Humor Mahasiswa Jaman Dulu

Pelayan dan Burung Bangau

“Pelayan, mengapa panggang burung bangau ini kakinya hanya ada satu?’ tegur seorang pemburu kepada pelayannya yang baru. Pemburu itu sebenarnya tahu bahwa si pelayan telah mengambil sebelah kaki bangau panggangnya.

Keesokan harinya sang pemburu mengajak pelayannya untuk berburu lagi. Melihat seekor bangau berdiri di tengah sawah, si pelayan dengan tertawa menunjuk ke arah bangau itu, “Tuan, bukankah bangau itu kakinya hanya satu?”

Mendengar hal itu si pemburu tidak berkata apa-apa, tetapi diam-diam dia mendekati bangau itu dan menggertaknya. Karena digertak oleh si pemburu, bangau itu terbang. “Nah, lihat tuh! Bangau itu kakinya dua sekarang, mengerti!!!” ujar si pemburu dengan geram.

Tetapi si pelayan tidak kehabisan akal dan langsung menjawab, “Mengapa bangau yang di atas meja kemarin tidak Tuan gertak saja, agar ia mau mengeluarkan kakinya yang satu lagi?!”

~oOo~

Sakit Mata dan Telinga

Ada seorang Indonesia pergi berobat ke Paris. Ia hendak memeriksa mata dan telinganya yang dianggap sakit.

Setelah sampai di Paris ia langsung pergi ke dokter mata, ternyata dokter itu tak menemukan penyakit apa pun dalam mata dan kuping orang Indonesia.

Lalu si dokter bertanya, “Coba ceritakan apa yang sebenarnya Saudara rasakan bila mata dan telinga saudara sakit!”

Jawab si pasien, “Selama di negeri saya selalu terjadi apa yang saya lihat, tidak sama dengan yang saya dengar.”

Dua humor di atas dapat ditemukan di buku Humor Mahasiswa (Baru) oleh Prof. Dr. James Danandjaja terbitan Pustaka Sinar Harapan (1990). Rasanya, buku ini dulu menjadi buku wajib yang harus dibaca, apalagi kalau bukan sebagai bahan guyonan jika berkumpul dengan teman-teman. Bahkan saya bisa menghafal setiap humor yang disajikan dalam buku ini, terutama humor-humor yang bergenre saru. Saking beberapa kali saya mengkhatamkan buku ini, sampai-sampai kondisinya sedemikian lecek bentuknya.

Sebelum menjadi buku Humor Mahasiswa (Baru) semula berjudul Humor Mahasiswa Jakarta yang terbit dalam dua buku, lalu James Danandjaja melakukan perbaikan dan menyatukan dua buku tersebut menjadi Humor Mahasiswa (Baru). Siapa yang tidak mengenal James Danandjaja? Ia lahir dengan nama James Tan, memang pakar dongeng dan ilmu dongeng. Resminya, profesor emeritus alias guru besar ini adalah ahli folklor, cabang ilmu antropologi yang mempelajari berbagai bentuk kebudayaan yang diwariskan turun-temurun secara lisan. Oleh karena itu, kecuali dongeng, ilmu folklor juga mempelajari berbagai warisan tradisi lisan lain, sejak teka-teki, legenda, mite, sampai busana dan arsitektur tradisional.

Ribuan naskah dongeng, teka-teki, cerita humor, sampai permainan rakyat juga dikumpulkannya selama lebih dari 30 tahun ia mengajar di Jurusan Antropologi Universitas Indonesia. Setiap mahasiswa peserta kuliah folklor ia tugasi mengumpulkan cerita rakyat apa saja. Humor-humor dalam buku ini juga “bantuan” dari para mahasiswanya.