Elang

aku ingin terbang tinggi seperti elang
melewati siang malam menembus awan
~ Dewa 19 ~

Alkisah, seorang petani menemukan telur elang di dekat dangaunya. Ia membawa pulang telur itu dan disatukan dengan telur ayam yang sedang dierami oleh induknya. Pada waktunya, telur-telur itu menetas termasuk telur elang.

Anak elang setiap hari bergaul dengan anak-anak ayam sebayanya. Tingkah laku dan sifatnya pun meniru anak ayam. Semakin hari tubuhnya semakin besar, dan ia mulai menyadari ia berbeda dengan ayam yang lain, tetapi ia hanya bisa berkata dalam hati bahwa ia sudah ditakdirkan menjadi ayam yang berbeda dari yang kebanyakan.

Suatu hari, ketika ia mencari makan bersama teman-temannya di angkasa ia melihat seekor burung yang mirip sekali dengannya. Tentu saja, karena yang terbang itu adalah burung elang, mengepakkan sayap-sayap perkasanya. Dengan pandangan yang tajam burung elang itu membidik anak kelinci yang ada di sekitar ayam-ayam yang sedang makan itu, lalu dalam sekejap mata anak kelinci sudah ada di cengkeraman cakar burung elang dan dibawa terbang ke angkasa luas.

“Seandainya aku bisa seperti dia!”, kata si Elang anak induk ayam, sambil mematuk seekor cacing tanah.

“Hoiii…. kamu itu elang, bukan ayam, guoblokkk!” teriak cacing tanah kesakitan.

~oOo~

Semoga kita tidak sedang terlambat menyadari bahwa kita sesungguhnya si elang yang perkasa itu.

(Visited 1 times, 1 visits today)