Dongeng ibu

Waktu itu listrik belum juga masuk ke kampungku. Menjelang maghrib anak-anak sudah harus masuk rumah, takut dicaplok oleh Bethara Kala yang sedang mengitari bumi mencari santapan makan malam berupa anak manusia. Aku patuh betul dengan dengan larangan ini – juga teman-teman sepermainanku, tentu saja – tak akan berani berada di luar rumah, setidaknya hingga waktu shalat isya.

Dan ketika bulan purnama datang itulah kegembiraan. Segenap warga desa akan keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan. Pun dengan ibuku. Ia akan menggelar tikar mendong hasil kreasi anyaman tangannya di depan rumah.

“Kali ini engkau tak usah bermain dengan teman-temanmu. Ibu ingin mendongeng,” ujar ibuku dengan ancaman manisnya.

“Ibu akan mendongeng tentang apa?” tanyaku.

“Lihatlah bulan bundar di atas sana. Cantik sekali bukan? Amati lebih lama. Apa yang engkau lihat di wajah bulan itu?” ibu balik bertanya.

Aku pandangi bulan bundar dengan penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum ketika telah menemukan jawabannya.

“Ada seekor kelinci di sana,” jawabku mantap.

“Benar, Nak. Ibu akan mendongeng tentang kelinci yang ada di bulan itu. Kini dengarkan dongeng ibu,” kata ibu sambil menyelonjorkan kakinya, hingga aku bisa berbaring di atas kakinya sambil memandangi bulan.

Ibu mulai mendongeng.

Arkian,  Dewi Bulan turun ke bumi menyamar menjadi seorang pengemis tua. Ia ingin menguji kebaikan hati tiga binatang yang tinggal di pinggiran hutan, yakni monyet, rubah dan kelinci. Ketiga binatang ini hidup rukun dan damai. Mereka tinggal bersama.

Sang pengemis tua berjalan tertatih dibantu oleh tongkat kayu yang sudah rapuh. Ia mendatangi para binatang itu sambil berkata kalau ia sangat lapar dan membutuhkan makanan dan minuman. Ketiga binatang itu jatuh iba menyaksikan keadaan pengemis tua.

Monyet segera melompat dari dahan ke dahan, begitu kembali lagi ia sudah membawa banyak sekali buah-buahan. Rubah tak mau kalah, ia segera berlari ke arah kolam. Ia kembali membawa air dan umbi-umbian yang ia gali dari tepi kolam.

Melihat kedua temannya membawa makanan untuk pengemis tua, kelinci sedih hatinya sebab ia tak bisa memberikan apa-apa untuk pengemis tua yang kelaparan. Ia tak punya kemampuan seperti monyet dan rubah dalam mengumpulkan makanan dalam waktu cepat.

Ia beranjak dari tempatnya. Pandangan kedua temannya dan sang pengemis mengikuti langkah-langkah kelinci. Tak lama kemudian, kelinci itu kembali dengan membawa seonggok ranting kering. Pergi lagi, dan kembali membawa seonggok ranting kering. Demikian berulang-ulang. Setelah ia rasa cukup, ia tumpuk ranting-ranting kering itu dan ia menyalakan api. Maka terbakarlah onggokan ranting tersebut.

“Nenek pengemis, aku tak bisa membantumu memberikan makananan dan minuman seperti kedua temanku ini. Aku akan membakar diri di api unggun ini. Apabila dagingku matang nanti, santaplah dagingku itu untuk mengenyangkan perutmu yang lapar,” ujar kelinci sambil bersiap meloncat ke dalam api.

Hup! Sebagian tubuh kelinci sudah masuk ke dalam api, namun dengan gerakan cepat pengemis tua menangkap tubuh kelinci. Pengemis tua berubah ujud menjadi Dewi Bulan yang jelita. Ia terkesan dengan pengorbanan kelinci, lalu membawanya pulang ke bulan.

Monyet dan rubah sangat kehilangan sahabatnya itu, namun Dewi Bulan berjanji kepada mereka kalau saban purnama mereka dapat melihat kelinci yang berada di bulan. Janji itu selalu ditepati oleh Dewi Bulan.

“Lihatlah di bulan itu, ada kelincinya, bukan?” tanya ibu setelah mengakhiri dongengnya.

Aku memutar kepala sambil mereka-reka bentuk kelinci yang ada bulan yang tengah bersinar itu. Betul kata ibu, ada kelinci di sana.

“Kalau engkau ingin membantu orang lain, tirulah perilaku binatang-binatang yang ada di dongeng ibu tadi,” ucap ibu.

Sampai sekarang aku masih penasaran, apa yang dilakukan oleh kelinci di bulan sana?