Ekonomi kami tumbuh pesat

Seorang pejabat Negeri Sahabat berkunjung ke kantor Bapak Petinggi kita yang kantornya ada di Jakarta. Ia datang tanpa kawalan mobil atawa motor patroli, sehingga ia datang terlambat.

“Maaf Bapak, saya datang ke terlambat nih! Jalan macet di mana-mana. Padahal hotel tempat saya menginap jaraknya tak sampai sepuluh kilometer dari kantor Bapak.”

Petinggi kita tersenyum ramah. Ia sambut tamunya dengan jabat tangan erat dan tak lupa cipika-cipiki.

“Oh, no problem. Kami sudah biasa terlambat. Kemecetan jalanan ibukota kami, pertanda ekonomi kami tumbuh sangat pesat!”

“Kenapa begitu, Bapak?”

“Tanda kemakmuran rakyat kami. Kalau Pak Mister perhatikan tadi, semua jenis mobil ada di jalanan. Kalau dilihat lebih teliti, satu mobil hanya berisi satu orang. Tahukah Pak Mister, beberapa banyak di antara mereka masih punya mobil lain yang nganggur di garasinya. Rakyat kami kaya-kaya, tak heran pertumbuhan kaum kelas menengah meningkat tajam.”

Pak Mister dipersilakan duduk. Kopi panas tersaji di meja.

“Berapa jumlah kaum kelas menengah, Bapak?”

“Yah… jika ditambah dengan kelas elitnya, biro statistik kami memprediksi lima atawa enam tahun lagi sekitar di angka seratus empat puluh jutaan orang.1 Hmm.. kira-kira bangsa sekitar separoh lebih penduduk negeri ini, deh.”

“Waw… pasar yang menggiurkan bagi negeri kami, Bapak. Tentu kami akan menggenjot ekspor kami ke negeri Bapak.¬†Indikator apa lagi, Bapak, untuk melihat ekonomi tumbuh pesat?”

“Nanti Pak Mister saya ajak berkeliling negeri kami. Sebagai contoh saja, di negeri kami, hampir semua orang punya ponsel. Bahkan kami mencatat, jumlah ponsel di negeri ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk.2 Artinya apa? Satu orang bisa punya dua ponsel atawa lebih. Taruh saja kaum kelas bawah semacam tukang becak, tukang ojek, pedagang keliling, tukang sol sepatu… semua kini pakai ponsel. Termasuk anak-anak TK dan SD.”

“Ck…ck… hebat sekali. Apa ponsel tersebut dimanfaatkan untuk mempromosikan produk yang mereka jual?”

“No…no… Pak Mister. Bangsa kami suka sekali ngobrol ngalor-ngidul. Ponsel itu hanya mereka manfaatkan untuk ngobrol. Tak sayang mereka membeli pulsa, bahkan lebih baik lapar daripada nggak punya pulsa.”

Pak Mister tertegun. Lalu ia angkat bicara lagi.

“Kalau kaum kelas menengah bagaimana? Suka ngobrol juga?”

“Ya… tak jauh berbeda. Cuma beda kelas saja. Mereka tak mau lagi menggunakan ponsel jadul. Mereka menggunakan ponsel pintar, tablet atawa sebangsanya itu.

Indikator yang lain adalah kepemilikan motor!”

“Oh pantas. Tadi saya di jalan lihat banyak sekali orang naik motor!”

“Sekarang jarang kita temui tukang bakso mendorong gerobak. Mereka berganti memakai motor. Mereka yang semula berjualan pakai sepeda kini pakai motor. Mereka yang semula berjualan pakai motor, kini pakai mobil!”3

Pak Mister mengangguk-angguk.

“Tidak hanya itu Pak Mister. Tengoklah mal-mal yang ada di tengah kota4, saban minggu ramai oleh orang berbelanja. Mereka mulai gengsi belanja di pasar tradisional. Beli sayur seikat saja memilih di supermarket.”

Pak Mister bergumam dalam hati: benar deh, termasuk pejabatnya demen banget ngobrol. Banyak bicara.

“Saya dengar, Bapak, banyak juga orang yang antri naik haji ya? Benarkah sampai belasan tahun antrinya?”5

“Ho…ho…ho… ternyata Pak Mister tahu juga masalah ini. Betul. Ini juga menjadi salah satu indikator ekonomi kami tumbuh pesat, bukan? Mereka rela membayar di muka sekitar dua ribu lima ratus dollar Amerika¬† untuk mendapatkan nomor porsi.”

Well. Saya kini mengerti, Bapak. Saking kayanya negeri Bapak, uang negeri telah dikorupsi oleh pejabat-pejabatnya dalam jumlah banyak, kok nggak ada habis-habisnya.”

Bapak Petinggi dadanya membusung.

Bangga.

Catatan kaki:
1Tempo online tanggal 29 Mei 2013: Kelas Menengah Indonesia Akan Melonjak 250 persen
2Detik.com tanggal 21 Agustus 2013: Posisi Indonesia di Percaturan Teknologi Dunia
3Kompas.com tanggal 26 Februari 2013: 94.2 juta Mobil dan Sepeda Motor Berseliweran di Jalanan Indonesia
4Merdeka.com tanggal 31 Maret 2013: Ada 240 Mal dan Pusat Berbelanjaan di Seluruh Indonesia
5Kemenag RI: Rekap Setoran Awal Provinsi