Pilih mana atau pilih nama?

Pada puncak musim rambutan banyak pedagang melakukan obral. Harga dibanderol sepuluh ribu tiga ikat, sementara di awal musim ketika orang-orang pada ngiler pengin rambutan sepuluh ribunya dapat dua ikat. Musim rambutan hampir usai, obral masih dilakukan apalagi untuk rambutan yang mulai teronggok layu.

Musim rambutan belum sepenuhnya berlalu, muncul musim kampanye pileg. Aneka model kampanye dilakukan untuk menarik simpati publik. Model kampanye tak jauh berbeda dengan pelaksanaan kampanye lima tahun lalu. Mereka melakukan orasi di lapangan dengan menampilkan dangdut seronok.

Kampanye gaya baru juga bermunculan, tetapi tetap saja bukan kampanye menjual ide. Mereka tetap menggalang massa, tetapi tidak berjoget sambil nyawer sinden dangdut koplo. Mereka menggelar mancing bersama, ngecat rumah-rumah penduduk, blusukan ke pasar dan terminal, bahkan kalau perlu jadi tukang pijit tak mengapa. Lima tahun sekali ini.

Ada juga yang mendatangi kantong-kantong suara potensial dengan rayuan memelas mengetuk hati supaya mau memilih dirinya di pileg tanggal 9 April nanti. Rayuan mereka tak hanya bermodal mulut belaka, namun ada bingkisan kaos, sembako, atau uang jajan bergambar Bedugul Bali.

KPU secara intens melakukan kampanye “jangan golput”, di berbagai media. Belakangan, tak hanya KPU, banyak pihak yang menyuarakan “jangan golput”. Sasaran utama kampanye ini bagi anak-anak muda, terutama bagi mereka sebagai pemilih semula. Sangat mengkuatirkan memang, nekjika jumlah golput lebih banyak daripada jumlah suara yang memenangkan pemilu.

Lalu, kriteria apa yang saya gunakan untuk menentukan pilihan nanti? Paling utama adalah (1) saya harus mengenal caleg yang berada di Dapil tempat tinggal saya. Bagaimana mungkin saya memilih orang yang tidak saya kenal, sementara ia nanti menjadi wakil suara saya di parlemen. Selanjutnya, (2) caleg tersebut jelas rekam-jejaknya. Kalau caleg ini tak punya kapasitas dan kapabilitas buat apa dipilih. Preman kok masuk parlemen, (3) tujuannya apa kok nyaleg segala. Mau nyari kerja?, (4) tidak memasang alat peraga kampanye di pohon atau yang merusak lingkungan atau yang merusak pemandangan dan ketertiban.

Keempat kriteria tersebut tidak bisa ditawar.

Oke, kalau caleg tersebut tak masuk kriteria maka di pileg nanti saya tak memilih nama. Terus, nyoblos gambar partai yang mana? Saya juga punya syarat minimal untuk memilih partai yang mana, yakni partai yang sudah punya pengalaman dan tak ada satu pun kadernya yang terlibat korupsi.

Memang ada?

Hati-hatilah membeli rambutan yang harganya diobral. Bisa jadi, kulit luarnya berwarna kesumba namun daging di dalamnya penuh dengan ulat.

(Visited 1 times, 1 visits today)