Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno

Alangkah tepat dan indahnya kalimat yang diukir menjadi judul buku ini. KUANTAR KE GERBANG. Untaian kata yang disusun dan disulam menjadi satu novel kisah cinta Inggit dengan Soekarno. Cinta adalah suatu anugerah dari Tuhan, tetapi cinta sekaligus bisa menjadi misteri, dia datang dan pergi tidak pernah kita ketahui atau direncanakan sebelumnya.

Walaupun Ramadhan KH mengatakan tulisan yang disusun sebagai roman dan bukan sebagai tulisan sejarah, tetap saja kalau kita menceritakan tentang Inggit, tidak akan bisa lepas dari kehidupan bersama Soekarno dan sejarah perjuangan bangsa ini untuk mencapai Indonesia merdeka.

Hampir 20 tahun lamanya Inggit mendampingi Soekarno dalam suka dan duka serta dalam tangis dan tawa.

Apabila kita bertanya kepada sumbernya, yaitu suara sejarah yang abadi, seperti ombak yang selalu menari di lautan lepas sepanjang zaman, apakah suara itu akan menggeram dengan dahsyatnya, seakan mencemooh kita sebagai manusia yang suka menghapus atau melupakan sejarah, ataukah mungkin suara sejarah itu akan menyapa kita dengan lembutnya, seakan sentuhan seorang kekasih, suaranya mendesir merintih halus di antara pepohonan rumpun bambu. Itulah suara sejarah yang tidak pernah berbohong dan tidak pernah mau dibohongi.

Mereka, Inggit dan Soekarno, bersama berjalan mendaki gunung cita-cita, karena mereka tahu di balik gunung itu ada cahaya, dan cahaya itu adalah kemerdekaan, tetapi sayang, takdir mengatakan lain, sebelum mereka sampai di puncak cita-cita, kedua anak manusia itu harus berpisah, penaka sekuntum bunga yang layu sebelum berkembang.

Separuh dari semua prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Ganarsih di dalam “Bank Jasa Nasional Indonesia”, itu adalah ucapan SI Poeradisastra. Ungkapan itu tidaklah berlebihan.

Bukankah Soekarno sendiri mengakui bahwa dia berhutang budi yang sangat besar, utang budi yang tak terlunaskan seumur hidupnya kepada Inggit, beberapa kali Soekarno mengakui hal ini di depan umum, pertama pada 31 Desember 1931, dalam acara penyambutan kebebasannya dari penjara Sukamiskin. Kedua, pada 2 Januari 1932 saat rapat Kongres Indonesia Raya di Surabaya, dan ketiga kalinya di dalam autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams, yang di dalamnya Soekarno mengakui bahwa Inggit Ganarsih sebagai tulang punggungnya dan tangan kanannya selama separuh dari umurnya.

Ibunda Ida Ayu Nyoman Rai, yang mengandung dan melahirkan Soekarno, Bapak Sosro Soekemi yang membesarkan dan mendidik Soekarno, dan di dalam pelukan dan kasih sayang Inggitlah, Soekarno menjadi seorang pemimpin.

Memang benar bagi Soekarno, Inggit tidaklah hanya sebagai seorang istri, tetapi juga seorang ibu, kekasih, dan kawan. Inggit telah menunjukkan dirinya sebagai seorang perempuan. Kata perempuan berasal dari kata “empu” yang artinya orang yang menempa dan membentuk.

Dalam hal ini Inggit bisa disamakan dengan Maria Theresa, istri Rousseau atau Kasturbay, istri Mahatma Gandhi.

Theresa tidaklah memberikan sumbangan pikiran atau teori untuk revolusi Perancis, Kasturbay tidaklah memberikan sumbangan pikiran atau teori revolusi India. Demikian pula dengan Inggit tidak memberikan sumbangan pikiran dan teori untuk revolusi Indonesia, tetapi dengan menunjukkan kasih sayang dan kesetiaan yang tiada goyah kepada suami yang sedang mengalami cobaan dan derita dalam perjuangan. Mereka, Theresa, Kasturbay, dan Inggit mempunyai kesamaan, yaitu berbakti kepada bangsanya.

Inggit menempa Soekarno menjadi pemimpin dan menemaninya di dalam perjuangan untuk mewujudkan cita-citanya menuju Indonesia merdeka, itulah darma hidupnya.

Inggit tidak pernah sekali pun menanyakan, apalagi menuntut suatu hal yang dijanjikan Soekarno dalam surat perjanjian cerai, yang juga disaksikan oleh Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kiai H. Mas Mansoer pada 1942.

Bukankah dahulu pun Inggit mengorbankan dan merelakan harta bendanya berupa rumah atau tanah dan perhiasan untuk dijual atau digadaikan selain untuk keperluan hidup, terutama untuk membiayai perjuangan dan kegiatan politik Soekarno?

Hubungan batin sebagai kawan seperjuangan di antara mereka rupanya masih seperti dahulu. Cobalah simak apa yang dikatakan Inggit ketika Soekarno mengunjunginya pada 1960 di rumah Jalan Ciateul No. 8 Bandung. Sambil memegang bahu Soekarno, Inggit mengatakan, “Kus, ieu baju teh pamere ti Rakyat. Kahade Kus kudu inget, jeung kudu bisa ngajagana, ulah sampe mopoho keun kanu merena [Kus, ini baju adalah pemberian dari Rakyat. Kus harus ingat dan harus bisa menjaganya, jangan sampai melupakan mereka].” Itulah ucapan yang mengandung arti filosofi dan pesan moral yang dalam dari seorang Inggit.

Tidak ada istri Soekarno yang lain, yang mempunyai kenangan seindah Inggit tentang Soekarno, Soekarno pada masa mudanya, ketika dia memimpikan sesuatu yang indah dan agung, Indonesia Merdeka. Di dalam pelukan Inggit dan kasih sayangnya, Soekarno menjadi dan di dalam cintanyalah Soekarno tumbuh. Inggitlah yang berjalan di samping Soekarno, sewaktu dia sebagai satria muda mulai masuk ke dalam gelanggang perjuangan, bercahaya, dan kuat laksana mentari pagi yang keluar dari bukit gunung yang hitam membiru.

Bagi Inggit, apalah arti pengorbanan semua itu, bila dibandingkan dengan revolusi dan kemerdekaan.

“Selamat jalan Soekarno. Selamat jalan Inggit.”

Dalam genggaman tangan dan cahaya Tuhan, kalian dipertemukan kembali dengan cinta.

~oOo~

Dikutip dari catatan Sekapur Sirih Tito Zeni Asmara Hadi dalam buku Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH yang diterbitkan oleh Penerbit Bentang (Maret 2011), setebal 341 halaman + xii.