Bernyanyi Bersama Anak Kita

Ternyata, secara tidak sadar saya telah meracuni fikiran anak-anak saya dengan beberapa lagu anak-anak. Lagu itu saya dendangkan ketika mengendongnya atau saat bermain bersama dengan mereka. Apakah lagu-lagu itu telah merasuk dalam jiwanya, sehingga mempengaruhi perilaku mereka dalam masa pertumbuhannya? Entahlah. Saya hanya ingin mengajak Anda guyonan kembali (barangkali Anda pernah membaca atau mendengar dari teman mengenai guyonan ini) mengenai beberapa lagu anak berikut ini :

“Nina bobo oooh nina bobo, kalau tidak bobo digigit nyamuk”
Komentar: kasihan ya, mengajak tidur seorang anak dengan nada mengancam

“Bintang kecil di langit yang biru, amat banyak menghias angkasa”
Komentar: memang kalau malam, langitnya berwarna biru?

“Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita…”
Komentar: mau bikin sumur, dalam amat nyangkulnya?

“Di pucuk pohon cempaka, burung kutilang berbunyi. Bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu, mengangguk-angguk sambil bernyanyi tri li li..li..li.. li..li”
Komentar: kutilang itu kalau bernyanyi bunyinya cuit..cuit.. cuit, kan?

“Topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar, bukan topi saya”
Komentar: topi bundar itu yang seperti apa sih?

“Pok ame-ame.. belalang kupu-kupu.., siang makan nasi, kalau malam minum susu”
Komentar : ini jelas lagu milik bapaknya, bukan lagu untuk si anak!

Selamat Hari Anak Nasional, 23 Juli