Lastri mulih: OB kesayangan

Nama aslinya Subardi, tapi entah sejak kapan ia dipanggil dengan Gino dan siapa yang pertama kali mempopulerkan nama ini tidak ada yang ingat persis. Belakangan saya tahu, Gino ini singkatan dari gigi nongol – bibirnya kurang bisa mingkem secara sempurna maka akan ada 2 ujung giginya yang nongol. Pada saat guyon atawa berbicara santai saja saya ikutan memanggilnya Gino. Padahal Kanjeng Nabi mengajarkan bahwa memanggil seseorang dengan sebutan yang bagus/baik). Herannya, Subardi senang-senang saja mendapatkan panggilan: Gino, sebuah nama yang ngrejekeni (selalu memberikan rejeki), katanya.

Gino (kadang ada yang memplesetkan dengan genuine) sudah hampir sepuluh tahun menjadi karyawan. Kariernya lumayan cemerlang untuk orang yang cuma lulusan SMP.  Pertama kali masuk ia jadi tenaga harian lepas sebagai penyapu jalan, kemudian dimasukkan ke tim cleaning service, terakhir diangkat jadi karyawan tetap dengan jabatan Pantry Manager alias OB, sebelumnya ia mengikuti ujian persamaan tingkat SMA. Gino ini orang yang cekatan dan cepat menangkap pengetahuan baru. Singkatnya, ia cukup paham apa yang dimaksud istilah SOP, pending matters, review, meeting, internal memo, invoice, SPT, complaint, dan sebagainya. Tidak mengherankan orang kantor suka kepadanya.

Salah satu kepiawaian Gino yang hampir semua karyawan mengakuinya yaitu ia pintar memasak mie instan. Padahal memasak mie instan cuma begitu-begitu saja, bukan? Tetapi di tangan Gino, mie instan itu terasa sangat nikmat.

Itu bisnis sampingan Gino!

Satu piring mie instan (tergantung merk-nya sih) dibandrol antara 2.500 – 3.000 rupiah per porsi, tanpa telur dan tanpa sayuran. Ditambah telur dan sayur menjadi 3.500 rupiah. Dalam dua hari kadang ia bisa menghabiskan 1 dus mie instan. Untung yang tidak seberapa yang didapatkan Gino adalah untuk upah jerih payah memasak saja, karena gas, air dan piring memang disediakan oleh perusahaan.

Dari rumah, ia juga membawa gorengan yang dibuat oleh istrinya seperti tahu isi, tempe tepung, bakwan, dan pisgor. Dalam transaksi ia mengandalkan kepercayaan semata. Gorengan ia hidangkan di meja pantry, kemudian di sebelahnya ia taruh selembar kertas berupa tabel isian: nomor urut, nama, jumlah. Siapa yang mengambil gorengan harus mencatat di kertas itu! Benar-benar dibutuhkan kepercayaan dan kejujuran masing-masing karyawan yang mengambil gorengan Gino.

Lalu, bagaimana sistem pembayarannya? Di setiap hari Senin, karyawan akan dibayarkan uang makan dan transportnya. Nah, Gino akan duduk manis di ujung antrian loket kasir dengan membawa buku catatan hutang. Karyawan yang punya hutang gorengan, akan membayar setelah mendapatkan uang makan/transport tersebut. Gino mencatatnya dengan rapi.

Kenapa Gino masuk dalam sekuel Lastri is back, sih? Ya, iya lah. Gino ini OB kepercayaan dan kesayangan Lastri!

Note: Artikel ini pernah tayang di Oktober 2009.

(Visited 1 times, 1 visits today)