Dapat telegram

Pada suatu waktu ketika benda yang namanya ponsel dan sebangsanya belum diciptakan oleh manusia. Waktu itu, untuk berkomunikasi jarak-jauh kebanyakan orang (Indonesia) menggunakan surat, beberapa di antaranya sudah menggunakan telepon rumah/tempat kerjanya.

Tentu saja, kantor pos menjadi tempat yang sangat ramai dikunjungi orang yang mau berkorespondensi. Bagi anak-anak muda, surat-menyurat menjadi aktifitas yang sangat menyenangkan hati, apalagi jika berkabar dengan kekasih atawa sahabatnya. Di sinilah timbul istilah sahabat pena. Saking sering bersurat-suratan, sepasang sahabat pena bisa menjadi sepasang kekasih.

Bagi para perantau, untuk mengabarkan keadaan di kampung halaman atawa sebaliknya, surat menjadi sarana paling jitu untuk menyampaikan berita. Jika berita itu isinya ingin memperkenalkan daerah di mana ia berada, maka kartu pos menjadi pilihan paling pas. Dengan perangko yang paling murah, kartu pos akan diantar sampai di tujuannya.

Jika ingin berkabar dengan cerita panjang lebar, barulah menggunakan surat dengan amplop tertutup. Isi surat sekedar bertukar kabar atawa menawarkan suatu rencana. Waktu pengiriman surat agak lambat juga nggak apa-apa. Namun, ketika ingin kabar tersebut segera diterima dan mendapatkan tanggapan, jenis surat yang dipilih adalah kilat khusus.

Ada satu jenis surat yang bikin deg-degan bagi si penerima yaitu telegram. Surat yang sampulnya biru dengan plastik bening di sisi alamat penerima itu selalu membawa kabar yang mengejutkan. Secarik kertas yang terdapat di dalam amplop isinya singkat dan padat. Ananda cepat pulang, ibu sakit keras.

Selain telegram, panggilan telepon interlokal juga bikin deg-degan. Tetangga yang punya telepon akan datang tergopoh-gopoh ke rumah kita sambil mengabarkan: ada interlokal dari kampung. Bergetar tangan memegang gagang telepon. Di ujung telepon terdengar suara: cepatlah pulang, ibu meninggal beberapa menit lalu.

Enak betul zaman sekarang. Telegram tak laku lagi, sebab teknologi telekomunikasi demikian canggihnya. Telepon selalu ada di genggaman tangan. Sewaktu-waktu ada kabar penting dapat diterima tanpa menunggu jeda.

Kecuali lagi nggak ada sinyal atawa sedang mengalami lobet.

(Visited 1 times, 1 visits today)