Filosofi Telur Asin

Siapapun akan setuju dengan pernyataan kalau telur itu salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa yang lezat, mudah dicerna dan bergizi tinggi. Kualitas telur ditentukan oleh kualitas bagian luar dan bagian dalamnya. Bagian luar dapat dilihat bentuk dan warna kulit, permukaan telur, keutuhan dan kebersihan kulit telur. Sedangkan kualitas bagian dalam dapat ditentukan dari kekentalan putih dan kuning telur, posisi kuning telur dan ada tidaknya noda atau bintik darah pada putih atau kuning telur tersebut.

Untuk menjaga kesegaran dan mutu isi telur, diperlukan teknik penanganan yang tepat, agar nilai gizi tetap baik serta tidak berubah rasa, bau, warna dan isinya. Salah satunya dengan telur asin, yaitu telur utuh yang diawetkan dengan adonan yang diberi garam.

Bagaimana membuat telur asin? Pertama, bersihkan telur dengan mencucinya atau dilap dengan air hangat kemudian dikeringkan. Agar pori-porinya terbuka, amplaslah seluruh permukaan telur. Untuk adonan pengasin, campurkan abu gosok dan garam dapat juga campuran bubuk batu bata merah dan garam. Tambahkan sedikit air ke dalam adonan kemudian aduk sampai berbentuk pasta. Bungkus telur dengan adonan secara merata sekeliling permukaan telur. Simpan telur dalam kuali tanah selama 15 – 20 hari. Usahakan agar telur tidak pecah, simpan di tempat yang bersih dan terbuka. Proses terakhir, bersihkan telur dari adonan bila perlu rendam dalam larutan teh selama 8 hari, lalu direbus.

Telur yang diasinkan bersifat stabil, dapat disimpan tanpa mengalami proses perusakan. Dengan pengasinan rasa amis telur akan berkurang, tidak berbau busuk dan rasanya enak. Tujuan telur direndam dalam ekstrak daun teh agar zat tannin yang terkandung dalam daun teh dapat menutupi pori-pori yang menarik dan bau telur asin yang dihasilkan lebih disukai.

Telur asin – setidaknya menurut saya, mempunyai nilai filosofis yang dapat digunakan dalam menempa kepribadian diri seseorang. Kualitas jasmani dan rohani akan mencerminkan kualitas pribadi seseorang kepada orang lain. Bagaimana cara meningkatkan dan menjaga kualitas pribadi tersebut, sehingga seseorang itu mempunyai pribadi yang tetap baik dan santun?

  • Selalu rutin membersihkan hati dengan mengingat Tuhan, membungkus dengan keikhlasan, kesabaran dan rasa syukur.
  • Selalu menyimpan hati di tempat yang semestinya dan menjaganya supaya tidak terbelah menjadi kemunafikan dan kesombongan.
  • Merendam hati dengan sifat-sifat Tuhan.

Pribadi yang baik dan santun ketika berpikir, bertindak, berjalan, dan berbicara akan membuat orang lain senang dan merasa nyaman. Dia akan memancarkan energi yang baik bagi sesamanya.

(Visited 20 times, 1 visits today)