Arjuna mendapatkan tugas baru

Kelanjutan dari Niwatakawaca Meminta Supraba

Para dewa gelisah menunggu kabar dari Supraba yang kini tengah berada di Kerajaan Manikmantaka. Gagal atau berhasilkah misi Supraba untuk mendapatkan informasi tentang kelemahan Niwatakawaca? Bathara Guru segera mengambil Plan B. Ia menyuruh Bathara Narada untuk menemui Arjuna dan membujuknya agar sudi mengalahkan Niwatakawaca.

Arkian, Arjuna tengah bertapa di Gunung Indrakila ketika Narada turun ke bumi. Tanpa basa-basi ia bangunkan Arjuna dari tapanya.

“Ini perintah dari Bathara Guru, Jun. Kalau kamu berhasil mengalahkan Niwatakawaca, kamu akan mendapatkan Supraba. Itu loh putrinya Bathara Indra yang terkenal sangat cuantik,” ujar Narada dengan suara sengau yang sangat khas.

Cleguk! Terdengar suara aneh dari tenggorokan Arjuna.

“Iya, ya. Saya menyanggupi mengalahkan Niwatakawaca, Pikulun!” sembah Arjuna.

Arjuna segera turun gunung. Ia mampir warnet untuk mencari informasi sisik-melik orang yang bernama Niwatakawaca di dunia internet. Dengan kata kunci Niwatakawaca ia ketikkan ke papan tulis milik Kyai Gugel.

Prabu Niwatakawaca termasuk golongan raksasa. Nama kecilnya Nirbita, anak dari Prabu Pracona, raja Kerajaan Gowabarong. 

“Pracona? Bukankah ia yang tewas dalam perang tanding melawan keponakanku, Gatotkaca di Suralaya? kata Arjuna bereka-wicara.

Ia kembali berselancar di dunia maya. Sungguh terkejut ketika ia mendapatkan kenyataan betapa saktinya Niwatakawaca.

Niwatakawaca sejak muda suka bertapa dan mencari ilmu kesaktian. Maka ia pun menjadi sangat sakti, bahkan tidak dapat mati. Ia kawin dengan Dewi Sanjiwati, berputra dua yakni Nilarudraka dan Mustakaweni.

Setelah dirasa cukup mendapatkan informasi tentang Niwatakawaca, Arjuna segera berangkat ke Kerajaan Manikmantaka, tak lupa ia membawa senjata andalannya, panah Pasopati.

***

Sementara itu, Supraba tengah sibuk berada di dapur istana Manikmantaka. Ia menyelidiki bagaimana cara para emban istana menyajikan makanan bagi rajanya. Hmm, ternyata prosedurnya sangat rumit dari pemilihan bahan makanan hingga layak tidaknya disajikan di meja makan sang raja.

Quality control-nya sangat ketat. Memang sangat tidak mungkin bagi Supraba untuk menyelundupkan sebutir gabah lalu menaruhnya di makanan raja. Supraba memutar otaknya, tetapi ia mempunyai waktu yang sangat terbatas.

Supraba ingat kata Prabu Niwatakawaca tempo hari, kalau dua hari lagi ia akan menggelar pesta perkawinan dengan Supraba! Ia punya dua pilihan: membunuh Niwatakawaca atau menjadi istri Niwatakawaca.

bersambung…