Jer Basuki Mawa Bea

Dalam penerbangan Jakarta – Jeddah, di kursi A-B-C, saya duduk di kursi C. Kursi A diduduki seorang wanita, sedangkan kursi B ditempati seorang lelaki. Pembicaraan dengan teman sebelah saya dimulai ketika pesawat akan tinggal-landas.

“Pak, bisa minta tolong saya nggak bisa pakai sabuknya.”

Saya pun segera memenuhi permintaannya. Lelaki berjaket itu tersenyum ketika tahu betapa mudahnya menggunakan sabuk keselamatan.

“Turun di mana mas?”

“Jeddah. Baru sekali ini naik pesawat.”

“Nggak apa-apa, saya juga jarang naik pesawat mas. Jadi, saya masih ingat cara pakai sabuknya. Bekerja?”

“Iya, mau jadi sopir. Kalau teman saya ini mau jadi pembantu.”

“Asalnya dari mana, mas?”

“Dari Kuningan.”

“Oo… saya juga punya teman dari Kuningan. Lebe Gede, tepatnya.”

“Di mana itu?”

“Nggak tahu saya.”

Sepanjang perjalanan ia lebih banyak tidur. Terbangun ketika mendapat jatah makan. Selebihnya diam lagi, sehingga saya coba untuk mengajak ngobrol.

“Nanti kalau mau ke toilet bilang saja ke saya mas. Jangan sungkan. Sampeyan kan harus melewati kursi saya. Ngomong-ngomong sampeyan betah juga ya belum ke toilet. Dalam enam jam ini saja saya sudah dua kali ke toilet.”

“Saya tahan saja pak. Kata teman saya susah pakai toiletnya.”

“Ke Jeddahnya rombongan ya  mas?”

“Sembilan orang pak.”

“Kok tertarik bekerja di Arab?”

“Iya, gajinya banyak.”

Pesawat transit di Riyadh selama satu jam. Selain menurunkan penumpang, juga mengisi bahan bakar. Oh, banyak sekali sodara-sodara sebangsa-setanah air kita yang turun di Riyadh untuk memulai atau melanjutkan mengadu nasib di sana.

Sebelum pesawat melanjutkan penerbangan ke Jeddah, kru pesawat memeriksa boarding pass para penumpang. Saya persiapkan sobekan boarding pass, demikian pula teman sebelah. Ketika ia mengeluarkan boarding pass yang terselip di paspornya, sepintas saya lihat kalau teman saya ini mestinya turun di Riyadh.

“Mas, sampeyan mestinya turun di sini.”

“Tapi, kata bos PT (mungkin ini untuk menyebut PJTKI) di Jeddah kok.”

Dan benar saja, belum juga saya lanjutkan omongan saya kru pesawat meminta ia dan teman di sebelahnya turun di Riyadh bersama anggota rombongan yang lain.

~oOo~

Dalam penerbangan Madinah – Jakarta, saya duduk di  kursi A-B-C. Lagi-lagi, saya duduk di kursi C. Sampai Kota Ad Dammam Saudi Arabia (1,5 jam perjalanan dari Madinah) saya masih duduk sendirian, separoh kursi pesawat kosong. Pesawat transit di bandara Ad Dammam, kursi pesawat menjadi terisi semua, termasuk dua kursi di sebelah saya. Kursi A dan B diduduki seorang wanita, diamati lagak dan gayanya, mereka TKW yang akan pulang kampung.

“Pulang umrah ya pak?”

“Iya. Tahu dari seragam batik saya ya. Kalau mbak?”

“Pulang kampung. Ke Sumedang.”

“Sudah berapa lama kerja di Arab?”

“Kira-kira delapan tahun. Ini kepulangan saya yang ke empat. Dapat cuti dari majikan setiap dua tahun.”

Batin saya terusik ketika ia menyebut kata majikan. Dan itu nanti diulang-ulang dalam cerita selanjutnya. Tetapi saya tidak menemukan kata yang pas untuk mengganti istilah majikan, wong nyata-nyata mereka itu majikan, sementara sodara-sodara sebangsa-setanah air kita jadi pembantu rumah tangganya.

“Saya mendapatkan majikan yang baik. Saya ini pulang ke Indonesia juga bareng keluarga majikan. Mereka mau berlibur ke Puncak.”

“Terus mbak nanti akan kembali ke Arab lagi?”

“Iya. Kali ini saya diberi libur dua bulan.”

“Wah.. bawa uang banyak dong!”

“Nggak, seperlunya saja. Gaji saya sudah ditransfer majikan ke ibu saya.”

“Nggak ke suami?”

“Suami saya kerja di Sulawesi. Jadi kuli bangunan. Anak-anak saya ikut ibu saya.”

“Oh… “

“Mbak kok beda dengan wanita-wanita itu?”

Saya menunjuk deretan kursi di depan dan di samping kanan saya, kebanyakan dari mereka bergaya sebagai perantauan yang sukses : memakai jaket bulu yang tebal (ah.. saya bingung, bukankah di Saudi lagi musim panas), berkaca mata hitam ukuran jumbo, dsb..dsb.. pokoknya penampilan mereka njeglek).

“Itu biasanya yang baru pertama kali pulang ke tanah air pak. Biasalah, untuk pamer di kampung. Saya dulu juga begitu. Uang habis begitu saja, lalu balik lagi ke Arab, cari duit lagi.”

“Kalau boleh tahu, mereka itu digaji berapa?”

“Delapan ratusan riyal.”

“Wah… gaji mbak lebih besar dong. Oh iya, di Sumedang punya sawah ya?”

“Alhamdulillah ada beberapa petak. Sekarang bapak saya juga lagi renopasi rumah.”

“Hmm.. ini cerita sukses seorang TKW ya mbak.”

“Mau jadi TKW ongkosnya lumayan mahal pak!”

“Maksudnya?”

“Nanti sampai di Soekarno-Hatta, kami sudah ada penjemput. Kami akan diantar sampai depan rumah. Dua tahun lalu ditarik ongkos tiga ratus sepuluh ribu. Sekarang, nggak tahu berapa ongkosnya. Kalau dapat sopir yang nakal, masing-masing penumpang ditarik lagi ongkos tambahan dua ratus atau tiga ratus ribu per orang. Katanya untuk uang rokok.”

“Memang sekali angkut berapa orang?”

“Ada kali ya, 15 orang.”

“Lha, nanti waktu mau balik ke Arab lagi bagaimana?”

“Saya harus ke PT untuk mendapatkan surat sponsor (ini istilah yang ia gunakan). Kalau tanpa surat itu nggak bisa berangkat ke Arab.”

“Ditarik ongkos?”

“Iya.”

Ia menyebut sejumlah angka, juga prosesi perjalanan ke bandara hingga sampai di tempat tujuan bekerja. Jer basuki mawa bea, jika ingin selamat keluarkan biaya. Saya hanya menduga saja : sebelum mereka mendapatkan majikan di negeri orang, mereka sudah ‘diperas’ oleh majikan-majikan bangsa sendiri. Begitu pun sebaliknya, ketika mereka pulang ke tanah air yang rela tidak rela : dipalak.

Saat proses imigrasi di bandara Soekarno-Hatta mata saya tertuju pada satu billboard ukuran cukup besar bertuliskan “Selamat Datang PAHLAWAN DEVISA”.