Banyak anak banyak rejeki

Keluarga besar mBah Kaji Kholik sedang menggelar hajatan akbar memeringati 50 tahun perkawinan Haji Kholik dan Hajjah Romlah. Sebagai sesepuh desa, Haji Kholik memang dikenal dengan nama mBah Kaji Kholik.  Meskipun usianya menanjak ke angka 78, ia masih kelihatan trengginas, bagas-waras, dan daya ingatnya masih kuat. Pun dengan mBah Rom – demikian Hajjah Romlah biasa dipanggil – dalam usia 71 masih gesit dan belum berkaca-mata.

Mereka berputra-putri berjumlah sepuluh orang – mestinya ada 13, tetapi yang tiga miskram – terdiri atas tiga orang laki-laki dan tujuh perempuan. Cucunya ada 36, cicitnya ada 1 dan satu calon cicit masih di kandungan cucu pertama mereka.

mBah Kaji Kholik berwajah sumringah karena hari itu seluruh keluarga besarnya berkumpul, termasuk sanak-kadang (adik-adiknya mBak Kaji dan mBah Romlah, sepupu-sepupunya, ipar-iparnya). Mereka memenuhi tenda yang terpasang di halaman depan rumah. Mongkok betul hatinya, menyaksikan mereka sayuk-rukun.

mBah Kaji Kholik dan istrinya menjadi pengantin lagi. Mereka disandingkan di dampar kencana, di atas panggung setinggi 3o cm. Mereka tak mengenakan baju pengantin. Mereka mengenakan batik kembaran, nampak serasi. Kegantengan mBah Kaji ketika muda dulu seolah muncul kembali di wajahnya. mBah Rom pun demikian. Kecantikan wajah Dewi Sembadra seakan menitis kepadanya.

O la la, lihatlah anak-anak juga cucu dan cicit mBah Kaji dan mBah Rom. Mereka semua berwajah elok, sedap dipandang mata. Tak hanya itu, sebagai pensiunan guru, mBah Kaji Kholik berhasil mengentaskan anak-anaknya dari bangku kuliah. Tentu saja banyak peran mBah Rom dalam keberhasilan itu. Anak pertama mengabdi sebagai guru SMP, yang kedua menjadi dokter spesialis mata, anak ketiga arsitek, keempatnya menjadi pejabat di BUMN, anak kelima menjadi guru SMA, yang keenam lulusan teknik sipil berbisnis bidang kontraktor, ketujuh menjadi saudagar, kedelapannya menjadi seorang manajer HRD di pabrik otomotif, kesembilan menjadi PNS di Departemen Pertanian, dan si bungsu tengah meniti karier di bidang perhotelan.

***

Namaku Sastro Sudiro1, anak kelima mBah Kaji Kholik (kini beliau sudah marhum). Profesiku sama seperti Bapak, menjadi guru SMA. Bedanya, Bapak punya sepuluh anak, sedangkan aku hanya berputra satu. Bukan keinginanku beranak semata wayang2, tapi Gusti Allah memang memberikan rejeki berupa satu orang anak saja. Meskipun satu, menurutku, ini rejeki yang tiada terkira.

Anak titipan Gusti Allah ini tentu saja akan kami (maksudku, aku dan istriku) rawat sebaik-baiknya dan semampu kami. Tahun ini, jika Gusti Allah mengizinkan, anak semata wayang itu akan mengakhiri masa lajangnya. Calon suami dan keluarga besarnya bulan kemarin datang melamar.

Siapa tahu, mereka – anak dan menantu – dikaruniai sepuluh orang anak. Hmm, rumahku bakal ramai oleh celoteh cucu-cucuku.

Catatan kaki:
1Pak Sastro ini pernah dikisahkan dalam artikel Rejeki tak akan ke mana
2Anak semata wayang ini yang mengisahkan Rejeki [c]emas