Sialria

Jumat, 02 Juli 2010

Rencananya jam 07.00 berangkat ke sebuah kantor instansi pemerintah di bilangan Jakarta Selatan. Selepas shalat subuh, saya tidur dengan harapan jam 06.00 bisa terbangun. Ternyata bablas hingga jam 08.10. Buru-buru mandi dan ganti baju.

Jam 08.30 keluar rumah. Hampir masuk pintu tol Karawang Barat, teringat kalau dompet ketinggalan di rumah. Balik lagi. Untuk sampai ke rumah perlu waktu 15 menit.

Ah, benar saja. Ruas tol Cikarang – Cibitung mulai padat merayap. Sehabis bayar tol di pintu Jatibening, rencana mau lewat Cawang saja, eh.. kok tidak nyadar saya masuk jalur tol dalam kota. Tujuan sya ke Kebayoran Baru, maka saya akan keluar di Pancoran lalu ke Jl. Tendean. Jebul kebablasan, saya keluar Mampang.

Sampai di kantor yang saya tuju, jam tangan menunjukkan angka 10.30. Cari parkirnya setengah mati, sampai empat kali mutar tidak dapat tempat parkir. Keluar areal kantor untuk cari parkiran di luar.

Lantai 11 yang akan saya tuju. Pertemuan dengan staf kantor itu hanya berlangsung 15 menit saja, wong cuma tanda tangan dokumen kontrak, kasih stempel, bawa pulang. Masuk lift, salah. Harusnya lift turun, saya malah naik. Tamba isin, ikutan naik sama orang-orang di dalam lift sampai lantai 16. Keluar. Masuk lift yang lain untuk turun ke lantai dasar.

Target selanjutnya shalat Jumat. Setelah ambil tiket tol di Jatibening, di depan mata terjadi kemacetan total. Putar otak, jumatan di mana. Jam 11.45 keluar tol Cikunir, dengan pertimbangan tidak mungkin mengejar jumatan di rest area Bekasi Timur. Di sekitar Cakung ada mesjid, tapi kanan jalan. Jauh muternya. Saya pacu Kyai SX4 ke arah Bekasi. Jam 11.55. Hampir masuk waktu jumatan. Alhamdulillah melewati sebuah mesjid, ada di sisi kiri.

Rencana selanjutnya tidak masuk tol, takut masih kena macet total. Saya menelusuri jalan ke arah Bekasi Timur. Ampun. Salah jalur, saya melewati terminal Bekasi yang macet. Terus ke arah Tambun, di beberapa titik kena macet. Perut sudah lapar. Saya memutuskan masuk tol Cibitung, nanti mampir makan di rest area tol saja. Cibitung – Cikarang, lalu lintas tersendat.

Perut lapar memaksa saya mampir di rest area KM 40. Wuih, tumben full. Jangan-jangan orang pada mudik dan mampir dulu di rest area ini. Hampir semua restoran padat. Saya masuk ke Solaria.

Di sudut ada meja dengan satu kursi, saya duduk di sana. Lima menit tidak ada pramusaji yang menghampiri meja saja, meja No. 11. Saya panggil kasir, ia datang memberikan lembaran menu. Saya pilih Paket Nasi fillet ikan goreng mentega plus es lemon tea. Mesti panggil kasir lagi. Dihitung, sejumlah Rp 33.000. Bayar di muka. Saya memberikan uang Rp 50.000.

Standar Restoran Solaria berdasarkan pengalaman saya selama ini: dengan segera mereka akan memberikan uang kembalian, lalu menempelkan kertas kecil yang berisi menu pesanan di meja, kemudian tak lama datang minuman, baru makanan.

Tapi Solaria KM 40, beda! Sampai 10 menit belum ada tanda-tanda pramusaji datang ke meja saya untuk memberikan uang kembalian dan menempelkan kertas kecil. Masuk ke waktu 15 menit, belum ada juga. Saya teriak panggil kasir, dan dijawab sebentar lagi. Saya mengamati sekitar. Oh, meja sebelah yang belakangan pesan kok malah duluan dilayani. Pukul 14.15. Datang seseorang berseragam pegawai Solaria ke kasir, sibuk dengan kertas-kertas struk. Ah, siapa tahu dia nanti yang akan memberikan uang kembalian, pikir saya. Ternyata saya salah. Kasir mengambil jaket dari lokernya, lalu mengenakannya. Ow… rupanya pergantian shift kasir.

Saya datangi mereka, dan berkata setengah geram, “Kok lama sekali? Pesanan saya batalkan!” Saya ngeloyor keluar Solaria. Ya, jam 15.00 saya ada meeting. Saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya di meja No. 11, karena tiba-tiba saja lapar saya hilang.

Jam 15.04 saya kirim SMS: Bagaimana kabar dunia narablog? Sedari pagi saya belum buka internet!

(Visited 1 times, 1 visits today)