraguna bernama Jaka Supa. Ia seorang pemuda yang sederhana, namun sangat menyukai bertapa dan kelak atas perjuangan tapa bratanya itu, ia menurunkan pusaka-pusaka yang hebat dan juga menurunkan para Mpu pembuat keris yang handal di tanah Jawa.
Pada masa Kerajaan Demak, tombak Kyai Plered, pernah membuat legenda. Syahdan, dalam suatu pertempuran di tepian sungai, Sutawijaya yang kelak akan menjadi Panembahan Senopati – Raja Mataram Pertama, menusuk perut Arya Penangsang menggunakan tombak Kyai Plered. Perut Arya Penangsang robek dan ususnya terburai. Namun ia masih bertahan. Ususnya itu disampirkan pada pangkal keris pusakanya yang bernama Kyai Setan Kober. Maka, ketika Arya Penangsang mencabut keris pusakanya itu akibatnya usus yang tersampir di pangkal keris tersebut ikut terpotong, sehingga Arya Penangsang pun menemui ajalnya. 

   

Di  Keraton  Surakarta   dan  Yogyakarta,  pada saat perayaan Sekaten (Perayaan Maulid Nabi) selalu dibunyikan dua gamelan keramat. Di Keraton Kasunanan Surakarta mempunyai gamelan Sekaten yang bernama Kyai Guntur Sari dan Kyai Guntur Madu, sedangkan di Keraton Yogyakarta gamelan Sekaten bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogowilogo. Gamelan-gamelan tersebut diletakkan di Pagongan Dalem Masjid Gedhe Kauman untuk dibunyikan.
Kalau Anda pernah berkunjung ke museum kereta Keraton Yogyakarta, akan menemui nama-nama kereta dengan sebutan Kyai atau Nyai, seperti Nyai Jimat, Kyai Garudayaksa, Kyai Jaladara, Kyai Ratapralaya, Kyai Jetayu, Kyai Wimanaputra, Kyai Jongwiyat, Kyai Harsunaba, Kyai Manik Retno, Kyai Kuthakaharjo, Kyai Kapolitin, Kyai Kus Gading, Kyai Puspoko Manik atau Kyai Mondrojuwolo. Kereta Nyai Jimat dan Kyai Garudayaksa dianggap sebagai pusaka yang paling keramat sehingga air bekas siraman kedua kereta tersebut dipercaya dapat memberikan kekuatan tertentu.
Masih di Keraton Yogyakarta. Pusaka berupa keris yang menduduki tempat terpenting adalah Kangjeng Kyai Ageng Kopek. Keris ini hanya boleh dikenakan oleh Sultan sendiri, lambang perannya sebagai pemimpin rohani dan duniawi. Konon, keris ini dibuat pada masa Kerajaan Demak dan pernah dimiliki oleh Sunan Kalijaga.Di Keraton Surakarta, selain pusaka-pusaka keramat, ada seekor kerbau bule yang bernama Kyai Slamet. Menurut kepercayaan sebagian khalayak, “beliau” yang berkulit bule ini keramat juga. Bahkan pada saat mengitari keraton di malam satu Suro, “pup” beliau jadi rebutan orang-orang yang sengaja ngalap berkah.
Kata kyai juga digunakan sebagai nama samaran untuk harimau, jika seseorang akan melewati hutan. Ketika melewati hutan kita pamali menyebut langsung nama harimau/macan, karena harimau dianggap sebagai binatang yang berkuasa di hutan dan sangat ditakuti.
“Mohon ijin Kyaine, saya numpang lewat” demikian kalimat sandi kalau mau masuk atau melewati hutan.
 
 Para Tamu Agung Padeblogan
Kata para bijak bestari, kegiatan silaturahmi akan memperpanjang umur dan memperluas rezeki. Panjang umur di sini berarti umur yang sudah dijatah Gusti Allah akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bukan diisi dengan kegiatan yang sia-sia. Rezeki tidak terbatas kepada harta-benda saja, karena hidup sehat, tenteram, damai hati itu juga bagian dari rezeki. 
Terima kasih sudah sudi singgah di Padeblogan ini.
Untuk mengetahui postingan terbaru para tamu agung tersebut Kyaine memantaunya dari Tamu Agung Padeblogan. Mestinya, Kyaine melakukan up-date secara berkala terhadap nama-nama tamu yang pernah singgah di Padeblogan, tetapi Kyaine sering lupa akibat penyakit fikun yang telah bersemayam nyaman di salah satu selaput otaknya. Untuk alasan ini Kyaine  mohon diampunkan atas segala alpa.
SSTGTBT
 
Tekun mempunyai pengertian mengerjakan sesuatu dengan rajin, ulet dan tidak putus asa atau putus di tengah jalan. Orang yang tekun tidak goyah oleh godaan dan kritikan orang lain yang tidak mendukungnya. Ketekunan terhadap suatu pekerjaan membuat bahagia orang yang mengerjakan. Orang lain yang memperhatikan pun akan ikut senang. Dari sini lama kelamaaan mengundang rasa hormat. Bila perlu banyak orang sanggup membiayai pekerjaan yang ditekuni itu. Kepercayaan umum pada profesi seseorang bisa lewat jalan tekun ini. Pikiran yang kurang cerdas dapat ditutupi dengan ketekunan. Malah banyak orang yang tekun lebih sukses dibanding dengan orang yang cerdas tapi malas.
Teken secara harfiah bermakna tongkat yang digunakan sebagai penegak orang yang sedang berjalan. Biasanya teken dipakai orang yang sudah lanjut usia. Dalam konteks piwulang dan pasemon atau ajaran moral simbolik, kata teken berarti pedoman, petunjuk dan tuntunan hidup. Dapat juga berarti sebagai alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Orang yang mendapat teken adalah orang yang mendapat alat demi mencapai cita-cita hidupnya. Agar mendapat teken seseorang harus tekun. Dengan begitu teken berarti buah dari perbuatan tekun. Bagaimana pun juga ketekunan yang melekat pada diri seseorang, lama-lama orang tersebut akan diakui oleh masyarakat umum. Teken atau fasilitas itu akan didukung oleh publik.
Tekan berarti kesampaian. Tekun, teken dan tekan merupakan deretan kata berjenjang. Siapa yang mau tekun, maka ia akan mendapatkan teken dan ia akan segera tekan atau kesampaian apa yang menjadi idamannya. Proses yang panjang yang harus dilalui seseorang agar sampai pada tekan, penuh onak dan duri, derita, duka dan nestapa yang selalu mengiringinya. Dari laku tekun saja membutuhkan waktu yang tidak pendek, kemudian mendapatkan teken yang bukan berarti halangan dan cobaan usai. Teken yang digunakan itu harus dimanfaatkan secara sebaik-baiknya agar sampai tidak terpeleset. Setelah proses demi proses dijalani, barulah tekan atau berhasil.
 
Tokoh-tokoh
Ada beberapa tokoh yang diceritakan di artikel-artikel Padeblogan, di antaranya Lastri, Marni, Gino, Meksa, yang semuanya adalah cantrik Padeblogan.
Satu lagi seorang tokoh dimunculkan, yaitu RM Ario Trengginas yang akrab dipanggil Denmas. Beliau adalah teman seperguruan Kyaine saat ngangsu kawruh di sebuah pawiyatan ageng di Ngayogyakarta Hadiningrat. Munculnya Denmas bukan untuk mengangkat isu feodal tetapi sesungguhnya ia mewakili sosok yang  demokratis, sekaligus menemani Kyaine yang menghargai pluraritas, semua tersaji dengan cara ringan interesan, bukan untuk menggurui.

(Visited 2 times, 1 visits today)