Lepaskanlah beban yang berlebihan

Menarik sekali menyimak kuliah umum RM Ario Trengginas di sebuah kampus kecil yang berdiri di tepi sungai tadi pagi. Sebagai seorang profesional muda, banyak waktu RM Ario Trengginas yang tersita untuk bertemu dengan para relasinya. Tapi kok ndilalah, hari ini beliau bisa mengisi kuliah umum yang diikuti oleh mahasiswa berbagai jurusan itu. Karena rumah Kyaine tidak jauh dari kampus kecil itu, undangan dari mas Dekan kampus kecil bisa ia datangi.

Materi yang disampaikan oleh RM Ario Trengginas berjudul Lepaskan Beban yang Berlebihan. Melalui media power point, RM Ario Trengginas dengan runtut dan gamblang menjelaskan pokok bahasannya.

Slide diawali dengan gambar seorang petani yang berdiri di tengah sawahnya nan luas. Petani itu berkata, “Aku nggak mau bekerja, tetapi banyak pekerjaan menumpuk di hadapanku.” Sampai di sini Kyaine belum paham ke mana arah pembicaraan RM Ario Trengginas. Semua mahasiswa diam, termasuk para dosen dan tamu undangan.

Tiba-tiba saja, RM Ario Trengginas memanggil Kyaine ke depan kelas.

“Sodara-sodara, Kyaine ini karib saya. Terima kasih sudah sudi hadir, Kyaine. Oh iya, perhatikan percakapan saya dengan Kyaine!” Kelas masih hening, tapi hati saya trataban, tidak paham ada skenario apa di balik tindakan RM Ario Trengginas kali ini.

“Kyaine, nekjika sampeyan terus menerus berusaha melakukan berbagai hal sampai sampeyan nggak mungkin lagi melaksanakan semuanya dengan baik, kira-kira apa yang akan terjadi?”

“Tentu saja akan stres, Denmas!”

“Benar Kyaine. Dalam beberapa situasi tertentu ada baiknya kita nggak usah menambah beban pekerjaan, malahan – saran saya, lepaskan beban-beban yang berlebihan.”

“Sepakat Denmas. Tetapi menurut saya nih, kadang kita harus berani melepaskan sesuatu yang baik demi memperoleh sesuatu yang baik. Pripun Denmas?”

“Ya, intinya jangan kemaruk.”

“Saya sudah bisa duduk, Denmas?”

Sumangga kersa, Kyaine.”

Lalu, RM Ario Trengginas menampilkan slide kedua dan seterusnya. Apa yang ditampilkan dalam presentasinya memang pokok-pokoknya, tetapi uraian RM Ario Trengginas sangat banyak disertai dengan berbagai contoh. Sebagian yang saya ingat salah satunya jika kita termasuk golongan orang-orang yang senang mencoba sesuatu yang baru dan cenderung terus menambahnya dengan hal yang lebih baru lagi, maka kita harus berusaha menghentikannya secara bertahap. Harus diingat bahwa manusia itu makhluk yang penuh dengan keterbatasan. Kita tidak mungkin bisa melakukan semuanya, apalagi kalau harus dituntut dengan hasil yang sempurna.

Kuliah umum selesai. Ketika akan berpisah untuk urusan masing-masing saya tanya kepada RM Ario Trengginas.

“Denmas, maksudnya apa tadi kok ndadak minta saya maju ke depan kelas?”

“Untuk melepaskan beban yang berlebihan dan berbagi dengan sampeyan!”

“Dalam hal apa?”

“Dalam hal kegrogian saya, tentu saja!”

RM Ario Trengginas mringis memperlihatkan gigi gingsulnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)