Arjuna bisa cemburu juga

Woro Sembadra tergopoh-gopoh berlari kecil menuju istana yang ditempati Yudhistira. Ia ingin segera menemui kakak ipar tertua dari Klan Pandawa itu. Ia tak mau lewat pintu utama, terlalu jauh menurut perhitungannya. Lagi pula, ia akan melewati banyak pintu, lebih tepatnya dari pintu ke pintu. Woro Sembadra memilih lewat pintu butulan.

Makjegajik! Tanpa diduga ia bertemu dengan Drupadi yang akan keluar istana lewat pintu butulan itu. Kebetulan. Ia segera menarik tangan Drupadi dan mengajaknya duduk di bawah pohon mangga.

Sembadra menceritakan sikap aneh Arjuna, suami yang sangat dicintainya itu. Kening Drupadi berkerut saat mendengar tuturan Sembadra dan berjanji akan menyampaikan berita itu kepada Yudhistira, suaminya.

***

Rumah tempat tinggal Arjuna berantakan. Kaca dan cermin pecah berkeping-keping. Beberapa tembok retak. Ada gempa bumikah? Bukan. Semua akibat kemarahan Arjuna yang dilampiaskan dengan menghancurkan benda dan barang yang dijumpainya.

Di halaman rumah, Arjuna mendongakkan kepala ke arah langit. Kedua tangannya mengepal tegang, sementara kedua kakinya dalam posisi kuda-kuda yang sangat kuat. Ia berteriak: “Tidaaaakkkkk!!!!”

***

Para dewa dan bathara yang bersemayam di kahyangan ikut bingung dengan sikap Arjuna. Ksatria tengah Pandawa seperti orang yang tengah kerasukan setan. Para dewa pantas kuatir, nekjika Arjuna marah bisa-bisa bumi dihancurkan dengan kesaktiannya.

Bathara Narada – dewa berbadan gempal itu, segera mengambil inisiatif meredakan kemarahan Arjuna. Namun, ia tak yakin apakah mampu mengatasi sikap aneh Arjuna. Maka, ia menemui Ki Semar Badranaya untuk minta pendapat. Ki Lurah Semar menyarankan kepada Bathara Narada untuk melibatkan Adipati Karna, yang tak lain adalah kakang tunggal ibu dengan Arjuna.

***

Setelah melepaskan amarah dengan berteriak, Arjuna menghunjamkan kepalan tangan ke dalam tanah. Bumi sekitar Kerajaan Amarta gonjang-ganjing.

“Oh, kau yang berada di istana Hastinapura sana. Rinduku padamu seperti kumbang membutuhkan kembang. Aduh, dengar irama alam, kumau bunyi detak jantungku bergaung lantang sampai di telingamu. Wahai gadis impianku, ketahuilah, malaikat yang paling cantik di bumi ini cuma kau…”1 ucap Arjuna dengan nafas tersengal. Ia belum juga melepaskan kepalan tangan yang masih tertanam di tanah.

“Namun, kenapa dirimu kini membuatku cemburu seperti ini, wahai Banowati!” gumam Arjuna.

***

Syahdan, Narada bertemu Adipati Karna. Saat itu Karna sedang bercengkerama dengan Surtikanti di teras samping rumah sambil ngrahabi goreng pisang plus teh panas.

“Jadi, tolong kamu temui Arjuna. Bantulah ia keluar dari permasalahannya. Ingat, Karna. Kelak adikmu itu akan tanding denganmu di Padang Kurusetra. Kalau sekarang ia mati bunuh diri, jalan ceritanya akan berbeda. Selamatkan takdir kalian!” titah Narada kepada Karna.

Lelaki yang punya nama lain Suryaputra atau Suryatmojo itu pun menghaturkan sembah.

Karna segera menemui Arjuna, tidak dalam ujud aslinya. Ia menyamar sebagai malaikat cinta. Arjuna menyebut malaikat cantik, tetapi yang datang kok malaikat ganteng.

“Arjuna, apa yang terjadi denganmu?” tanya Karna mengejutkan Arjuna yang fikirannya melayang kepada Banowati, kekasih hatinya.

“Duh, Sang Hyang Kamajaya2 kebetulan Pikulun datang menemui saya. Mohon tolong sembuhkan luka hati saya ini,” rajuk Arjuna. Mata hati Arjuna tak dapat mengenali sosok Adipati Karna. Ia mengiranya sebagai Sang Hyang Kamajaya, sang dewa cinta.

Adipati Karna mengelus punggung Arjuna. Hal ini membuat tenang perasaannya.

“Saya sedang dilanda cemburu berat nih, Pikulun. Banowati tengah mengkhianati cinta saya. Lihatlah foto-foto ini!” Arjuna membuka smartphone miliknya dan memperlihatkan foto-foto Banowati bersama Duryodana dan kedua anaknya, Lesmana Mandrakumara dan Lesmanawati.

Adipati Karna tersenyum. Sebagai orang di lingkaran dalam Hastinapura, Adipati Karna paham betul apa yang sedang dilakukan oleh Raja Hastinapura dan keluarganya. Saat ini, Duryodana sedang menggalakkan program Keluarga Berencana (KB) sebab populasi penduduk di Hastinapura sangat tinggi. Duryodana mengambil peran paling depan dalam program KB tersebut, salah satunya dengan menjadi bintang iklan KB. Foto keluarga harmonis Duryodana-Banowati dan kedua anak mereka tersebar di penjuru kerajaan dengan aneka slogan yang disertakan seperti Dua Anak Lebih Baik atau Ikut KB berarti meningkatkan kesejahteraan keluarga Anda.

Rupanya, foto-foto tersebut telah membuat Arjuna cemburu hebat.

“Cemburumu aneh, Arjuna. Ndak bisa dipungkiri kalau Banowati itu istri sah dari Duryodana. Dunia pewayangan tahu semua tentang kenyataan ini. Tentu saja, Duryodana lebih berhak atas Banowati, wong dheweke kuwi bojone Banowati. Iyo ora?” tanya Adipati Karna sambil menyeringai.

“Tapi, Pikulun…,” suara Arjuna tertahan.

“Tapi opo?” tanya Adipati Karna.

Cinta saya dengan Banowati ingin menyatu terus seperti cintanya Pikulun dengan Dewi Kamaratih,” ucap Arjuna malu-malu.

Dari balik tembok, Woro Sembadra mendengarkan pembicaraan Adipati Karna dengan Arjuna. Gantian Sembadra yang bergolak cemburunya.

Lagu latar: Cemburu by Nino (RAN) feat Raisa

Catatan kaki:
1Dikutip dari hal 115 Malaikat Lereng Tidar karya Remy Sylado.
2Kamajaya adalah anak Semar dan Dewi Sri. Ia disebut sebagai dewa cinta yang elok parasnya. Kamajaya punya istri bernama Kamaratih sebangsa bidadari yang cantiknya sundul langit. Sejoli Kamajaya dan Kamaratih ini tak pernah berpisahan. Salah satu karya sastra lama yang menceriterakan kisah cinta Kamajaya dan Kamaratih ialah buku Smaradahana yang ditulis oleh Empu Dharmaja yang hidup pada Zaman Kerajaan Kediri.

(Visited 19 times, 1 visits today)