Memperebutkan Setyaboma

Setyaboma, sekar kedaton Kerajaan Lesanpura itu sedang galau-galaunya. Jadi orang cantik level sepuluh ada nggak enaknya, katanya. Banyak yang antri untuk menjadi suaminya, tetapi ia sendiri kebingungan memilih lelaki yang mana yang pantas menjadi pelindungnya kelak. Menurut perhitungannya, setidaknya sudah ada tujuh puluh enam lelaki yang mendaftar menjadi suaminya, baik itu lelaki dari kalangan rakyat jelata atau ksatria dari kerajaan di sekitar Lesanpura. Satu dua orang sih menarik hatinya, meskipun ia sendiri tidak mengenal secara dekat para lelaki tersebut.

“mBakyu mesti punya suami yang kuat,” kata Setyaki adik lelakinya.

“Tapi bagaimana caranya untuk mendapatkan suami yang kuat seperti itu, dik?” tanya Setyaboma setengah putus asa.

“Kalau mBakyu setuju, kita adakan sayembara. Siapa yang bisa mengalahkan diriku dalam perang tanding adu kekuatan denganku, dialah yang akan menjadi suami mBakyu. Pripun?” usul Setyaki.

Memang sudah menjadi garis nasibnya, Seytaboma mendapatkan jodoh lewat sayembara semacam itu.

***

Alun-alun Lesanpura sudah dipenuhi penonton yang akan menyaksikan perang-tanding melawan Setyaki untuk mendapatkan Setyaboma. Semua orang penasaran siapa yang bakal menjadi pemenang.

Syahdan, satu persatu peserta sayembara maju ke tengah arena dan dengan mudah dikalahkan oleh Setyaki yang dikenal sebagai ksatria pilih tanding. Bala Kurawa nglurug dari Hastinapura datang juga untuk mengikuti sayembara ini. Sayangnya, mereka kalah di tangan Setyaki.

Tanpa diduga oleh Setyaki dan pejabat Kerajaan Lesanpura, seorang lelaki yang sudah sangat dikenal seantero jagad pemayangan memasuki arena. Lelaki yang mengenakan jubah kebesaran itu adalah Resi Drona, mahaguru para Kurawa dan Pandawa.

Setyaki sejenak merasa gentar namun di dalam hatinya ia tak rela kalau kakaknya menjadi istri Resi Drona. Terjadilah perang-tanding yang sangat seru. Siapa sangka, semua gerakan dan jurus Resi Drona dapat ditangkis oleh Setyaki. Drona terlalu meremehkan kemampuan Setyaki yang usianya jauh di bawahnya. Sebuah kesalahan yang telah diperbuat oleh Drona, ia sangat yakin memenangkan perang-tanding. Apalagi maksud Drona memperistri Setyaboma bukan atas dasar cinta, tetapi ada misi politik. Ia ingin Lesanpura menjadi kerajaan sekutu Hastinapura.

Menjelang senja, Drona dapat dilumpuhkan oleh Setyaki. Ia mengaku takluk.

***

Setyaboma makin galau. Kalau ksatria sekaliber Resi Drona saja bisa dikalahkan oleh Setyaki, lelaki kuat mana lagi yang sanggup menantang Setyaki? Hhh… jangan-jangan aku jadi perawan tua.

Dua hari kemudian, terjadi kehebohan di Kerajaan Lesanpura sebab kedatangan tamu dari Hastinapura yang bermaksud melamar Setyaboma. Bukan sembarang orang yang datang, dialah Arjuna sang Pencari Cinta.

“Aku datang ke sini untuk melamar mbakyumu, Setyaboma!” kata Arjuna congkak.

“Hah! mBakyu Setyaboma akan kamu jadikan istri ke berapa? Langkahi mayatku dulu!” kilah Setyaki.

“Aku bertanding atas nama Mahaguru Drona yang kemarin kamu kalahkan,” ujar Arjuna.

Jidat Setyaki berkerut. Ia tak menyangka ada murid yang demikian berbakti kepada gurunya. Setyaki tak mungkin menarik ucapannya tentang sayembara mendapatkan Setyaboma, maka esok harinya akan dilaksanakan perang-tanding antara Arjuna dan Setyaki.

***

“Kamu harus bisa mengalahkan playboy dari Hastinapura itu!” kata Setyaboma kepada Setyaki, ketus.

“Iya, mbak. Cuma aku nggak yakin bisa mengalahkan Arjuna kalau diajak tanding panahan. Hanya Adipati Karna yang bisa mengalahkan Arjuna. Tapi tetap akan aku coba untuk mengalahkan dirinya,” tutur Setyaki.

Secara diam-diam, Setyaki menemui Prabu Kresna di Kerajaan Dwarawati. Ia ingin bertanya kepada Prabu Kresna bagaimana cara mengalahkan Arjuna.

“Bawalah senjataku yang berupa Kembang¬†Wijayakusuma ini!” titah Prabu Kresna.

Setyaki girang bukan main karena Prabu Kresna berkenan meminjamkan senjata saktinya.

Dan benar saja, keesokan harinya saat dilakukan perang-tanding ia dapat mengalahkan Arjuna dengan sangat mudah. Kekalahan Arjuna membuat keder ksatria yang bermaksud melamar Setyaboma. Mereka mundur teratur tak berani melawan Setyaki.

Setelah berikrar takluk kepada Setyaki, Arjuna memacu kudanya meninggalkan Lesanpura. Kini, aku benar-benar akan menjadi perawan tua. Setyaboma bereka-wicara di depan cermin di dalam kamarnya.

Setyaki masih berdiri di tengah arena. Ia merasakan kegelisahan kakaknya.

“Aku ikut sayembaramu, Setyaki!”

Setyaki terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia putar badannya untuk memastikan siapa yang datang.

“Prabu Kresna? Benarkah engkau ingin menyunting mbakyu Setyaboma? Silakan saja, tak perlu kita bertanding,” ujar Setyaki mencoba mengatasi kegugupannya.

“Tidak bisa begitu, Setyaki. Kamu tak boleh mengistimewakan aku untuk mendapatkan kakakmu. Ayo, kita bertanding!” tantang Prabu Kresna.

Setyaki tak mau disebut sebagai seorang pengecut maka ia terima tantangan Prabu Kresna. Apalagi saat itu ia masih membawa Kembang Wijayakusuma.

Setyaki salah duga. Senjata sakti Kembang Wijayakusuma tak mempan untuk menyentuh tubuh Kresna. Tetapi Kresna tak mau buru-buru melumpuhkan Setyaki, ia ingin mengajarkan banyak jurus kepadanya.

Memang akhirnya Setyaki dikalahkan Kresna dengan mudah. Bagaimana nasib Setyaboma? Tentu saja ia menjadi nyonya Kresna, tetapi menjadi istri ketiga.

Aku rapopo. Bisik Setyaboma kepada saya.