Pitaloka di Perang Bubat Pilkada Jabar

Paska Perang Bubat yang menewaskan seluruh keluarga pengantin perempuan dari Kerajaan Sunda itu hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada memburuk. Betapa sedih hati Hayam Wuruk, calon istrinya ikut tewas dalam peristiwa Bubat. Duh, Pitaloka mengapa engkau mengalami peristiwa tragis seperti ini. Hayam Wuruk, raja Majapahit itu terus saja meratapi kematian Dyah Pitaloka Citraresmi.

Patih Gajah Mada pun segera lengser keprabon dan memilih menyepi di sebuah tanah perdikan hadiah Hayam Wuruk di Madakaripura (kini Probolinggo, ada pula yang bilang Pasuruan). Aktivitas sehari-hari Gajah Mada dalam melewati hari tuanya, hanya bertapa mohon ampunan Sang Maha Pencipta.

~oOo~

Suatu pagi di hari Anggara Manis (Selasa  Legi) pensiunan Mahapatih Majapahit itu menggeliat dari semedinya. Subuh tadi ia mendapat wisik dan masih sangat jelas terdengar di telinganya, bahwa Dyah Pitaloka turun dari alam keabadian menitis pada seorang perempuan di Tanah Sunda.

Apakah Pitaloka akan menuntut balas terhadapku? Gajah Mada melakukan eka-wicara. Hmm, nekjika ia ingin membunuhku, aku terima dengan lapang dada. Mungkin ini yang disebut utang pati bayar pati.

Gajah Mada menghela nafas panjang. Matanya terpejam lagi. Rupanya ia sedang matek aji ngrogoh sukma. Sebuah ajian yang super canggih. Wadag badannya masih di tempat, namun sukmanya bisa mengembara ke mana ia suka. Dan, Gajah Mada mengembara ke Tanah Sunda untuk menemui sahabatnya.

Kula nuwun Kyaine!”

Kyaine terkesiap mendengar suara yang sudah sangat lama tak didengarnya, ia masih hafal dengan suara bariton itu, tapi sedikit ragu. Benarkah itu suara sahabat lamanya?

“Kakang Mada kah itu?”

Makjegagik…. Tiba-tiba Gajah Mada berdiri di depan Kyaine. Lelaki tampan kelahiran Lamongan itu pun segera memeluk Kyaine. Mereka saling berpandangan dan menyunggingkan senyuman.1

Ah, kenapa Mohammad Yamin melukiskan Gajah Mada demikian jelek? Padahal ketampanan Gajah Mada tak kalah dengan Bung Karno.2 Kyaine berbicara di batin, seperti di sinetron-sinetron itu.

“Kyaine, sampeyan kan tinggal di Tanah Sunda, benarkah Pitaloka hidup kembali?”

“Hidup kembali bagaimana, Kakang?”

Gajah Mada pun menceritakan wisik yang ia dengar dalam semedinya, lalu menutup penuturannya, “Bukan Pitaloka yang secara langsung hadir, namun ia akan menitis pada seorang perempuan di Tanah Sunda ini.”

“Oh, kalau itu yang Kakang maksud, inilah perempuan itu!”

Kyaine mengambil sebuah koran dan menunjukkan gambar seorang perempuan yang mengenakan kemeja kotak-kotak yang didampingi seorang lelaki dengan kemeja yang sama.

“Nama perempuan ini Rieke Dyah Pitaloka. Ia calon rani di Tanah Sunda!”

Kyaine menatap wajah Gajah Mada yang memandangi gambar di koran. Fikiran Gajah Mada melayang ke Lapangan Bubat.

“Mampukah ia menjadi rani di tanah kelahirannya? Apakah sejarah Majapahit yang pernah diperintah oleh seorang perempuan, Tribuwana Tungga Dewi akan terulang di Tanah Sunda? Bagaimana menurut sampeyan?”

Kyaine diam. Ia belum bisa memprediksikan peluang Rieke Dyah Pitaloka menjadi Jabar-1.3

Catatan kaki:
1Persahabatan Kyaine dan Gajah Mada bisa dibaca di artikel Pitaloka.
2Wajah Gajah Mada yang kita kenal di buku-buku pelajaran sejarah adalah lukisan yang dibuat oleh Moh. Yamin, makanya wajah Gajah Mada dibuat mirip dengannya.
3Ke depan saya akan menulis tentang Pilkada Jabar, seperti ketika saya menulis beberapa artikel tentang Jokowi di Padeblogan.

(Visited 1 times, 1 visits today)