Duka lara Sugriwa

namun kucemburu, kekasihku
terlalu kucemburu
dapatkah kusimpan rasa itu
-ita purnamasari-

Ketika Sugriwa akan memulai kisah sedihnya, lamat-lamat lagu yang dilantunkan oleh Ita Purnamasari itu terdengar di telinga Rama. Bagaimana pun rasa kehilangan Sinta tak sepenuhnya berujud duka saja, namun juga ada rasa cemburu kepada Sinta. Jangan-jangan Sinta menikmati penculikan yang dilakukan oleh Rahwana kepadanya. Siapa tahu setelah sekian lama Sinta berada di Kerajaan Alengka ia memalingkan hatinya kepada Rahwana. Terlalu kejam bayangan di pikiran Rama, kalau saat ini Sinta sedang bersandar di bahu Rahwana, mereka duduk di bangku taman sambil memandang pancuran air di celah-celah taman kerajaan.

“Tidaakkkkk….!!!” seru Rama tanpa ia sadari.

“Ada apa Rama?” tanya Hanoman.

“Ah… tidak. Sugriwa, mulailah bercerita,” sergah Rama.

~oOo~

Aku mempunyai saudara kembar yang sangat aku kasihi. Ia bernama Subali. Aku menyebutnya kakak. Ia seorang ksatria yang sakti mandraguna. Kesaktiannya karena anugerah para dewa yang telah dibantunya. Syahdan, para dewa bermaksud mengaduk lautan untuk mendapatkan minuman yang membuat mereka hidup abadi. Pengaduk yang digunakan tak sembarang jenis pengaduk, namun harus menggunakan gunung Mahameru. Tak ada satu pun dewa yang sanggup melakukannya. Akhirnya, datanglah Subali mengambil alih tugas itu. Dan berhasil. Subali diberi kekuatan tak terbatas oleh para dewa, sehingga membuat Subali sangat sakti.

Selain diberi kekuatan tak terbatas itu, Subali juga diberi kesaktian yang lain. Siapa pun yang bertempur melawan Subali, separoh kekuatan musuhnya itu akan berpindah kepada Subali. Sehingga setiap kali bertempur, kekuatan Subali akan semakin bertambah.

Dibandingkan dengan diriku, Subali lebih tampan. Wajahnya bak rembulan purnama, enak untuk dipandang. Bersinar namun tidak menyilaukan. Subali adalah pimpinan kami. Raja yang kami puja-puji. Raja yang dicintai oleh rakyat Kerajaan Kiskenda. Aku sendiri diangkat menjadi mahapatihnya. Bersama Subali, kami membangun Kerajaan Kiskenda.

Suatu hari, kami kedatangan raksasa jahat yang bermaksud mengobrak-abrik istana kami. Raksasa itu diketahui bernama Mahesasura.

Badannya yang tinggi besar dan wajah yang sangat menyeramkan, ia sengaja mencari Subali untuk ditantangnya bertempur. Saat melihat Subali, dengan tergesa-gesa ia menyerang Subali. Mahesasura kaget, karena merasa kekuatannya tersedot ke dalam tubuh Subali.

Mahesasura tak mau mengulangi kesalahannya. Ia memancing Subali supaya keluar dari istana. Mahasasura terus berlari dan dikejar oleh Subali. Aku dan para petinggi Kerajaan Kiskenda mengikuti ke mana arah raja kami berlari. Ternyata, Mahesasura memasuki sebuah goa yang sangat panjang lorongnya.

Sebelum masuk ke dalam goa untuk mengejar Mahesasura, Subali berpesan kepadaku.

“Kamu tunggu di sini. Aku mau memasuki goa ini dan menghancurkan Mahesasura. Kamu juga awasi mulut goa ini, jaga jangan sampai Mahesasura meloloskan diri!”

Aku mengangguk takzim atas titah raja kami. Aku bersama para petinggi kerajaan berjaga-jaga di mulut goa.

Tanpa terasa dua puluh bulan kami berjaga di depan mulut goa. Selama waktu menunggu itu kami mendirikan tenda dan mengendalikan pemerintahan dari tempat itu. Tak ada pertanda dari Subali hyang berada dalam goa.

“Aku akan masuk ke dalam goa menyusul Kakang Subali,” kataku kepada penasihat kerajaan.

“Jangan masuk. Siapa tahu di dalam sana Subali sudah kalah bertempur, sementara Mahesasura menunggu kedatangan Mahapatih. Kalau Mahapatih ikut tewas, siapa yang memimpin Kerajaan Kiskenda?” bujuk penasihat kerajaan kepadaku.

Aku berusaha nekat masuk ke dalam goa, namun mereka mencegahku. Bahkan mereka menjauhkanku dari mulut goa. Penasihat kerajaan memerintahkan para prajurit menutup mulut goa dengan meruntuhkan bebatuan yang berada di atas mulut goa.

“Terkubur sudah raksasa Mahesasura di dalam goa ini. Ia tak bisa mengganggu kita lagi. Mari kita kembali ke istana, untuk menobatkan Mahapatih Sugriwa menjadi raja Kiskenda,” ujar penasihat kerajaan.

Aku menengok ke reruntuhan goa sebelum meninggalkan tempat itu, menyesali apa yang telah terjadi. Hari itu juga aku dinobatkan menjadi raja Kiskenda menggantikan Subali.

Arkian, bukan Mahesasura yang keluar dari reruntuhan goa, tetapi Subali. Dengan kesaktiannya, ia bisa keluar dari goa yang menguburnya. Ketika sampai di luar goa, tak dilihatnya Sugriwa dan para punggawanya, Subali berang. Ia menduga telah terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh adiknya. Dengan membawa kemarahan yang membara di ujung ubun-ubunnya, ia menuju istananya.

“Jadi kamu mengira bisa menguburku hidup-hidup, Sugriwa?!” teriak Subali sambil mencengkeram leherku.

“Syukurlah kakang masih hidup… ,” kataku.

“Syukur katamu?!!! Dasar pengkhianat. Aku tak mungkin mengampunimu, Sugriwa,” teriak Subali. Ia sangat murka. Ia memukuliku. Melumatku habis-habisan. Tak ada kesempatan menjelaskan kepadanya apa yang sesungguhnya terjadi. Aku terkapar dan pingsan. Tetapi Subali tak berhenti di situ. Ia memang berniat membunuhku. Ketika aku siuman, aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Subali. Aku berlari, dan terus berlari hingga sampai di gunung Matanga ini.

Subali tak berani memasuki wilayah ini karena ia pernah dikutuk oleh Resi Matanga, akibat ia berbuat tidak sopan di wilayah gunung Matanga. Kutukan yang mengerikan: jika Subali berani melangkahkan kakinya di sini, tengkorak Subali akan hancur berkeping-keping. Sejak saat itu, aku minta perlindungan dari Resi Matanga.

Subali kembali ke istana. Ia mengambil kembali tahta Kiskenda, yang memang sebelumnya masih menjadi miliknya, bukan milikku. Tragisnya, dengan cara paksa ia juga mengambil istriku untuk dijadikan istrinya.

Itulah kisah duka laraku, Rama.